Breaking
loading...
Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Sunday, July 14, 2019

Redaksi3

Diduga Selingkuh, Oknum Bidan Puskesmas dan Pegawai Dinkes Kabupaten Sukabumi Dipolisikan

oknum bidan
sukabumiNews, BANTARGADUNG - Seorang Bidan berinisial CT (26) diduga melakukan perselingkuhan dengan oknum pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, berinisial TGH (38). Mereka belum lama ini dilaporkan oleh Dika (28) yang diketahui sebagai suami CT. Laporan polisi itu tertanggal 13-06-2019 di Polsek Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya melaporkan mereka karena memiliki bukti perselingkuhan. Ada komunikasi syur yang saya ketahui dari HP istri. Ada bukti Screenshoot WA dan SC Video Call nya," kata Dika kepada sukabumiNews melalui sellulernya, Sabtu (14/07/2019).

Kepada sukabumiNews Dika menuturkan kronologi masalah yang dia hadapi hingga terjadinya melaporkan ke Polsek Warungkiara. Dikatakan Dika, sebelumnya ia secara tidak sengaja membaca pesan whatAps di Hp milik Istrinya. Kemudian Dika langsung mengscreenshot semua percapakan. Dika menuturkan, komunikasi itu terjadi hampir setiap hari baik siang maupun malam.

Tadinya lanjut Dika, ia mencoba positif thingking saja, namun ketika dirasa sudah berlebihan, Dika memberanikan diri mengambil HP istrinya dan menemukan fakta atas semua kecurigaannya yang tampak pada komunikasi antara istri dan selingkuhannya itu.

"Istri Saya masih berstatus sebagai Bidan Puskesmas. awalnya, saya kira hanya sebatas komunikasi dengan rekan kerja saja, lama-lama terlihat berlebihan, saya curiga karena isteri bersikap tidak biasa kepada saya layaknya seorang suami," tutur Dika.

Setelah kejadian itu, dia dibantu oleh keluarganya mulai mencari fakta lain terkait hubungan istrinya itu. Akhirnya, tidak membutuhkan waktu lama, Dika pun langsung mengetahui profil selingkuhan istrinya itu. Selingkuhannya diketahui tercatat sebagai pegawai honorer pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, lengkap dengan alamat dan aktivitas sehari-harinya.

Setelah dirasa cukup bukti, akhirnya pada tanggal 13 Juni lalu, dirinya memberanikan diri melaporkan istri dan terduga selingkuhannya ke Polsek Warungkiara.

"Saya sudah membuat laporan resmi ke Polsek Warungkiara dan membuat pengaduan ke Puskesmas Bantargadung agar ditindaklanjuti ke Dinas Kesehatan. Tapi, hingga saat ini mereka masih belum diberikan sanksi apa pun," ungkap Dika terdengar kecewa.

Dikonfirmasi sukabumiNews, Kepala Puskesmas Bantargadung Unaryadi membenarkan adanya informasi skandal yang dilakukan oleh pegawainya itu bernama Bidan CT(26).

"Kami sudah panggil yang bersangkutan atas permohonan pelapor yang diketahui suaminya bernama DiKa (28). Kami juga sudah melayangkan surat ke bagian umum dan kepegawaian pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi untuk memanggil terlapor yang diduga menjadi selingkuhan Bidan CT," jelas Kapus Bantargadung itu.

Sementara dihubungi terpisah, Sekretaris pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, H. Harun Al-Rasyid menegaskan, pihak Dinas Kesehatan akan menindak tegas para pelaku pelanggaran kode etik pegawai. Apalagi, kata Harun, kasusnya berupa skandal pegawai yang dapat mencoreng nama baik lembaga.

"Jika terbukti melakukan pelanggaran etik atau perbuatan skandal, kami tidak segan-segan memberi Sanksi administrasi hingga pemberhentian kerja," tegas Sekdinkes, H. Harun Al-Rasyid.


