News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook oleh Trump Berdampak pada Rupiah dan SBN?

Pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook oleh Trump Berdampak pada Rupiah dan SBN?

Gubernur The Fed Lisa Cook menyatakan akan menggugat Presiden Donald Trump setelah upaya pemecatannya.(Istimewa)


sukabumiNews.net, JAKARTA – Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memecat anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook, terkait dugaan kecurangan hipotek menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan global maupun domestik, termasuk Indonesia. 

Dia menjelaskan, melemahnya dolar AS secara global umumnya mendukung penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Namun, lanjut Josua, terdapat tail-risk berupa kekacauan hukum dan politisasi bank sentral AS, yang dapat meningkatkan volatilitas pada aset berisiko. 

Dengan demikian, ia menyampaikan bahwa meskipun pelemahan dolar memberikan sentimen positif awal bagi rupiah, hal ini dapat tertahan oleh melebar-nya bid-ask spread di tengah meningkatnya risiko akibat pemberitaan negatif. 

"Artinya, dukungan dolar AS yang lebih lemah bisa tertahan oleh bid-ask yang melebar saat headline-risk muncul. Reaksi awal dolar yang melemah menunjukkan angin-sisi positif bagi rupiah, tapi tidak menghapus potensi sentakan risk-off bila konflik hukum memanas," ujarnya kepada VOI, Selasa, 26 Agustus. 

Selain itu, Josua menyampaikan, fenomena steepening pada kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi menular ke pasar negara berkembang. 

Menurutnya, obligasi bertenor panjang seperti 10 tahun hingga 30 tahun lebih sensitif terhadap kenaikan premi risiko jangka panjang maupun institusional, sementara tenor pendek hingga menengah diuntungkan oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed. 

"Impalikasinya adalah kurva SBN berpotensi men-steepen yield 2-5 year relatif tertahan/menurun tipis, sedangkan 10-20 Year lebih rentan naik/lepas terutama jika tarik-menarik wewenang The Fed berlarut," tuturnya. 

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap fokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengelolaan term-premium di pasar SBN dengan akan menggunakan instrumen kebijakan yang pro-pasar untuk meredam volatilitas yang berasal dari pasar global. 

Dia menjelaskan, apabila pelemahan dolar AS terjadi tanpa disertai eskalasi risiko, ruang bagi BI untuk menjaga likuiditas dan melanjutkan bauran pelonggaran secara terukur masih terbuka, namun sebaliknya jika volatilitas global meningkat, BI kemungkinan akan kembali mengutamakan stabilitas melalui intervensi di pasar valas (FX smoothing) dan pengelolaan aliran portofolio, setidaknya hingga tekanan eksternal mereda. 

Josua menyampaikan perkembangan ini memiliki dampak nyata terhadap kepercayaan pasar, namun bersifat dua sisi yaitu di satu sisi, pelemahan dolar AS dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter mendukung aset di negara berkembang. 

Di sisi lain, ia menyampaikan akan ada kekhawatiran terhadap menurunnya independensi The Fed menambah premi risiko institusional, khususnya untuk aset berjangka panjang. 

"Untuk Indonesia, implikasi langsungnya adalah rupiah cenderung ditopang oleh dolar AS yang lebih lemah, sementara kurva SBN berpeluang men-steepen dengan volatilitas yang lebih tinggi," pungkasnya. (SN/VOI)

BACA Juga: Lisa Cook Gugat Trump Atas Upaya Pemecatan dari Dewan Gubernur The Fed

Tags

Daftar

Ikuti Perkembangan Artikel/Berita terbaru dari sukabumiNews.

Post a Comment