Breaking
loading...
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts

Thursday, June 6, 2019

Redaksi sukabumiNews

Mak Eyoh Hidup Sebatangkara, Memimpikan Tinggal di Rumah yang Layak

Hidup di bawah garis kemiskinan memang sangat menyedihkan, apa lagi jika tinggal sebatang kara di usia yang sudah tua.

sukabumiNews, LEMBURSITU – Mak Eyoh, warga asal Kampung Bangsanaya, RT.003 RW.007 Kelurahan Situmekar Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat, harus mengalami nasib serupa. Di usianya yang sudah senja, ia hidup sebatangkara dan hanya ditemani lima ekor kucing peliharaannya.

Meski begitu, Mak Eyoh tidak meyerah menjalani hidup. Ia mampuh berusaha untuk bertahan, meski harus terkopoh-kopoh berkeliling berjalan kaki sekauh 4 sampai 5 kilo meter sambil menggendong bakul nasi berisi sayuran yang dia beli dari pasar untuk dijual kembali ke setiap rumah demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Cukup jauh jarak yang harus ditempuh bagi wanita seusia Mak Eyoh yang lebih dari 70 tahun ini. Meski tidak banyak yang Ia jual, karena selain modalnya yang minim, Mak Eyoh juga terkendala dengan keadaan fisik. Di usianya yang sudah melemah tidak mungkin kuat untuk membawa beban terlalu berat. Aktivitas seperti inilah yang Mak Eyoh lakukan setiap hari.

"Dari hasil jualan ini saya mendapat keuntungan sebesar Rp20 ribu dari modal sebesar Rp30 ribu. Dari Modal Rp30 ribu ini rata-rata kembali jadi Rp50 ribu,” ujar Mak Eyoh kepada sukabumiNews saat ditemui di rumahnya, Kamis (6/6/2019).

“Itupun jualannya jarang habis, sisanya suka dibawa pulang kembali," tutur Mak Eyoh. 
Mak Eyoh tinggal di gubuk bilik berukuran 2x 3 meter dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Pantauan sukabumiNews, di gubuknya hanya tersedia sebuah kasur kapuk yang sudah using. Dindingnya pun penuh tambalan kain dan plastik yang dipasangkan untuk menahan angin yang berhembus dari bilik yang terlihat bolong-bolong.

Keberadaan seperti ini dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan dan keslamatan Mak Eyoh, karena selain sudah tua, gubuk kediaman ia pun terlihat hampir ambruk lantaran tiang penyangganya sudah keropos termakan rayap dan termakan usia.

"Kainnya sengaja saya pasang di dinding, karena kalau malam suka dingin, angin masuk dari sana," ucapnya dengan air mata berlinang, sambil menunjuk kain yang menempel di dindingnya yang penuh dengan lubang-lubang kecil.

Ia menjelaskan dirinya mendiami gubuk yang dulu dibuatkan oleh beberapa orang warga yang merasa iba kepadanya lantaran Ia tidak mempunyai suami dan anak untuk membantu kehidupannya. Entah sudah berapa lama Ia mendiami gubuk yang dibuatkan oleh tetangganya tersebut.

"Sudah lupa kapan gubuk ini dibuat, tetangga yang bikin karena saya tidak punya siapa-siapa, kadang suka sedih, tapi saya pasrah aja," ngkap Mak Eyoh, haru.

Yang jelas, tambah Dia, hampir seperempat usianya ia tinggal di gubuk itu. Mak Eyoh juga, menyatakan bahwa dirinya sempat memimpikan untuk bisa tinggal di rumah yang layak seperti masyarakat lain pada umumnya, sebab kata dia, jika malam tiba, apalagi jika turun hujan, rasa dingin selalu menusuk kulit yang sudah tak mampu lagi menahan cuaca dingin.

"Tapi Apa daya karena memang kenyataannya seperti ini, Cep,” keluhnya seraya menyebut kepada wartawan yang mewawancarai dengan panggilan Acep.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Monday, June 3, 2019

Redaksi sukabumiNews

Tak Mampu untuk Biaya Operasi Anaknya, Bayi Penderita Virus Hidrocefalus Asal Pamuruyan Ini Kepalanya Semakin Membengkak

Perlu perhatian Khusus dari Pemerintah dan Dermawan terkain kondisi balita 6 bulan Penderita Hidrocefalus dan keluarganya ini

sukabumiNews, CIBADAK - Muhamad Fauzan Renaldi, bayi berisia 6 bulan, asal Kampung Cinyocok Rt. 004/008 Desa Pamuruyan Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini kondisi kepalanya semakin membesar lantaran mengalami pembekakan akibat terkena Virus Hedrocefalus sejak lahir.