Pewarta : Azis. R
Editor: Agus. S
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Wednesday, June 26, 2019

Redaksi sukabumiNews

Mengamuk Ingin Bertemu Jokowi, Emak-emak Berdaster Diamankan di MK

sukabumiNews, JAKARTA – Jelang putusan gugatan Prabowo - Sandi, gedung Mahkamah Konstitusi (MK) dijaga aparat gabungan Polri dan TNI. Namun, tiba-tiba ada seorang emak-emak berusia sekitar 30 tahun mengamuk di seberang gedung MK, Rabu (26/6/2019).

Seorang wanita diamankan di depan gedung Mahkamah Konstitusi, Rabu, (26/6). Foto: Dok. Istimewa
Aparat kepolisian kemudian mengamankan wanita yang belum diketahui identitasnya itu. Dari pantauan kumparan, wanita itu diamankan lantaran terus mengamuk dan meminta bertemu Presiden Jokowi. Wanita itu terlihat mengenakan pakai daster berwarna merah muda.

Dilansir laman Kumparan.com, awalnya, wanita tersebut terlihat menangis di sekitar trotoar sebrang gedung MK. Saat itu juga, aparat kepolisian yang berjaga langsung menghampiri wanita tersebut.

Namun, ternyata setelah dihampiri oleh aparat kepolisian, wanita tersebut justru makin mengamuk lebih keras. Polwan yang berjaga langsung mengamankan wanita tersebut dan membawa ke Posko Ditreskrimum Polda Metro Jaya di depan MK.

Massa saat aksi selawatan di depan gedung Mahkamah Konstitusi. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Salah satu petugas kepolisian yang berada di lokasi mengatakan, wanita tersebut diduga mengalami gangguan jiwa. Sebab, saat ditanya, dia mengaku ingin bertemu dengan Jokowi dan hendak bunuh diri.

"Diduga stres, dia meminta ketemu Presiden Jokowi, katanya mau bunuh diri," ujar petugas kepolisian.

Sidang putusan gugatan Prabowo - Sandi terkait sengketa Pilpres 2019 akan digelar pada Kamis (27/6) besok. Sejak Selasa (25/6), berdatangan massa yang menggelar doa bersama dan unjuk rasa di sekitar MK yang bertajuk 'Halalbihalal 212'.

Pewarta: Kumparan
Editor: Red
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Sunday, June 23, 2019

Redaksi sukabumiNews

Puluhan Warga Cianjur Mengalami Keracunan Ikan Pindang, 2 Orang Lainnya Meninggal Dunia

sukabumiNews, CIANJUR – Puluhan warga Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, Jawa Barat mengalami keracunan dan dua orang lainnya meninggal dunia usai menyantap ikan pindang yang dibeli saat acara perpisahan dan kenaikan kelas.

Seorang korban keracunan makanan yang dirawat di Puskesmas Sindangbarang, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (22/6/2019). Ada 70 orang yang dirawat dan 50 diantaranya diperbolehkan pulang. (ANTARA FOTO)
Tercatat 70 warga Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, menjalani perawatan di puskesmas setempat setelah mengkonsumsi ikan pindang yang mereka beli di halaman SDN Ciseureuh saat ada acara perpisahan.

"Dua orang diantaranya meninggal dunia dan beberapa orang harus dirawat secara intensif di Puskesmas dan di rumah. Keracunan massal tersebut pertama kali diketahui setelah beberapa orang warga mengeluhkan pusing, mual dan muntah-muntah," kata Kapolsek Sindangbarang AKP Nandang, Sabtu, (22/6/2019), dikutip dari laman ANTARA.

Ia menjelaskan, awalnya warga menduga hal tersebut karena kondisi tubuh yang berubah akibat cuaca yang memasuki peralihan musim, namun jumlahnya terus bertambah, hingga sore tercatat 20 orang masih menjalani perawatan intensif di Puskemas setempat.

Sedangkan dua orang warga meninggal akibat keracunan makanan yaitu Ahmad Sadili (56) dan Rindi (11) yang sempat dibawa ke Puskesmas, namun nyawanya tidak tertolong.

