Breaking
loading...
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts

Thursday, June 6, 2019

Redaksi sukabumiNews

Mak Eyoh Hidup Sebatangkara, Memimpikan Tinggal di Rumah yang Layak

Hidup di bawah garis kemiskinan memang sangat menyedihkan, apa lagi jika tinggal sebatang kara di usia yang sudah tua.

sukabumiNews, LEMBURSITU – Mak Eyoh, warga asal Kampung Bangsanaya, RT.003 RW.007 Kelurahan Situmekar Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat, harus mengalami nasib serupa. Di usianya yang sudah senja, ia hidup sebatangkara dan hanya ditemani lima ekor kucing peliharaannya.

Meski begitu, Mak Eyoh tidak meyerah menjalani hidup. Ia mampuh berusaha untuk bertahan, meski harus terkopoh-kopoh berkeliling berjalan kaki sekauh 4 sampai 5 kilo meter sambil menggendong bakul nasi berisi sayuran yang dia beli dari pasar untuk dijual kembali ke setiap rumah demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Cukup jauh jarak yang harus ditempuh bagi wanita seusia Mak Eyoh yang lebih dari 70 tahun ini. Meski tidak banyak yang Ia jual, karena selain modalnya yang minim, Mak Eyoh juga terkendala dengan keadaan fisik. Di usianya yang sudah melemah tidak mungkin kuat untuk membawa beban terlalu berat. Aktivitas seperti inilah yang Mak Eyoh lakukan setiap hari.

"Dari hasil jualan ini saya mendapat keuntungan sebesar Rp20 ribu dari modal sebesar Rp30 ribu. Dari Modal Rp30 ribu ini rata-rata kembali jadi Rp50 ribu,” ujar Mak Eyoh kepada sukabumiNews saat ditemui di rumahnya, Kamis (6/6/2019).

“Itupun jualannya jarang habis, sisanya suka dibawa pulang kembali," tutur Mak Eyoh. 
Mak Eyoh tinggal di gubuk bilik berukuran 2x 3 meter dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Pantauan sukabumiNews, di gubuknya hanya tersedia sebuah kasur kapuk yang sudah using. Dindingnya pun penuh tambalan kain dan plastik yang dipasangkan untuk menahan angin yang berhembus dari bilik yang terlihat bolong-bolong.

Keberadaan seperti ini dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan dan keslamatan Mak Eyoh, karena selain sudah tua, gubuk kediaman ia pun terlihat hampir ambruk lantaran tiang penyangganya sudah keropos termakan rayap dan termakan usia.

"Kainnya sengaja saya pasang di dinding, karena kalau malam suka dingin, angin masuk dari sana," ucapnya dengan air mata berlinang, sambil menunjuk kain yang menempel di dindingnya yang penuh dengan lubang-lubang kecil.

Ia menjelaskan dirinya mendiami gubuk yang dulu dibuatkan oleh beberapa orang warga yang merasa iba kepadanya lantaran Ia tidak mempunyai suami dan anak untuk membantu kehidupannya. Entah sudah berapa lama Ia mendiami gubuk yang dibuatkan oleh tetangganya tersebut.

"Sudah lupa kapan gubuk ini dibuat, tetangga yang bikin karena saya tidak punya siapa-siapa, kadang suka sedih, tapi saya pasrah aja," ngkap Mak Eyoh, haru.

Yang jelas, tambah Dia, hampir seperempat usianya ia tinggal di gubuk itu. Mak Eyoh juga, menyatakan bahwa dirinya sempat memimpikan untuk bisa tinggal di rumah yang layak seperti masyarakat lain pada umumnya, sebab kata dia, jika malam tiba, apalagi jika turun hujan, rasa dingin selalu menusuk kulit yang sudah tak mampu lagi menahan cuaca dingin.

"Tapi Apa daya karena memang kenyataannya seperti ini, Cep,” keluhnya seraya menyebut kepada wartawan yang mewawancarai dengan panggilan Acep.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Monday, June 3, 2019

Redaksi sukabumiNews

Tak Mampu untuk Biaya Operasi Anaknya, Bayi Penderita Virus Hidrocefalus Asal Pamuruyan Ini Kepalanya Semakin Membengkak

Perlu perhatian Khusus dari Pemerintah dan Dermawan terkain kondisi balita 6 bulan Penderita Hidrocefalus dan keluarganya ini

sukabumiNews, CIBADAK - Muhamad Fauzan Renaldi, bayi berisia 6 bulan, asal Kampung Cinyocok Rt. 004/008 Desa Pamuruyan Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini kondisi kepalanya semakin membesar lantaran mengalami pembekakan akibat terkena Virus Hedrocefalus sejak lahir.

