Breaking
loading...
Showing posts with label kasusnovel. Show all posts
Showing posts with label kasusnovel. Show all posts

Friday, April 12, 2019

Redaksi sukabumiNews

FITRA: Presiden Harus Ambil Langkah untuk Tuntaskan Kasus Novel

sukabumiNews, JAKARTA - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) bersama Wadah Pegawai KPK (WP KPK), Koalisi Masyarakat Sipil, Mahasiswa, serta media masa berkumpul melaksanakan rangkaian peringatan 2 (dua) tahun percobaan pembunuhan Novel Baswedan di gedung KPK, Kamis (11/4/19) Kemarin.

"Sudah dua tahun kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dipeti eskan, namun belum ada upaya hukum yang kongkrit, aktor intelektual atas kejadian tersebut juga belum tersentuh. Pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen pun kemudian hanya menjadi wacana belaka, yang muncul kemudian hanyalah tim kecil bentukan kepolisian saja," ujar Sekertaris FITRA Misbah Hasan via sellulernya kepada sukabumiNews.
Misbah menegaskan, kasus Novel Baswedan harus segera dituntaskan. “Kalau tidak, ini akan menunjukan bahwa  upaya terhadap pemberatas korupsi masih nyata lemah,” kata Misbah.

Tidak hanya kasus Novel Baswedan, tambah Dia, teror bom yang terjadi kepada ketua dan wakil ketua KPK dan belum lagi penganiayaan terhadap pegawai KPK di hotel Borobudur menujukan KPK masih perlu kehadiran elemen masyarakat.

Misbah menilai, dua tahun untuk menyelesaikan kasus novel baswedan terlalu lama, kasus novel tentu harus mendapatkan perhatian serius dari aparat penegak hukum bahkan presiden. Oleh sebab itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran menuntut Presiden RI untuk bersikap tegas dan terang memerangi Teror serta pelemahan terhadap KPK dan segera pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen.


Pewarta: Azis R.
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Friday, January 11, 2019

Redaksi Sukabuminews

Kapolri Bentuk Tim Khusus Kasus Novel, Libatkan Densus 88

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menerbitkan surat tugas untuk membentuk tim gabungan dan penyidikan untuk kasus penyiraman air keras penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.
Jakarta, SUKABUMINEWS – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menerbitkan surat tugas untuk membentuk tim gabungan dan penyidikan untuk kasus penyiraman air keras penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Dalam surat tugas tersebut, Tito menunjuk Kapolda Metro Jaya Irjen Irjen Pol Idham Azis sebagai ketua tim. Ia didukung Karobinops Bareskrim Polri Brigjen Pol Nico Afinta sebagai wakil ketua tim.

Surat tugas bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 sudah ditandatangani oleh Tito pada 8 Januari 2019 atau tiga hari silam. Dari surat itu diketahui setidaknya ada 65 nama yang masuk dalam tim gabungan tersebut. Dilibatkan pula dalam tim itu anggota Densus 88 Antiteror Polri serta tim dari KPK.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Muhammad Iqbal mengonfirmasi surat tugas tersebut. Iqbal mengatakan surat Kapolri itu sebagai bentuk tindak lanjut atas rekomendasi Komnas HAM untuk mengusut perkara Novel.

"Surat perintah tersebut adalah menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam perkara Novel Baswedan," ucap Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/1), dikutip sukabumiNews dari CNN Indonesia.

[Kapolri, Jenderal Tito Karnavian]
Dalam suratnya Tito disebutkan menjadi penanggung jawab tim tersebut. Dia didukung Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto sebagai wakil penanggung jawab.

Tim itu juga didukung tim pakar yang terdiri atas sejumlah nama. Mereka adalah mantan wakil ketua KPK Indriyanto Seno Adji, peneliti utama LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti.

Selain itu ada mantan Komisioner Komnas Ham Nur Kholis dan eks ketua Komnas HAM yang kini dikenal sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ifdhal Kasim.

Mengenai tanggal penandatanganan yang sudah berlalu sejak tiga hari lalu, Iqbal tak ambil pusing.

"Yang jelas belum sangat terlambat," imbuhnya.

Rekomendasi Komnas HAM yang dimaksud dalam surat tugas ini terjadi pada 21 Desember 2018. Saat itu Komnas HAM menyerahkan hasil kerja tim pemantau kasus Novel Baswedan ke KPK.

Novel mendapat serangan berupa siraman air keras ke wajahnya pada 11 April 2017. Saat itu, Novel baru saja menunaikan salat Subuh di masjid dekat rumahnya. Akibat serangan itu, kedua mata Novel terluka. (SN/ CNN Indonesia)
close
close
close