"Penyebab keracunan diduga dari ikan pindang yang dijual pedagang keliling saat acara perpisahan sekolah SDN Ciseureuh di Desa Jayagiri," katanya.

Sementara beberapa orang korban mengeluhkan hal yang sama, merasakan pusing, mual-mual dan muntah selang beberapa saat setelah mengkonsumsi ikan pindang.

"Sekitar setengah jam setelah mengkonsumsi ikan pindang, tiba-tiba kepala menjadi pusing, perut mual-mual dan muntah. Perut seperti dikuras, sehingga kami membawa anak dan istri yang mengalami keracunan ke Puskesmas," kata Iman keluarga korban keracunan.


Pewarta: Antara
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Friday, June 14, 2019

Redaksi sukabumiNews

Geger, Seorang Satpam Tewas Gantung Diri di Cikembar

Korban tergantung di dahan sebuah pohon (kiti). Korban saat ditolong untuk diturunkan oleh aparat dibantu oleh warga. (foto: Azis R/sukabumiNews)   
sukabumiNews, CIKEMBAR – Geger, seorang pria ditemukan tewas tergantung di ketinggian lebih kurang 1 meter di dahan sebuah pohon dengan leher terjerat seutas tali tambang. Peristiwa ini terjadi di Kampung Cilaksana Bojongkembar Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi Jawa Barat sekira pukul 07.00 Wib, Jumat (14/6/2019) pagi.

"Sekitar pukul 07.00 Wib pagi tadi kami menerima laporan dari warga telah ditemukan sesosok pria tergantung di pohon, kita langsung meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP). kemudian kami membawa ke puskesmas dahulu untuk memastikan apakah masih bernyawa, dan ada luka lainnya atau tidak," ujar Kapolsek Cikembar, AKP. I. Djubaedi kepada sukabumiNews dikantornya, Jum'at.

AKP. I. Djubaedi mengungkapkan, korban diketahui bernama Eda Afriansyah (45) tahun, warga Kp. Cipanas Cikundul Rw. 006 Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.

Menurut Informasi yang dihimpun, sebelum kerjadian, korban mengalami cekcok (perselisihan) dengan istrinya. Setelahnya, korban pergi ke rumah saudaranya di Kp. Cilaksana, Bojongkembar untuk menghadiri acara syukuran.

“Ke-esokan harinya korban sudah tergantung dengan kondisi tali terjerat di lehernya dengan lidah menjulur," terang AKP. I. Djubaedi.


Kapolsek menjelaskan, menurut warganya korban merupakan sosok yang baik dan mudah bergaul, akrab dengan masyarakat. Selain itu, tambah Kapolsek, dia bekerja sebagai Satpam di tempat pemandian Air Panas Cikundul.

Hingga berita ini ditayangkan, Pihak Polsek Cikembar belum bisa memastikan penyebab pasti dari kejadian ini. Pihak keluarga korban  pun tidak menginginkan untuk dilakukan Otopsi, bahkan saat instri korban dimintai keterangan oleh Aparat Kepolisian, ia malah tidak sadarkan diri.

“Dugaan sementara, korban melakukan gantung diri akibat depresi lantaran tuntutan ekonomi," tutup Kapolsek.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, June 13, 2019

Redaksi sukabumiNews

Kapolri : Polri Tak Pernah Nyatakan Kivlan Zen Dalang Rusuh 21-22 Mei 2019

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) disaksikan Menko Polhukam Wiranto (kiri) dan Kepala KSP Moeldoko (kanan) menunjukkan barang bukti senjata api saat menyampaikan konferensi pers perkembangan pascakerusuhan di Jakarta dini hari tadi, di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (22/5/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto  
Kapolri meminta media massa melakukan pelurusan berita soal dalam rusuh 21-22 Mei 2019.

sukabumiNews, JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan Polri tak pernah mengatakan Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebagai pelaku dalang kisruh pada aksi 21-22 Mei lalu. Apa yang dikatakan pihak Polri di Kemenko Polhukam adalah kronologis peristiwa.

