Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Thursday, October 8, 2020

Red1

FPRN Kecam Orang yang Diduga Aparat Perampas HP Wartawan Peliput Aksi Demo Buruh Tolak RUU Ciptaker di Sukabumi

Ilustrasi: Demo menolak RUU Cipta Kerja. 

sukabumNews.net, SUKABUMI – Aksi unjuk rasa yang dilakukan para buruh dan mahasiswa terkait penolakan RUU Cipta Kerja di Kota Sukabumi berujung caos. Bahkan Handphone seorang Wartawan saat melakukan tugas liputan dirampas dan dihapus dokumen hasil liputannya oleh dua orang tak dikenal.

Diduga, pelaku perampasan adalah oknum aparat yang tengah mengamankan aksi demonstrasi itu sendiri.


Informasi yang dihimpun sukabumiNews, kericuhan itu bermula saat pendemo melakukan aksi di depan Balai Kota Sukabumi di Jalan Syamsudin. Dalam aksinya di depan Balai Kota, mahasiswa memaksa masuk dan mendobrak pintu gerbang Balai Kota sekaligus Sekretariat Daerah (Sekda).

 

Usai dari Balai Kota, Mahasiswa dari berbagai organisasi itu kemudian bergerak menuju gedung DPRD Kota Sukabumi. Sambil berorasi mahasiswa perlahan mendekat ke arah Gerbang DPRD.


Aksi tiba-tiba pecah, ketika mahasiswa mulai saling dorong dengan aparat yang menjaga gerbang DPRD.

 

Di tengah kericuhan, seorang jurnalis media online, Fauzi Noviandi tiba-tiba didekati dua orang pria yang meminta video hasil liputan gambar yang baru saja diambilnya untuk segera dihapus.

 

"Mereka datang berdua satu dari arah depan dan satu lagi dari arah belakang, langsung bilang minta video dihapus. Lalu telepon seluler saya diambil, mereka langsung menghapus beberapa rekaman yang saya ambil saat bentrokan pecah," ungkap Fauzi kepada sukabumiNews, Kamis (8/10/2020).

 

Menurut Fauzi, Meski kedua orang tersebut mengetahui bahwa dirinya seorang jurnalis, lantaran saat ia meliput, kartu identitas jurnalisnya masih tergantung di leher, namun keduanya seolah tidak peduli dengan keberadaan Fauzi yang tengah bertugas menjalankan profesinya.

 

"Semua video di hapus, detik-detik bentrok dan semua kejadian hari tadi dihapus. Saya merasa terintimidasi dengan kedatangan dua orang itu, mereka berpakaian preman satu rambutnya agak panjang satu lagi sedikit cepak, dan tidak dikenal," beber Fauzi.

 

Di sisi lain, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sumarni, mengatakan pihaknya memohon maaf atas insiden tersebut. Dan akan segera menyelidiki kasus perampasan itu.

 

"Saya akan menyelidiki kasus ini dan berikan waktu selama tiga hari, dan rekan-rekan diminta untuk menunggu hasilnya," ujar AKBP Sumarni.

 

Di lain pihak, Ketua Forum Pimpinan Redaksi Nasional (FPRN) Boni Antolan mengatakan, pihaknya tidak mau berspekulasi  terkait latar belakng yang memicu aksi perampasan tersebut.

 

"Apa pun dalihnya, ketika seorang wartawan mengalami tindakan kekerasan atau perampasan saat melaksanakan tugas jurnalistik, jelas itu pelanggaran hukum. Dalam melaksanakan tugas, wartawan dilindung Undang-Undang Nomor: 40 tahun 1999 tentang Pers," kata Boni.

 

Karena itu, lanjut Boni, FPRN meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus itu sesuai aturan hukum yang berlaku.


BACA Juga: Pemimpin Redaksi sukabumiNews.net Kecam Keras Pengeroyokan Terhadap Wartawan Media Cetak dan Online di Lampura

 

Pewarta : Azis Ramdhani

Editor : AM

COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2020 

Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close