Reni Damayanti (23) Ibunda Muhamad Fauzan menuturkan, awalnya, saat usia anaknya masih berusia 8 bulan di dalam kandungan dilakukan ultrasonografi (USG), dengan maksud ingin mengetahui kondisi kesehatan Janin Bayi. Dari hasil USG itu Dokter memberikan diagnosa bahwa anak Ia (sang bayi) dinyatakan ada kelainan berupa cairan.

"Begitu Muhamad Fauzan Renaldi lahir dalam usia kandungan cukup normal yaitu 9 bulan, saya melihat dibagian kepalanya sudah nampak adanya benjolan-benjolan," jelas Reni kepada sukabimiNews senin (3/6/2019).

Adapan menurut Reni ayah Muhamad Fauzan dalam kesehariannya sebagai pekerja serabutan, yang terkadang mendapatkan pekerjaan, terkadang tidak.

Pernah ayahnya mendapatkan pekerjaan di Proyek peternakan Ayam tak jauh dari rumahnya, namun hasilnya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan anaknya yang semakin kini semakin mengkhawatirkan.

“Kami selau berupaya untuk kesembuhan anak saya, ia pun sudah saya bawa ke rumah sakit di Cibadak untuk dilakukan perawatan, selama satu minggu satu kali dengan menggunakan KIS (Kartu Indonesia Sehat),” ungkap Reni.

Hanya saja, tutur Reni, pihak rumah sakit hanya memberinya obat batuk dan panas. “Padahal hingga saat ini kondisi anak saya kepalanya semakin hari semakin membesar,” tambahnya.

Memang, tambah Reni lagi, Spesialis Dokter yang bertugas di RS Kartika dan RS Sekarwangi menyarankan agar anaknya segera dilakukan Operasi di bagian kepala lantaran di bagian kepala Muhamad Fauzan Renaldi  mengalami kelebihan cairan.

“Akan tetapi karena saya merasa tidak mampuh untuk membiayai operasi anak saya, sampai sekarang saya belum bisa memenuhi saran dokter terebut,” keluh Reni sambil meneteskan airmata.

Reni berharap agar anaknya lekas sembuh sehat seperti halnya anak -anak yang lain. Reni juga sangat berharap adanya bantuan dan dukungan Pemerintah, baik pemerintah Daerah maupun Pusat atau para relawan, untuk segera bisa mengatasi kondisi yang di derita anaknya.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Sunday, June 2, 2019

Redaksi sukabumiNews

Orangtua Riyan, Bocah Penderita Atresia ini Merasa di PHP Pemkot Sukabumi

Nasib malang yang di alami Riyan Maulana (4), warga Kp. Pangkalan Rt. 001/007 Kelurahan Jaya Mekar Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, Jawa Barat, hingga kini kondisinya masih sangat memprihatinkan.

sukabumiNews, BAROS – Riyan yang merupakan anak ketiga dari pasangan Dedi Setiawan (55) dan Euis Sumarni (31) ini tak mampu bermain layaknya anak-anak lain seusianya. Jangankan bermain untuk berjalan pun Riyan harus mengesot karena kedua kakinya tidak normal.

Derita bocah tanpa Lubang Anus, alat kelamin dan Tulang Punggung Bengkok (Atesia) ini bertambah saat dirinya mendapat Harapan Palsu alias kena PHP.

Hal itu diungkapkan Dedi Setiawan, orang tua kandung Riyan kepada sukabumiNews saat ditemui di rumahnya pada Minggu (2/6/2019).

Menurut Dedi, Riyan sebelumnya memang sudah mendapat bantuan medis dari Pemkot melalui Dinas Kesehatan Kota Sukabumi dengan memberikan rujukan ke RS Hasan Sadikin Bandung menggunakan kartu dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang di bayarkan oleh Pemkot untuk di lakukan Operasi di bagian organ tubuhnya pada bulan Desember 2018 tahun lalu.

