Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Tuesday, October 30, 2018

Redaksi sukabumiNews

GP Ansor Tolak Minta Maaf Membakar Bendera Tauhid

GP Ansor Tolak Minta Maaf Membakar Bendera Tauhid
Jakarta, SUKABUMINEWS.net -- Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) menolak meminta maaf membakar bendera tauhid yang belakangan diklaim sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pembakaran itu terjadi saat perayaan Hari Santri Nasional (HSN) 2018 di Garut, Jawa Barat.

Tapi, GP Ansor meminta maaf atas kegaduhan akibat insiden tersebut. Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menuturkan mewakili seluruh kader meminta maaf kepada seluruh masyarkat jika apa yang dilakukan oknum Banser di Garut, Jawa Barat telah menimbulkan kegaduhan dan ketidaknyamanan. Kendati begitu, kata Yaqut permintaan maaf tersebut disampaikan atas timbulnya kegaduhan bukan atas pembakaran bendera HTI.

"Kita minta maaf atas kegaduhan itu, bukan karena pembakaran bendera HTI," kata Yaqut saat konferensi pers di Kantor PP GP Anshor, Jalan Keramat Raya, Jakarta Pusat, dikutip sukabumiNews dari suara.com, Rabu, (24/10/2018).

Berkenaan dengan itu, Yaqut menegaskan bahwa insiden pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid, yang dilakukan oknum Banser saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat merupakan bendera milik ormas terlarang HTI. Untuk itu, Yaqut menegaskan menolak untuk meminta maaf kepada HTI.

Meskipun, kata Yaqut apa yang dilakukan oknum Banser dengan melakukan pembakaran bendera HTI telah menyalahi Standar Oprasional Prosedur (SOP) yang di atur GP Ansor. Seharunya, hal itu diserahkan kepada pihak berwajib bukan dengan malakukan aksi sepihak.

"Minta maaf atas apa? Atas pembakaran bendera HTI, tentu tidak. Bagi kami prinsip kebangsaan kami jelas, bahwa NKRI itu final. Tidak boleh ada lagi negara lain, jadi ketika ada HTI (ingin) merubah bentuk negara menjadi khilafah, tentu kita akan menolaknya," pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Banser NU meminta karena telah membakar bendera hitam bertuliskan kalimat 'Tauhid' yang kekinian diklaim GP Ansor sebagai bendera HTI. MUI menilai pambakaran bendera tersebjt telah menimbulkan kegaduhan di kalangan umat Islam.

"MUI meminta kepada yang telah melakukan tindakan tersebut untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya secara terbuka kepada umat Islam," kata Sekjen MUI, Anwar Abbas dalam konferensi pers di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta, Selasa (23/10) kemarin. (*)
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close