Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Thursday, April 9, 2020

Redaksi sukabumiNews

Ini 3 Negara dengan Kasus Positif Corona Tertinggi di Dunia

Presiden Amerika, Donald Trump
Presiden Amerika, Donald Trup. (Images: By Tom Pennington/Getty)
sukabumiNews.net, JAKARTA – Wabah virus corona atau Covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tercatat, sudah terjadi lebih dari satu juta kasus positif corona di dunia. Bahkan, beberapa negara mencatatkan ratusan ribu kasus virus yang telah menewaskan 50 ribuan nyawa ini.

Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh banyak negara untuk menghentikan penyebaran virus corona, mulai dari lockdown hingga isolasi mandiri. Meski demikian, tren kenaikan jumlah penderita virus corona masih belum melandai.

Berikut Negara-negara yang memiliki jumlah kasus positif corona paling tinggi di dunia seperti dilansir Warta Ekonomi.

1. Amerika Serikat

Negara Amerika Serikat merupakan negara pertama dengan jumlah positif virus corona tertinggi di dunia yakni sebanyak 245.373 kasus per 3 April 2020. Dari jumlah kasus tersebut, AS mencatatkan 6.095 kasus kematian dan 10.411 pasien berhasil sembuh.

Sejauh ini kota New York menjadi pusat penyebaran virus corona di Negeri Paman Sam dengan jumlah sebanyak 93.053 kasus. Kota lain di AS yang mencatatkan jumlah kasus positif corona tertinggi yakni New Jersey (25.590 kasus) dan California (11.207 kasus).

Baru-baru ini pemerintahan Donald Trump melakukan manuver untuk mengatasi wabah virus corona dengan cara menerima bantuan 60 ton peralatan medis dari negara rival mereka: Rusia. Meski demikian, Washington mengklaim mereka harus membayar kepada Moskow untuk mendapatkan pasokan alat medis tersebut.

"Saya tidak peduli dengan propaganda Rusia, bahkan sedikit pun. Dia (Putin) menawarkan banyak peralatan medis berkualitas tinggi yang saya terima. Dan itu mungkin menyelamatkan banyak nyawa. Saya akan menerimanya setiap hari," kata Trump, seperti dikutip Reuters, Jumat (3/4/2020).

2. Italia

Negara Italia merupakan negara kedua dengan jumlah positif virus corona tertinggi di dunia yakni sebanyak 115.242 kasus. Selain itu, Italia mencatatkan 13.915 kasus kematian yang menjadikan negara ini sebagai negara dengan jumlah kematian virus corona tertinggi di dunia.

Bukan hanya memiliki jumlah kematian tertinggi, Italia juga memiliki rapor mengerikan dari jumlah kasus kematian baru per hari. Misalnya, pada Italia mencatatkan 760 kematian baru pada 2 April 2020, 727 kematian baru pada 1 April, 837 kematian baru (31 Maret), dan 812 kematian baru (30 Maret).

Berbagai catatan buruk ini telah menggerakkan banyak pihak untuk membantu Italia mengatasi wabah virus corona. Teranyar, Facebook meluncurkan layanan di Italia untuk memeriksa keakuratan informasi tentang Covid-19 yang beredar di platform perpesanannya WhatsApp.

Facebook mengatakan pihaknya bekerja dengan layanan pengecekan fakta lokal yakni Facta yang menganalisis konten yang beredar di WhatsApp, termasuk video, audio, atau foto.

3. Spanyol

Negara Spanyol merupakan negara ketiga dengan jumlah positif virus corona tertinggi di dunia yakni sebanyak 112.065 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, Spanyol mencatatkan 10.935 kasus kematian dan 30.513 pasien berhasil sembuh.

Banyak orang bertanya-tanya kenapa penyebaran virus corona begitu cepat di Spanyol. Salah satu alasannya adalah pemerintah Spanyol dianggap kurang tanggap dalam mempersiapkan langkap mitigasi terhadap wabah virus corona.

Misalnya, pemerintah Spanyol sempat menolak untuk menerapkan pembatasan ketat di negara tersebut. Saat negara-negara Eropa lain memberlakukan lockdown, ratusan ribu orang di Spanyol masih bebas berkumpul di Kota Madrid untuk merayakan Hari Perempuan.

Sampai akhirnya terjadi lonjakan kasus virus corona yang begitu tinggi sehingga menyebabkan krisis kesehatan di negara tersebut.
Pewarta: Redaktur
Editor: Red.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2020
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

close