"Saat itu Periksaan dilakukan dan ditangani oleh Dr. Tri, spesialis tulang di RS Hasan Sadikin Bandung dengan tahapan pemeriksaan Tromboson, USG, dan Cek darah,” kenang Dedi.

Namun lanjut Dedi pemeriksaan tersendat dan hingga kini masih belum ada tindakan lebih lanjut lantaran keterbatasan ekonomi pihak keluarga.

Dedi beserta keluarganya berharap ada kepastian yang jelas dari Pemerintah, khususnya Pemkot Sukabumi untuk membantu menindak lanjuti proses selanjutnya demi mempercepat bagi penanganan Operasi anaknya, Riyan.

Kerena, jelas Dedi, dengan belum adanya kepastian, kapan akan dilakukan proses operasi, secara tidak langsung biaya yang dikeluarkan untuk mengurus segala kebutuhan Rian sebelum dilakukan operasi, cukup besar. Pasalnya, pihak keluarga harus pulang balik menju Bandung – Sukabumi.

"Sudah 6 kali kami pulang balik ke RS Hasan Sadikin Bandung. Bagi kami, biaya tersebut sudah cukup besar. Sedangkan untuk membeli pampers saja kami sudah kelabakan," tuturnya.

Dilain pihak Dedi mengaku, bebannya sedilit berkurang tatkala keberadaannya di Bandung telah disediakan rumah singgah oleh Pemkot Sukabumi.

Dedi juga juga tidak menampik kebaikan Polresta Sukabumi beserta jajara Ibu Bhayangkari yang sebelumnya pernah menyempatkan diri untuk menengok Riyan.

Keluarga berharap kepada siapapun, terlebih kepada pemerintah untuk membentu demi mempercepat proses operasi anaknya dengan tidak adanya alasan harus menunggu nomor urut antrian mengingat kondisi Rian semakin kini semakin sangat mengkhawatirkan.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Saturday, May 18, 2019

Redaksi sukabumiNews

Bocah 8 Tahun Penderita Tumor Lidah Asal Curugkembar Ini Butuh Uluran Pemerintah

Butuh uluran masyarakat terutama pemeritah untuk membantu meringankan biaya penyembuhan bagi penyakit yang diderita bocar berusia 8 tahun, anak dari pasangan Juheri (59) dan Siti (47) warga yang berasal dari kampung Mekar Wangi Rt. 001/004 Desa Tanjungsari, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini ini lantaran keluarganya termasuk keluarga kurang mampu.
sukabumiNews, CURUGKEMBAR - M. Rais Pratama Rijik (8) Bocah penderita Tumor Lidah, kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, penyakit kangker lidah yang dideritanya semakin hari kian membesar.

Butuh uluran masyarakat terutama pemeritah untuk membantu meringankan biaya penyembuhan bagi penyakit yang diderita bocar berusia 8 tahun, anak dari pasangan Juheri (59) dan Siti (47) warga yang berasal dari kampung Mekar Wangi Rt. 001/004 Desa Tanjungsari, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini ini lantaran keluarganya termasuk keluarga kurang mampu.

Siti, Ibunda Rais mengatakan, penyakit yang diderita anaknya berawal ketika Rais merasakan gatal-gatal di bagian lidah lalu di bawanya berobat ke Puskesmas terdekat. “Ini dilakukan sekitar tanggal 15/11/2018 lalu,” terang Siti kepada sukabumiNews, Sabtu (18/5/2019).

"Dalam kurun satu bulan sepulangnya berobat dari puskesmas, penyakit Rais tak kunjung sembuh yang ada semakin parah dan Rais sudah pernah dibawa ke tiga Rumah Sakit (RS), yaitu RS. Syamsudin, SH (Bunut), RS. Hermina dan RS. Hasan Sadikin Bandung dengan menggunakan Kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kelas III yang berbayar premi bulanannya," ungkap Siti.

Siti juga mengaku, Juheri (59) sebagai suaminya adalah seorang buruh tani yang berpenghasilan pas-pasan. Oleh karenanya disebabkan keterbatasan ekonomi, untuk mengobati penyakit yang diderita anaknya, Siti menggunakan Kartu BPJS Kesehatan Kelas III yang berbayar perbulan, “karena selama ini keluarga kami belum mendapatkan Kartu Indonesia Sehat yang diberikan oleh  Pemerintah bagi Masyarakat tidak mampu secara Gratis,” jelas nya.

