News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Terkait Libur Maulid Nabi Digeser, Ini Kata Wapres KH Ma'ruf Amin dan Menko PMK

Terkait Libur Maulid Nabi Digeser, Ini Kata Wapres KH Ma'ruf Amin dan Menko PMK

Wakil Presiden Ma’ruf Amin tiba di Kupang disambut Gubernur NTT bersama Forkompinda. (Gatra/Antonius Un Taolin) 

sukabumiNews.net, KUPANG (NTT) – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjelaskan keputusan pemerintah menggeser hari libur Maulid Nabi dari Selasa 19 Oktober menjadi Rabu 20 Oktober.

Menurut Wapres, hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia.

"Kami menggeser itu untuk menghindari orang memanfaatkan hari kejepit itu, sehingga orang keterusan (liburan)," kata Wapres Ma’ruf Amin di sela-sela kunjungan kerjanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Ahad, 17 Oktober 2021, lansir VOI.

Oleh karena itu, kata Wapres, pemerintah mencoba (menggeser) itu. "Walaupun memang (kasus COVID-19) sudah rendah, tapi kita tetap antisipatif," tambahnya.

Upaya antisipatif ini, lanjut Wapres, dilakukan agar tidak terjadi pelonggaran protokol oleh masyarakat saat memanfaatkan hari libur keagamaan seperti India.

"India itu kan ketika dia sudah rendah, kemudian terjadi pelonggaran-pelonggaran bahkan ada acara keagamaan, akhirnya naik lagi. Itu kami tidak ingin itu terulang di Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan keputusan penggeseran hari libur tersebut untuk menghindari masyarakat yang memanfaatkan libur panjang setelah akhir pekan.

"Itu pertimbangannya semata-mata adalah untuk menghindari masa libur yang panjang, karena di celah antara hari libur dengan libur reguler (Sabtu dan Minggu) itu ada haris kejepit, yaitu hari Senin," kata Muhadjir saat mendampingi Wapres di Kupang, dilansir Bentengsubar.com.

Dia menyebut, apabila libur nasional Maulid Nabi tetap dilakukan di Selasa (19/10), maka akan berpotensi banyak masyarakat mengambil cuti atau membolos di Senin (18/10) agar mendapat libur panjang.

Mobilitas orang besar-besaran itulah, kata dia, dapat menyebabkan potensi kenaikan angka penularan kasus COVID-19.

"Oleh karena itu, Pemerintah tidak ingin penurunan kasus penularan COVID-19 saat ini justru dapat membawa kenaikan kasus. Dengan keadaan turun itu, kami tidak ingin main-main lagi, karena kita sudah pengalaman setiap turun kemudian kita membiarkan libur panjang tanpa ada intervensi kebijakan, itu akan diikuti dengan kenaikan kasus," tandasnya.


Editor: AM
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2021

Tags

Daftar

Website sukabumiNews.net Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita PT SUKABUMINEWS MULTI MEDIA. Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.

Post a Comment

Anda boleh beropini dengan mengomantari Artikel di atas