News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

2 Kunci Pembelajaran Mendalam Berhasil: Siswa Gembira dan Mandiri

2 Kunci Pembelajaran Mendalam Berhasil: Siswa Gembira dan Mandiri

Para siswa saat mengikuti pembelajaran [Arief Akbar/shutterstocks]


SEJAK dilantik menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mulai mendorong pendekatan baru dalam pembelajaran yang disebut “pembelajaran mendalam”. 

Pendekatan ini bertujuan untuk mengatasi pembelajaran yang selama ini dianggap kurang efektif, sekaligus menyempurnakan Kurikulum Merdeka (KM), dan meningkatkan mutu pendidikan. 

Kemdikdasmen mengartikan pembelajaran mendalam sebagai “pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.” 

Untuk mewujudkan hal ini, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) mengeluarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025. Panduan ini menjelaskan tiga tahap pengalaman belajar PM, yakni: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. 

Prinsip-prinsip PM ini kemudian diwujudkan melalui mindful learning (berkesadaran), meaningful learning (bermakna), dan joyful learning (menggembirakan). 

Panduan tersebut juga menyebutkan bahwa prinsip-prinsip PM bisa diterapkan secara terpisah dan tidak harus berurutan. Artinya, guru dapat menyesuaikan dengan kebutuhan kelas. 

Sebagai contoh, suatu tahap belajar bisa lebih menekankan kesadaran terhadap proses berpikir. Sementara dalam tahap lain berfokus pada pengalaman belajar yang bermakna, dan pada tahap yang berbeda menumbuhkan suasana menggembirakan. 

Namun, kami berpendapat bahwa ketiga prinsip tersebut saling melengkapi sehingga dapat dihadirkan secara terpadu dalam setiap tahap pengalaman belajar. Sebab, proses pembelajaran yang berkesadaran dan bermakna adalah prasyarat agar pembelajaran menjadi menggembirakan. 

Kegembiraan dalam belajar muncul karena siswa menyadari bahwa potensi dirinya terpenuhi, memiliki kendali, serta memahami makna dari setiap tahap pembelajaran. Jika hanya satu prinsip yang diterapkan, hasil belajar cenderung dangkal. 

Contohnya, pembelajaran bisa saja berhasil menumbuhkan keingintahuan siswa terhadap pengetahuan baru. Namun, jika tak dekat dengan keseharian ataupun tanpa pengalaman yang menggembirakan, proses belajar bakal terasa kering dan membosankan. 

Cara mewujudkan pembelajaran mendalam

Pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum, melainkan suatu pendekatan pembelajaran. Akar pendekatan ini sudah lama ada dalam sistem pendidikan Indonesia. 

Misalnya, lewat Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM), maupun Contextual Teaching and Learning (CTL) (pengajaran dan pembelajaran kontekstual). 

1. Prinsip-prinsip pembelajaran mendalam tidak dapat hadir sendiri-sendiri 

Prinsip-prinsip pembelajaran mendalam menjadi dasar lahirnya self-regulated learning (SRL), yakni kemampuan siswa mengatur pikiran, perasaan, dan tindakan secara mandiri untuk mencapai tujuan pembelajaran. 

Seorang siswa membaca puisi di depan teman-temannya. (Maldiman Sukri/shutterstock)


Jika penerapannya terpisah-pisah, siswa bisa saja cuma mengetahui teori tanpa mengaitkannya dengan pengalaman nyata. 

Dalam materi penulisan puisi, misalnya, besar kemungkinan yang terjadi adalah siswa hanya menghafal jenis-jenis dan tujuan penulisan puisi. Tanpa pembelajaran mendalam, siswa justru berisiko tak bisa memaknai puisi atau bahkan menuliskannya. 

Namun, jika proses belajar dilakukan dengan sadar dan bermakna sekaligus, siswa bisa menulis puisi dengan tema dan tujuan yang lebih relevan dengan diri mereka sendiri. 

2. Kegembiraan adalah hasil belajar, bukan titik awal

Kegembiraan dalam belajar bisa muncul dalam bentuk affective joy. Kegembiraan ini datang ketika siswa mendapati banyak teman sekelas juga menulis puisi untuk mengungkapkan perasaan. 

Emosi ini juga bisa berbentuk kognitif—cognitive joy: misalnya siswa berhasil mengidentifikasi tujuan puisi karya penyair favorit. 

Ada pula joy of skilled performance, yaitu rasa puas ketika berhasil menguasai keterampilan baru. Misalnya, ketika siswa berhasil menulis sebuah puisi dengan tema dan tujuan yang selaras dengan aspirasi diri. Kegembiraan ini lebih otentik karena lahir dari dukungan untuk otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan rekan sekelas. 

Untuk mencapai itu semua, guru perlu menggunakan metode-metode pembelajaran aktif yang mengutamakan keterlibatan siswa seperti pembelajaran berbasis projek, permasalahan, inkuiri, studi kasus,  penemuan, hingga pembelajaran kooperatif. Guru juga perlu mempersiapkan pernyataan dan/atau pertanyaan pemantik untuk memicu minat belajar siswa. 

Salah satu teknik yang efektif adalah think-pair-share (TPS). Langkah-langkahnya, siswa bekerja berpasangan lalu guru mengajukan pertanyaan pemantik. Contohnya: Mengapa Langston Hughes menulis puisi Dreams—pesan apa yang ingin ia sampaikan tentang peran mimpi dalam hidup? 

Siswa kemudian menyiapkan jawaban masing-masing. Setelah selesai, siswa dapat bergantian menyampaikannya pada pasangan masing-masing. Guru juga dapat merangsang sejumlah siswa untuk menyampaikan jawaban ke seluruh warga kelas. 

Dengan cara ini, siswa bisa merasakan kegembiraan emosional karena saling belajar. Kegembiraan kognitif juga dapat timbul karena menguasai materi, sekaligus kepuasan karena kemampuan mereka semakin berkembang. 

3. Guru: Aktor utama pembelajaran mandiri 

Street Fhotography/shutterstock


Sebagai “agen” yang membantu siswa, guru perlu lebih memahami dan menerapkan metode-metode pembelajaran aktif saat mengajar. 

Kemdikdasmen dapat mendukung guru dengan menyediakan contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan modul ajar, video praktik pembelajaran berbasis RPP atau modul ajar, serta analisis penerapannya. 

Selain itu, untuk memperkuat penerapan metode pembelajaran aktif, guru juga dapat menggunakan fase-fase SRL, yaitu: 

  1. Perencanaan: menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan memberi ruang otonomi siswa.
  2. Pelaksanaan: memantau keterlibatan siswa sekaligus menggunakan strategi untuk menguatkan metakognisi mereka.
  3. Refleksi: mengevaluasi strategi pengajaran dan memperbaikinya secara berkelanjutan. 

Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya bisa belajar mandiri, tetapi juga membangun kemampuan belajar sepanjang hayat. 

Sumber Artikel: theconversation

Tags

Daftar

Ikuti Perkembangan Artikel/Berita terbaru dari sukabumiNews.

Post a Comment