Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Tuesday, May 7, 2019

Ust Manatahan

Cara Membayar Fidyah Shaum Ramadan


Bagaimana Cara Membayar Fidyah Shaum Ramadan?

Pertama: Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175]

Nilai ½ sho’ berdasarkan sabda Rasulullah :

لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ

“Setiap satu orang miskin setengah sho’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu’anhu]

Kedua: Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu:

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا

“Anas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.” [Riwayat Al-Bukhari]

Beberapa Permasalahan Terkait Fidyah

Fidyah hendaklah diberikan dalam bentuk makanan tidak diuangkan,[ Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 5750] karena Allah berfirman:

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [QS. Al-Baqarah: 184]

Dan para sahabat radhiyallahu’anhum membayar fidyah dalam bentuk makanan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Kualitas makanan fidyah hendaklah sama dengan yang biasa kita dan keluarga kita makan. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129]

Fidyah boleh dibayarkan kepada satu orang miskin, karena dalil tidak menentukan berapa orang miskin. Berbeda halnya dengan kaffaroh jima’, wajib dibagi kepada 60 orang miskin, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah.

BACA Juga: Niat Shaum di Bulan Ramadan

Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadan.

Bagi yang tidak mampu berpuasa dan tidak pula mampu membayar fidyah, maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

ويكفي دفع ذلك إلى فقير واحد، وإن عجزت عن الإطعام سقط عنك

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang fakir. Jika engkau tidak mampu, maka hilang kewajiban membayar fidyah darimu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268]

Disebutkan juga dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

ويكفي دفع ذلك إلى مسكين واحد أو أكثر في أول الشهر أو أثنائه أو آخره

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal Ramadan, atau pertengahan. dan akhirnya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268 dan 9/128 no. 17029]

Apabila orang sakit yang sudah tidak diharapkan kesembuhannya ternyata sembuh, apa kewajibannya?

يجزئها ما أخرجته من الفدية فيما مضى عن كل يوم أفطرته ولا يجب عليها قضاء تلك الشهور؛ لأنها معذورة وقد فعلت ما وجب عليها في حينه.

“Sudah mencukupinya fidyah yang telah ia keluarkan dahulu setiap satu hari puasa yang ia tinggalkan, dan tidak wajib baginya meng-qodho puasa selama bulan-bulan waktu sakitnya tersebut. Karena ketika itu ia dalam keadaan memiliki uzur dan ia telah melakukan kewajibannya saat itu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/196 no. 4681]

Demikian pula sebaliknya, apabila sakitnya masih diharapkan kesembuhannya pada awalnya, kemudian ternyata berlanjut terus dan tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka hendaklah ia membayar fidyah sebanyak hari-hari puasa yang telah ia tinggalkan tersebut. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

BACA Juga: Tiga Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan 


#NasihatSahabat
#ustManatahan
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close