Siti berharap Agar Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan untuk pengobatan Rais dan menginginkan Kartu BPJS yang ia miliki di rubah menjadi BPJS Non bayar atau Gratis.


Pewarta: Azis. R
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, April 11, 2019

Redaksi sukabumiNews

10 Tahun Menderita Penyakit Kaki Gajah, Mak Uju Tetap Sabar Jalani Hidup dalam Kondisi Serba Kekurangan

sukabumiNews, CICURUG – Juju Daningsih (62) warga Kp. Sindang Palay RT.03/06, Desa Pasawakan Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah 10 tahun menderita penyakit kaki gajah. Meski begitu, Mak Uju tetap sabar menjalani hudup walau penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh karena ketidak mampuan untuk mengobati penyakitnya tersebut.

Meski memiliki pekerjaan Menyusun Perca Kain untuk dijadikan Lap di bengkel yang lokasinya tak jauh dari rumahnya serta memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), namun dengan upahnya yang hanya sebesar Rp.1000/kg dengan rata-rata per hari, Juju Daningsih yang akrab dipanggil Mak Juju ini hanya mampu membuat sejumlah 5 kg atau sebanding dengan Rp 5000 saja.

“Itu pun kalau ada bahan kainnya. Jadi, jangankan untuk berobat, untuk makan saja saya rasa masih belum cukup,” beber Kristiawan (42) kepada sukabumiNews via WhatsApp nya, Rabu (10/4/19).

Meski demikian, tambah Kristiawan, Mak Uju tidak pernah mengeluh dan cukup bersyukur berapapun penghasilan dan bagaimana pun kondisinya.

“Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk meminta-minta kepada orang lain," jelas Kristiawan,

Mak Uju adalah seorang janda tua yang tinggal di sebuah ruangan sempit berukuran 2,5 x 2 Meter. Alhasil, karena sempitnya, ruang tempat tidur Mak Uju menyatu dengan dapurnya .

Untuk mengobati penyakit kaki gajahnya, sementara ini Mak Uju masih menjalani pemeriksaan secara rutin dari petugas Puskesmas terdekat.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, April 9, 2019

Redaksi sukabumiNews

Tidak Memiliki Rumah, Lansia Lumpuh Ini Tinggal Bertahun-Tahun di Saung Berukuran 2X2 Meter Persegi di Atas Selokan

Pemerintah Daerah seharusnya Membuka Mata melihat kondisi seperti ini

sukabumiNews, KALAPANUNGGAL – Ogan (59), warga Desa Kadununggal, Kecamatan Kalapa Nunggal Kabupaten Sukabumi, sudah bertahun-tahun hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan tidak memiliki rumah tinggal yang layak. Selain hidup sebatang kara lantaran istrinya sudah lama meninggal dan tidak mempunyai keturunan, Ogan juga menderita penyakit kulit dan kelumpuhan.

Jangankan bisa berobat, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja Ia hanya bisa mengharapkan belas pemberian orang lain. Ogan sudah tidak sanggup lagi bekerja untuk mencari nafkah akibat penyakit yang dideritanya sejak satu tahun kebelakang. Bahkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari Ia harus dibantu oleh warga yang merasa kasian.

Saat ini Ogan tngga di Sauang dari Triplek berukuran sekira 2X2 meter persegi di atas selokan kecil di Kp. Legos Kalapanunggal Rt.13/03 Desa Kadununggal Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi dan dirawat oleh beberapa orang warga Desa Kadununggal secara bergantian. Para relawan ini membantu Ogan untuk memapahnya ke tempat Mandi Cuci dan Kakus (MKC), mencarikan makan dan memenuhi kebutuhan pakaian.

"Karena Ogan sudah tidak bisa jalan, jadi kami membantunya secara bergantian jika mempunyai waktu luang," ungkap Taufik Nugraha (30), seorang relawan Kadununggal, kepada sukabumiNews, Senin (8/4/219).

Setiap hari para relawan mencarikan donasi untuk biaya makan dan merawat Ogan lewat media sosial, namun tidak setiap hari mereka mendapatkan bantuan, oleh karena itu Taufik meminta perhatian dari pemerintah untuk mencarikan solusinya.

