Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Wednesday, November 20, 2019

Redaksi sukabumiNews

Ajak Tommy Soeharto Beroposisi, Logistik Politik PKS Diduga Menipis

sukabumiNews, JAKARTA – Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai pertemuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Partai Berkarya besutan Tommy Hutomo Mandala Soeharto di kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019) diyakini banyak kalangan tidak akan berdampak besar bagi konstelasi politik tanah air.

"Selain PKS yang dicerai oleh Prabowo yang merapat ke kubu koalisi pemerintah sehingga menjadi satu-satunya motor oposisi, ketiadaan wakil Partai Berkarya di Senayan juga menjadi sebab utama "bangun" skema oposisi menjadi prematur," kata Ari Junaedi di Jakarta, dikutip dari rri.co.id, Rabu (20/11/2019).

Menurut Ari dari sisi logistik, tentu PKS akan diuntungkan dengan dibangunnya poros Simatupang - Cendana mengingat amunisi PKS yang kian menipis karena posisinya di luar pemerintah. Sementara bagi Berkarya, walau partainya tidak lolos ke Senayan namun "cantelan" politik harus terus diamankan.

"Satu-satunya partai yang memungkinkan diajak untuk ikut meneruskan semangat membangkitkan Orde Baru tentu adalah PKS," ujarnya.

Ari melihat usai gelaran Pilpres kemarin dengan merapatnya Gerindra ke kubu Jokowi, klan Cendana harus memutar bandul politiknya ke kubu oposisi. Menurutnya  stok yang masih tersisa hanyalah PKS.

"Saya tidak yakin Demokrat akan mau diajak "reriungan" dengan Berkarya dan PKS mengingat level AHY tidak sebangun dengan Tommy. Sedangkan PAN akan terus mengambang menunggu limpahan "sisa" dari jatah kekuasaan eksekutif yang mungkin diberikan Jokowi," urai Ari Junaedi.

Menurut pendiri Nusakom Pratama Political Consultant ini, antara PKS dan Berkarya akan timbul simbiosa yang saling menguntungkan. Bagi PKS, masuknya klan Soeharto ke jalur Simatupang (penyebutan untuk lokasi kantor DPP PKS di TB Simatupang, Jakarta) menjadikan pengaman untuk aspek logistik sekaligus mencegah manuver "adik barunya" yakni Partai Gelora besutan Anies Matta dan Fahri Hamzah untuk mencari sandaran ke Cendana.

Sebaliknya bagi Berkarya, lanjut Ari kekuatan militansi dan loyalitas PKS serta akses politik ke Senayan adalah komoditas yang harus dikuasai. Menurutnya gaya-gaya politik Soeharto masih dipraktekan oleh keturunannya yakni dengan merangkul kekuatan Islam untuk memenuhi ambisi politiknya.

"Cendana masih harus mencari "tameng" politik untuk mengantisipasi terjadinya gugatan hukum atau munculnya daya ungkit  baru terhadap praktek-praktek KKN Soeharto selama ini. Cendana begitu kecewa dengan berubah haluannya Gerindra," ungkap Ari Junaedi.

Pewarta: KBRN
Editor: Red
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2019
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close