Reni Damayanti (23) Ibunda Muhamad Fauzan menuturkan, awalnya, saat usia anaknya masih berusia 8 bulan di dalam kandungan dilakukan ultrasonografi (USG), dengan maksud ingin mengetahui kondisi kesehatan Janin Bayi. Dari hasil USG itu Dokter memberikan diagnosa bahwa anak Ia (sang bayi) dinyatakan ada kelainan berupa cairan.

"Begitu Muhamad Fauzan Renaldi lahir dalam usia kandungan cukup normal yaitu 9 bulan, saya melihat dibagian kepalanya sudah nampak adanya benjolan-benjolan," jelas Reni kepada sukabimiNews senin (3/6/2019).

Adapan menurut Reni ayah Muhamad Fauzan dalam kesehariannya sebagai pekerja serabutan, yang terkadang mendapatkan pekerjaan, terkadang tidak.

Pernah ayahnya mendapatkan pekerjaan di Proyek peternakan Ayam tak jauh dari rumahnya, namun hasilnya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan anaknya yang semakin kini semakin mengkhawatirkan.

“Kami selau berupaya untuk kesembuhan anak saya, ia pun sudah saya bawa ke rumah sakit di Cibadak untuk dilakukan perawatan, selama satu minggu satu kali dengan menggunakan KIS (Kartu Indonesia Sehat),” ungkap Reni.

Hanya saja, tutur Reni, pihak rumah sakit hanya memberinya obat batuk dan panas. “Padahal hingga saat ini kondisi anak saya kepalanya semakin hari semakin membesar,” tambahnya.

Memang, tambah Reni lagi, Spesialis Dokter yang bertugas di RS Kartika dan RS Sekarwangi menyarankan agar anaknya segera dilakukan Operasi di bagian kepala lantaran di bagian kepala Muhamad Fauzan Renaldi  mengalami kelebihan cairan.

“Akan tetapi karena saya merasa tidak mampuh untuk membiayai operasi anak saya, sampai sekarang saya belum bisa memenuhi saran dokter terebut,” keluh Reni sambil meneteskan airmata.

Reni berharap agar anaknya lekas sembuh sehat seperti halnya anak -anak yang lain. Reni juga sangat berharap adanya bantuan dan dukungan Pemerintah, baik pemerintah Daerah maupun Pusat atau para relawan, untuk segera bisa mengatasi kondisi yang di derita anaknya.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Sunday, June 2, 2019

Redaksi sukabumiNews

Orangtua Riyan, Bocah Penderita Atresia ini Merasa di PHP Pemkot Sukabumi

Nasib malang yang di alami Riyan Maulana (4), warga Kp. Pangkalan Rt. 001/007 Kelurahan Jaya Mekar Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, Jawa Barat, hingga kini kondisinya masih sangat memprihatinkan.

sukabumiNews, BAROS – Riyan yang merupakan anak ketiga dari pasangan Dedi Setiawan (55) dan Euis Sumarni (31) ini tak mampu bermain layaknya anak-anak lain seusianya. Jangankan bermain untuk berjalan pun Riyan harus mengesot karena kedua kakinya tidak normal.

Derita bocah tanpa Lubang Anus, alat kelamin dan Tulang Punggung Bengkok (Atesia) ini bertambah saat dirinya mendapat Harapan Palsu alias kena PHP.

Hal itu diungkapkan Dedi Setiawan, orang tua kandung Riyan kepada sukabumiNews saat ditemui di rumahnya pada Minggu (2/6/2019).

Menurut Dedi, Riyan sebelumnya memang sudah mendapat bantuan medis dari Pemkot melalui Dinas Kesehatan Kota Sukabumi dengan memberikan rujukan ke RS Hasan Sadikin Bandung menggunakan kartu dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang di bayarkan oleh Pemkot untuk di lakukan Operasi di bagian organ tubuhnya pada bulan Desember 2018 tahun lalu.

"Saat itu Periksaan dilakukan dan ditangani oleh Dr. Tri, spesialis tulang di RS Hasan Sadikin Bandung dengan tahapan pemeriksaan Tromboson, USG, dan Cek darah,” kenang Dedi.