"Ya namanya pemberian, kadang ada kadang tidak, kami hanya bisa membantu sebatas kemampuan kami, saya berharap pemerintah mencarikan solusi untuk Ogan, karena hari demi hari kondisinya semakin memburuk," jelasnya.


Pewarta : Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, April 2, 2019

Redaksi sukabumiNews

M. Rasyad Balita Pengidap Hernia Itu Dijadwalkan akan Jalani Operasi Pekan Depan

FOTO: Kades Pasirhalang RM. Yusup Purnama (kedua dari kanan) ketika menjenguk M. Rasyad  (pertama dari kanan, duduk di pangkuan ibunya).

sukabumiNews, SUKARAJA - Muhammad Rasyad Badrutaman, balita penderita Hernia yang masih berusia 18 bulan, warga Kp. Langensari, Rt 04, Rw 08, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, yang sejak usia 2 bulan menderita Hernia, telah selesai menjalani pemeriksaan di RSUD Sekarwangi Cibadak dan dijadwalkan akan menjalani Operasi pada senin (08/4/2019) mendatang.

Hal itu diungkapkan Kepala Desa Pasirhalang, RM. Yusup Purnama setelah menerima informasi hasil tes Laboratorium dari pihak RSUD Sekarwangi, Selasa (02/04/2019) siang.

"Hari ini sudah keluar hasil Lab, dan Operasi M. Rasyad dijadwalkan minggu depan," ungkap Yusup Purnama kepada Wartawan saat ditemui di kantornya Jl. Raya Gentong Km 28, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Gegerbitung, Selasa (02/04/2019) sore. 

Yusup menambahkan, sebelum ramai pemberitaan di Media Massa, 2 minggu sebelumnya Kepala Desa Pasirhalang telah menunjuk staf desa bernama Nyanyang Ilyas agar mendampingi dan membawa orangtua M. Rasyad, yakni Siti Robiah (41) dan Unang (46) untuk didaftarkan sebagai penerima manfaat Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi.

Pada saat itu orangtua M. Rasyad langsung disarankan oleh pihak Dinkes untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Begitu juga sepulang dari sana, pihak desa menyarankan hal yang sama.

Namun entah karena alasan apa orangtua M. Rasyad masih menangguhkan pengobatan anaknya itu, hingga muncul berita di berbagai media massa di Sukabumi. 

"Kami sudah mengantisipasi hal itu sebelumnya, karena mungkin ada keterbatasan dalam komunikasi dengan keluarga M. Rasyad, pengobatan balita itu sempat tertunda. Tapi Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Kita doakan agar M. Rasyad dapat segera sembuh seperti anak-anak lainnya," terangnya.
Kades Pasirhalang RM Yusup Purnama (kanan) hedak menghatar M. Rasyad ke Rumah Sakit.
Yusup menuturkan, hari ini M. Rasyad telah menempuh semua proses tes Labarotorium dan tinggal menunggu jadwal operasi. "Semua biaya termasuk operasi nanti, tidak dibebankan biaya alias gratis," terang Yusup.

Sementara itu, berbagai bantuan juga terus berdatangan kepada keluarga M. Rasyad. Salahsatunya dari pimpinan Perumda Pembangunan Sarana Jaya milik BUMD Provinsi DKI Jakarta melalui karyawannya yang berasal dari Cisaat sebesar Rp10juta dan dari kawan-kawan Sahabat Kristiawan Peduli (SKP) sebesar Rp 21 juta. 

"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada para donatur yang telah memberikan bantuannya kepada keluarga M. Rasyad. Semoga menjadi amal baik dan mendapat balasan yang setimpal dari Allah Subhanahu Wata'ala," pungkasnya.