"Tolong dikoreksi bahwa dari Polri tidak pernah mengatakan dalang kerusuhan itu adalah pak Kivlan Zen, enggak pernah. Yang disampaikan oleh Kadiv Humas pada saat press release di Polhukam adalah kronologi peristiwa di 21-22 Mei," kata Tito di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (13/6/2019).

Diduga aksi berujung kisruh tersebut telah di-setting, sebab polisi menemukan berbagai barang bukti seperti bom molotov, panah, parang, dan roket mercon. "Itu pasti dibeli sebelumnya. Kemudian ada mobil ambulans yang isinya bukan peralatan medis, tapi peralatan kekerasan," ujar Tito.

"Itu memang kalau saya berpendapat peristiwa jam 22.30  dan selanjutnya sudah ada yang men-setting. Tapi tidak menyampaikan itu Pak Kivlan Zen," kata Tito.

Polisi juga menyampaikan bahwa dalam peristiwa itu ada korban sembilan orang meninggal dunia serta korban luka-luka baik dari kelompok perusuh maupun dari petugas. "Petugas itu 237 yang terluka, sembilan dirawat satu rahang pecah. banyak tidak di-cover," ujar Tito.

Tito juga mengatakan dari sembilan korban yang tewas, ada yang karena benda tumpul, bisa karena pukulan petugas, dilempar batu oleh yang lain dalam posisi tak saling kenal. "Jadi bisa saja dia salah lihat, lempar kena batu dan jadi korban," ujar Tito.

Selain itu, lanjut Tito, ada korban menderita luka tembak. Namun, ia mengatakan sulit dibuktikan kecuali ada video yang merekam asal tembakan. Tetapi, bila penembakan itu berasal dari anggota polisi, ia minta diselidiki.

Belum bisa disebutkan juga apakah berasal dari peluru karet atau tajam. "Yang ditemukan ada peluru proyektil 5,56 milimeter dan 9 milimer. Dua ini kita telusuri siapa pelaku penembakannya. Kalau ternyata itu keluar dari salah satu senjata aparat maka kita akan investigasi apakah sesuai SOP (peraturan), apakah eksesif atau pembelaan diri, pembelaan diri diatur dalam pasal 48/49," ucap Tito.

Kivlan Zen saat ini ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal dan tengah menjalani penahanan di Rutan POM Jaya, Guntur, Jakarta Selatan, selama 20 hari.

Artikel ini telah tayang di laman Bisnis.com dengan judul yang sama.



Pewarta: Antara
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, June 11, 2019

Redaksi sukabumiNews

Eks Anggota Diduga Dalang Aksi Kerusuhan 22 Mei, Apa Itu Tim Mawar?

Kerusuhan 21-22 Mei (Gambar Istimewa).  
Tim Mawar terlibat dalam kasus penculikan aktivis 1998

sukabumiNews, JAKARTA - Mantan anggota Tim Mawar yang terlibat dalam penculikan aktivis 1998, Fauka Noor Farid, diduga terlibat di balik aksi demonstrasi yang berakhir ricuh pada 22 Mei 2019 lalu.

Dalam laporan Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019 bertajuk 'Tim Mawar dan Rusuh Sarinah' menjelaskan bahwa Fauka merupakan mantan anak buah Calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto, di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Lalu, apa sebenarnya Tim Mawar itu?

1. Dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi

Dilansir dari berbagai sumber, Tim Mawar adalah sebuah tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup IV, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Tim ini adalah dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi.

Kasus penculikan ini menyeret 11 anggota Tim Mawar ke pengadilan Mahmilti II pada bulan April 1999. Saat itu, Mahmilti II Jakarta yang diketuai Kolonel CHK Susanto, memutus perkara nomor PUT.25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999 yang memberi vonis kepada Mayor Inf Bambang Kristiono (Komandan Tim Mawar) dengan 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI.

Pengadilan juga memberi vonis pada Kapten Inf Fausani Syahrial Multhazar (Wakil Komandan Tim Mawar), Kapten Inf Nugroho Sulistiyo Budi, Kapten Inf Yulius Selvanus, dan Kapten Inf Untung Budi Harto, masing-masing 20 bulan penjara dan memecat mereka sebagai anggota TNI.