Namun lanjut Dedi pemeriksaan tersendat dan hingga kini masih belum ada tindakan lebih lanjut lantaran keterbatasan ekonomi pihak keluarga.

Dedi beserta keluarganya berharap ada kepastian yang jelas dari Pemerintah, khususnya Pemkot Sukabumi untuk membantu menindak lanjuti proses selanjutnya demi mempercepat bagi penanganan Operasi anaknya, Riyan.

Kerena, jelas Dedi, dengan belum adanya kepastian, kapan akan dilakukan proses operasi, secara tidak langsung biaya yang dikeluarkan untuk mengurus segala kebutuhan Rian sebelum dilakukan operasi, cukup besar. Pasalnya, pihak keluarga harus pulang balik menju Bandung – Sukabumi.

"Sudah 6 kali kami pulang balik ke RS Hasan Sadikin Bandung. Bagi kami, biaya tersebut sudah cukup besar. Sedangkan untuk membeli pampers saja kami sudah kelabakan," tuturnya.

Dilain pihak Dedi mengaku, bebannya sedilit berkurang tatkala keberadaannya di Bandung telah disediakan rumah singgah oleh Pemkot Sukabumi.

Dedi juga juga tidak menampik kebaikan Polresta Sukabumi beserta jajara Ibu Bhayangkari yang sebelumnya pernah menyempatkan diri untuk menengok Riyan.

Keluarga berharap kepada siapapun, terlebih kepada pemerintah untuk membentu demi mempercepat proses operasi anaknya dengan tidak adanya alasan harus menunggu nomor urut antrian mengingat kondisi Rian semakin kini semakin sangat mengkhawatirkan.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Saturday, May 18, 2019

Redaksi sukabumiNews

Bocah 8 Tahun Penderita Tumor Lidah Asal Curugkembar Ini Butuh Uluran Pemerintah

Butuh uluran masyarakat terutama pemeritah untuk membantu meringankan biaya penyembuhan bagi penyakit yang diderita bocar berusia 8 tahun, anak dari pasangan Juheri (59) dan Siti (47) warga yang berasal dari kampung Mekar Wangi Rt. 001/004 Desa Tanjungsari, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini ini lantaran keluarganya termasuk keluarga kurang mampu.
sukabumiNews, CURUGKEMBAR - M. Rais Pratama Rijik (8) Bocah penderita Tumor Lidah, kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, penyakit kangker lidah yang dideritanya semakin hari kian membesar.

Butuh uluran masyarakat terutama pemeritah untuk membantu meringankan biaya penyembuhan bagi penyakit yang diderita bocar berusia 8 tahun, anak dari pasangan Juheri (59) dan Siti (47) warga yang berasal dari kampung Mekar Wangi Rt. 001/004 Desa Tanjungsari, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini ini lantaran keluarganya termasuk keluarga kurang mampu.

Siti, Ibunda Rais mengatakan, penyakit yang diderita anaknya berawal ketika Rais merasakan gatal-gatal di bagian lidah lalu di bawanya berobat ke Puskesmas terdekat. “Ini dilakukan sekitar tanggal 15/11/2018 lalu,” terang Siti kepada sukabumiNews, Sabtu (18/5/2019).

"Dalam kurun satu bulan sepulangnya berobat dari puskesmas, penyakit Rais tak kunjung sembuh yang ada semakin parah dan Rais sudah pernah dibawa ke tiga Rumah Sakit (RS), yaitu RS. Syamsudin, SH (Bunut), RS. Hermina dan RS. Hasan Sadikin Bandung dengan menggunakan Kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kelas III yang berbayar premi bulanannya," ungkap Siti.

Siti juga mengaku, Juheri (59) sebagai suaminya adalah seorang buruh tani yang berpenghasilan pas-pasan. Oleh karenanya disebabkan keterbatasan ekonomi, untuk mengobati penyakit yang diderita anaknya, Siti menggunakan Kartu BPJS Kesehatan Kelas III yang berbayar perbulan, “karena selama ini keluarga kami belum mendapatkan Kartu Indonesia Sehat yang diberikan oleh  Pemerintah bagi Masyarakat tidak mampu secara Gratis,” jelas nya.

Siti berharap Agar Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan untuk pengobatan Rais dan menginginkan Kartu BPJS yang ia miliki di rubah menjadi BPJS Non bayar atau Gratis.