Pewarta: Rio Bagja Gumilar
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

14 Tahun Tidak Bisa Berjalan karena Stroke, Micah Dapat Bantuan Kursi Roda dari Seorang Bhabinkamtibas

FOTO: (Dari kiri ke kanan) Brigadir Sandi Praja, anggota Polsek Cibadak, pak Bidin (suami Micah), Micah (duduk di kursi roda), Lurah Cibadak Budi Eka Andriana, Babinsa Peltu Dendin. (dok. Rudi S/SN)
sukabumiNews, CIBADAK – Micah (55) warga Kampung Papanahan RT 01/09, Cibadak Kabupaten Sukabumi yang mengalami stroke selama 14 tahun dan tidak bisa berjalan, mendapat bantuan Kursi Roda dari Aksi Sosial dalam sinergitas tiga pilar program satu bulan satu kebaikan yang diberikan oleh Brigadir Sandi Praja, anggota Polsek Cibadak, Polres Sukabumi, bersama Babinsa Peltu Dendin dan Lurah Cibadak, Budi Eka Andriana, Senin (1/4/2019).

Semboyan polisi sebagai pelindung masyarakat, benar-benar diaplikasikan seorang Brigadir Polisi anggota Polsek Cibadak, Polres Sukabumi bersama seorang Babinsa berpangkat Peltu dan Lurah Cibadak itu.

Menurut Brigadir Sandi, aksi itu tergerak ketika dirinya melakukan giat bhabinkamtibas dan melihat  ada warga yang mengalami stroke serta membutuhkan kursi roda. Ketika itu Brigadir Sandi menganggap, kursi roda yang selama ini dipakai Micah sudah rusak.

"Ketika berbincang dengan Pak Bidin (suami Micah) mereka ingin membeli kursi roda baru namun karena keadaan ekonomi, keinginan pak Bidin belum bisa terwujud, " ungkap Sandi.

Mendengar, melihat dan merasakan yang dialami keluarga, Sandi pun merasa tergerak hatinya untuk membantu keluarga pak Bidin.

"Hari ini saya dan Lurah Cibadak Pak Budi dan Babinsa Pak Dendin mengantarkan bantuan kursi roda. Kami juga berikab bantuan sembako di kepada keluarganya," terangnya.

Sementra itu Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi melalui Kapolsek Cibadak Kompol Suhardiman sangat bersyukur anggotanya mampu memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat.

"Ini adalah bentuk pengabdian anggota polri kepada bangsa dan negara, juga pelayanan pada warga yang membutuhkan," katanya.

Sebagai anggota kepolisian, dirinya juga berharap, semoga kedepan banyak yang mencontoh apa yang dilakukan oleh anggota Brigadir Sandi Praja.


Pewarta : Rudi Samsidi
Editor: AM
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, March 21, 2019

Redaksi sukabumiNews

Nyaris Ambruk, Rumah Kakak Beradik di Kebon Manggu Sukabumi Ini Butuh Bantuan Pemerintah

sukabumiNews, GUNUNGGURUH – Salah satu rumah warga di Kampung Cipeundeuy RT.002/008 Desa Kebon Manggu Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi ini sangat memperihatinkan. Pasalnya, selain dindingnya yang terbuat dari bilik bambu dan sudah bolong-bolong, rumah panggung berukuran 6X6 meter persegi milik kakak beradik bernama Dase Hendra (44) dan Ence Bayu (30) ini juga terlihat sudah lapuk dan hampir roboh.

Jangankan memiliki kamar mandi, kamar tempat tidur juga tidak ada. Bahkan penerangannya pun masih nyantol listrik ke rumah tetangga.

Kondisi ruang tengah rumah Dase dan Ence
Menurut Dase, rumah yang ditempati bersama adik kandungnya ini adalah peninggalan dari kedua orang tuanya yang sudah almarhum. Dase beserta adik yang dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu dan kerap tidak mendapatkan uang ini memohon kepada pemerintah setempat untuk membantu agar dia bisa merenovasi rumahnya yang sudah hampir roboh ini.

Dase dan Ence mengaku bahwa 3 tahun yang lalu ia pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Desa (Pemdes) setempat sebesar Rp4 juta. Itu pun kata Dase, uang bantuan tersebut tidak diterimanya secara utuh. “Saya hanya memerimanya sekitar Rp3,5 juta,” kenang Dase kepada sukabuminews.net di kediamannya, Rabu (20/3/19). 
"Tapi alhamdulilah uang tersebut sudah saya terima dan langsung saya belikan kepada bahan bangunan secukupnya, seperti batu bata, genteng dan kayu, meski sebelumnya saat itu saya sempat bingung karena dengan nilai uang segitu bagaimana mungkin bisa cukup untuk merenovasi rumah.Belum lagi untuk upah kerja tukang,” jelasnya.

Sementara itu, Rasmita Kades Kebonmanggu saat dikonfirmasi terkait keberadaan tempat tingga kedua orang kaka beradik ini mengaku bahwa pihaknya sudah mengajukan kepada pemerintah melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sebanyak 80 rumah.

“Tak hanya itu, kita sudah melaksanakan program sesuai dengan surat edaran Kementerian ESDM dengan mengutus dua orang petugas desa untuk mencari warga yang tidak mampu yang belum mempunyai KWH Listrik secara gratis. Dan kami mengajukan ada 36 rumah yang belum mempunyai KWH listrik. Yang sudah di realisasi baru satu rumah,” papar Kades.

“Saya menghimbau kepada warga masyarakat Desa Kebon manggu agar bersabar, sebab pemerintah Desa Kebonmanggu sudah mengajukan kepada pemerintah Kabupaten Sukabumi, " akunya.


Pewarta : Azis. R
Editor: AM
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Friday, December 28, 2018

Redaksi sukabumiNews

Bocah 6 Tahun Penderita Tumor Batang Otak di Sukabumi yang Viral di Medos Itu Dijenguk Istri Bupati

[Lembaga Koordinator Kesejahteraan Keluarga Sejahtera (LKKS) Kabupaten Sukabumi, Dra. Hj. Yani Marwan akhirnya menjenguk Bocah 6 Tahun Penderita Tumor yang Viral di Medsos. (Foto oleh: Azis/Karim - SN)]
[Lembaga Koordinator Kesejahteraan Keluarga Sejahtera (LKKS) Kabupaten Sukabumi, Dra. Hj. Yani Marwan akhirnya menjenguk Bocah 6 Tahun Penderita Tumor yang Viral di Medsos. (Foto oleh: Azis/Karim - SN)]
Gunung Guruh, SUKABUMINEWS.net – Salwa Salwiyah (6) yang yang tinggal di Kp. Mekar Jaya Rt. 003/002 Desa Sirna Resmi Kecamatan Gunung Guruh Kabupaten Sukabumi, tergolek lemah dikasur rumah kontrakan akibat penyakit tumor yang dideritanya.

Keberadaan Salwa yang sebelumnya telah viral di postingan medsos lantaran dikabarkan tidak ada perhatian dari Pemerintah Daerah, anak ke 2 dari pasangan Yunita (29) dan Meta Setia Toni (32) ini kini di jenguk oleh Ketua Lembaga Koordinator Kesejahteraan Keluarga Sejahtera (LKKS) Kabupaten Sukabumi, Dra. Hj. Yani Marwan pada Kamis (27/12/2018).

Bocah yang mengalami penyakit tumor ini sebelumnya telah viral di postingan medsos lantaran tidak ada perhatian dari Pemerintah Daerah. “Padahal dari pihak Puskesmas Setempat sudah memberikan layanan dan batuan dengan maksimal bahkan setiap hari untuk menggati perban dan yang lainnya,” jelas Yani Marwan.

“Saya turut prihatin dengan keadaan ananda Salwa, bahwa sekarang sangat membutuhkan perhatian yang sangat serius. Yang paling disesalkan adalah ibu kandungnya tidak mendampingnya saat kondisi dia seperti ini,” sesal Yani.

“Mungkin takdirnya sudah seperti ini jadi harus ikhlas untuk menerima dan merawatnya,” ucapnya .

Namun sambung Yani, pihak keluarga jangan putus asa karena kini sudah ditangani,  jadi apa yang sudah viral dipostingan Media Sosial bahwa tidak adanya perhatian dari Pemerintah Daerah itu tidak benar karena kata Yani, pihak Puskesmas setempat sudah memberikan layanan dan batuan dengan maksimal, bahkan setiap hari untuk menggati perban dan yang lainnya.

“Artinya ini bukan pembiaran, segala bentuk perhatian dan upaya sudah kami lakukan,” katanya.

Yani juga menjelaskan bahwa Salwa telah menjalani operasi dan tinggal menunggu operasi yang kedua. Namun karena kondisinya yang masih lemah akibat asupan makanan yang di konsumsi saat ini hanya susu, akhirnya operasi ke dua ditangguhkan.