Pewarta: Azis. R
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, April 11, 2019

Redaksi sukabumiNews

10 Tahun Menderita Penyakit Kaki Gajah, Mak Uju Tetap Sabar Jalani Hidup dalam Kondisi Serba Kekurangan

sukabumiNews, CICURUG – Juju Daningsih (62) warga Kp. Sindang Palay RT.03/06, Desa Pasawakan Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah 10 tahun menderita penyakit kaki gajah. Meski begitu, Mak Uju tetap sabar menjalani hudup walau penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh karena ketidak mampuan untuk mengobati penyakitnya tersebut.

Meski memiliki pekerjaan Menyusun Perca Kain untuk dijadikan Lap di bengkel yang lokasinya tak jauh dari rumahnya serta memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), namun dengan upahnya yang hanya sebesar Rp.1000/kg dengan rata-rata per hari, Juju Daningsih yang akrab dipanggil Mak Juju ini hanya mampu membuat sejumlah 5 kg atau sebanding dengan Rp 5000 saja.

“Itu pun kalau ada bahan kainnya. Jadi, jangankan untuk berobat, untuk makan saja saya rasa masih belum cukup,” beber Kristiawan (42) kepada sukabumiNews via WhatsApp nya, Rabu (10/4/19).

Meski demikian, tambah Kristiawan, Mak Uju tidak pernah mengeluh dan cukup bersyukur berapapun penghasilan dan bagaimana pun kondisinya.

“Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk meminta-minta kepada orang lain," jelas Kristiawan,

Mak Uju adalah seorang janda tua yang tinggal di sebuah ruangan sempit berukuran 2,5 x 2 Meter. Alhasil, karena sempitnya, ruang tempat tidur Mak Uju menyatu dengan dapurnya .

Untuk mengobati penyakit kaki gajahnya, sementara ini Mak Uju masih menjalani pemeriksaan secara rutin dari petugas Puskesmas terdekat.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, April 9, 2019

Redaksi sukabumiNews

Tidak Memiliki Rumah, Lansia Lumpuh Ini Tinggal Bertahun-Tahun di Saung Berukuran 2X2 Meter Persegi di Atas Selokan

Pemerintah Daerah seharusnya Membuka Mata melihat kondisi seperti ini

sukabumiNews, KALAPANUNGGAL – Ogan (59), warga Desa Kadununggal, Kecamatan Kalapa Nunggal Kabupaten Sukabumi, sudah bertahun-tahun hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan tidak memiliki rumah tinggal yang layak. Selain hidup sebatang kara lantaran istrinya sudah lama meninggal dan tidak mempunyai keturunan, Ogan juga menderita penyakit kulit dan kelumpuhan.

Jangankan bisa berobat, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja Ia hanya bisa mengharapkan belas pemberian orang lain. Ogan sudah tidak sanggup lagi bekerja untuk mencari nafkah akibat penyakit yang dideritanya sejak satu tahun kebelakang. Bahkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari Ia harus dibantu oleh warga yang merasa kasian.

Saat ini Ogan tngga di Sauang dari Triplek berukuran sekira 2X2 meter persegi di atas selokan kecil di Kp. Legos Kalapanunggal Rt.13/03 Desa Kadununggal Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi dan dirawat oleh beberapa orang warga Desa Kadununggal secara bergantian. Para relawan ini membantu Ogan untuk memapahnya ke tempat Mandi Cuci dan Kakus (MKC), mencarikan makan dan memenuhi kebutuhan pakaian.

"Karena Ogan sudah tidak bisa jalan, jadi kami membantunya secara bergantian jika mempunyai waktu luang," ungkap Taufik Nugraha (30), seorang relawan Kadununggal, kepada sukabumiNews, Senin (8/4/219).

Setiap hari para relawan mencarikan donasi untuk biaya makan dan merawat Ogan lewat media sosial, namun tidak setiap hari mereka mendapatkan bantuan, oleh karena itu Taufik meminta perhatian dari pemerintah untuk mencarikan solusinya.

"Ya namanya pemberian, kadang ada kadang tidak, kami hanya bisa membantu sebatas kemampuan kami, saya berharap pemerintah mencarikan solusi untuk Ogan, karena hari demi hari kondisinya semakin memburuk," jelasnya.


Pewarta : Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
close
close
close