Selain menjalanai perawatan medis, Salwa juga dibantu dengan pengobatan melalui terapi. Ini memang harus dilakukan. Mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik, ada keajaiban sehingga Salwa Salwiyah bisa sembuh lagi," ibmbuh Istri Bupati Sukabumi itu.

Dilain pihak, Nenek Salwa kepada sukabumiNews menjelaskan bahwa sebelum mengalami sakit, cucunya itu pernah diajak jalann oleh kakanya ke warung terdekat, lalu jatu terpeleset dan dibawa ke tukang pijat.

“Setelah dipijit kondisinya semakin tidak baik malah tidak bisa bicara dan berjalan,” ungkap sang Nenek.

Nenek Salwa juga mengatakan bahwa sebelumnya Salwa Salwiyah sudah mendapatkan penanganan dari tiga Rumah Sakit (RS) terkenal di Sukabumi, yakni RS Syamsudin SH (Bunut),  RS Kartika, dan RS Hermina. Akan tetapi tutur neneknya itu, karena keterbatasan peralatan rumah sakit, maka Salwa pun harus dirujuk lagi ke Rumah Sakit yang ada di Bandung.

“Alhamdulillah saya selaku neneknya bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas kepedulian semua pihak mulai dari Rt hingga Pemerintah Daerah dan pihak swasta kepada kami,” ucapnya.

Akibat keberadaan dan kondisinya saat ini, kini anak ke 2 dari pasangan Yunita (29) dan Meta Setia Toni (32) ini sudah mendapat perhatian dan di jenguk oleh Muspika, Polsek, Koramil, BAZNAS Kabupaten Sukabumi, PT. SCG dan unsur masyarakat lain.
[Pewakialan dari BAZNAS Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan secara simbolis kepada Bocah 6 Tahun Penderita Tumor yang Viral di Medsos (Foto: Azis R/Karim R - SN)]
Baca: Bocah 6 Tahun Penderita Tumor Batang Otak Itu, Akhirnya Meninggal Dunia

[Pewarta: Azis.R/Karim.R]
Editor: Red.

Sunday, October 14, 2018

Redaksi sukabumiNews

Perlu Uluran Pemerintah, Rumah Seorang Warga Desa Bantar Gadung Ini Memprihatinkan

Yayat bersama Istri dengan kondisi rumah yang memprihatinkan
Bantar Gadung, SUKABUMINEWS.net – Rumah Yayat (50 tahun) seorang warga Desa Kp. Kubang RT.005/002 Desa dan Kecamatan Bantaar Gadung, Kabupaten Sukabumi, kondisinya sangat memperihatinkan. Seluruh dindingnya yang terbuat dari bilik bambu terlihat sudah mengelupas. Pintu masuk rumah yang terbuat dari triplek pun sudah mulai rapuh. Begitu juga dengan atap genteng dengan plaponnya terlihat doyong hampir roboh.

Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan membahayakan pasangan suami istri, pemilik rumah berukuran 5 X 7 meter persegi itu.

Rasa cemas dan semakin susah pun bertambah kala musim hujan tiba. “Kalo sudah datang musim hujan kami sekeluarga kerepotan menampung air hujan yang menetes dari atas genteng. Belum lagi semburan air hujan yang kena angin tembus ke bilik dinding rumah yang kemudian membasahi seluruh ruanganan rumah,” lirih Yayat kepada sukabumiNews saat berkunjung ke rumahnya, Sabtu (13/10/2018).

Dikatakan Yayat,  dirinya bukan tidak ingin memperbaiki rumah, akan tetapi kesulitan ekonomi yang membuat dia susah keluar dari keterpurukan itu. Dengan mata pencaharian sebagai kuli serabutan dan penghasilan tidak menentu, dia bersama istrinya hanya bisa pasrah dan bertahan menjalani hidup dalam keadaan susah dan serba kekurangan.

Yayat bersama istrinya berharap akan adanya uluran dari pemerintah, khususnya Pemkab Sukabumi untuk membantu meringankan beban kehidupannya. “Selama ini saya sangat berharap terutama kepada Bapak Bupati Sukabumi akan uluran tangannya. Ya, minimal untuk membatu memperbaiki kondisi gubuk saya,” harapnya, lirih.

[Pewarta: Azis. R]
close
close
close