Sedangkan, 6 prajurit lainnya dihukum penjara tetapi tidak dikenai sanksi pemecatan sebagai anggota TNI. Mereka itu adalah Kapten Inf Dadang Hendra Yuda, Kapten Inf Djaka Budi Utama, Kapten Inf Fauka Noor Farid, di mana masing-masing dipenjara 1 tahun 4 bulan. Sementara Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan Sertu Sukadi hanya dikenai hukuman penjara 1 tahun.

Menurut pengakuan komandan Tim Mawar, Mayor Bambang Kristiono, di sidang Mahkamah Militer, seluruh kegiatan penculikan aktivis itu dilaporkan kepada komandan grupnya, yakni Kolonel Chairawan K. Nusyirwan, tetapi sang komandan tidak pernah diajukan ke pengadilan sehingga tidak bisa dikonfirmasi.

Sementara itu tanggung jawab komando diberlakukan kepada para perwira pemegang komando pada saat itu. Dewan Kehormatan Perwira telah memberikan rekomendasi kepada Pimpinan ABRI.

Dilansir dari Majalah Tempo edisi 1998, Tim Mawar yang dibentuk pada 1997 lalu ini  menargetkan atau menangkap para aktivis radikal.

Pada persidangan yang digelar di Mahkamah Militer Tinggi II-08 Jakarta tahun 1998, Bambang mengaku menculik atas dasar hati nurani. Ia mengaku tergerak melakukannya demi mengamankan kepentingan nasional. Menurut Bambang, tindakan para aktivis akan mengganggu stabilitas nasional.

2. Penculikan aktivis 1998

Penculikan aktivis 1998 adalah peristiwa penghilangan orang secara paksa atau penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1997 dan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1998.

Peristiwa penculikan ini berlangsung dalam tiga tahap yaitu, menjelang Pemilu Mei 1997, dalam waktu dua bulan menjelang sidang MPR bulan Maret, sembilan di antara mereka yang diculik selama periode kedua dilepas dari kurungan dan muncul kembali. Beberapa di antara mereka berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka. Tapi tak satu pun dari mereka yang diculik pada periode pertama dan ketiga muncul.

Selama periode 1997-1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat-alat negara. Dari angka itu, 1 orang ditemukan meninggal (Leonardus Gilang), 9 orang dilepaskan penculiknya, dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini. Dan penculikan itu terjadi saat masa kepemimpinan Jenderal tertinggi ABRI yang kini menjabat sebagai Menko Polhukam, Wiranto.

Sembilan aktivis yang dilepaskan adalah:

1. Desmond Junaidi Mahesa, diculik di Lembaga Bantuan Hukum Nusantara, Jakarta, 4 Februari 1998.

2. Haryanto Taslam.

3. Pius Lustrilanang, diculik di RSCM, 2 Februari 1998.

4. Faisol Reza, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998.

5. Rahardjo Walujo Djati, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998.

6. Nezar Patria, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

7. Aan Rusdianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

8. Mugianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

9. Andi Arief, diculik di Lampung, 28 Maret 1998.

Ke-13 aktivis yang masih hilang dan belum kembali berasal dari berbagai organisasi, seperti Partai Rakyat Demokratik, PDI Pro-Megawati, dan para mahasiswa. Berikut daftarnya:

1. Petrus Bima Anugrah (Mahasiswa Universitas Airlangga dan STF Driyakara, aktivis SMID, hilang di Jakarta pada 30 Maret 1998)

2. Herman Hendrawan (Mahasiswa Universitas Airlangga, hilang setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998)

3. Suyat (Aktivis SMID, dia hilang di Solo pada 12 Februari 1998)

4. Wiji Thukul (Penyair, aktivis JAKER. Dia hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998)

5 . Yani Afri (Sopir, pendukung PDI dan Megawati, ikut koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997, sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 26 April 1997)

6. Sonny (Sopir, teman Yani Afri, pendukung PDI Megawati. Hilang di Jakarta pada 26 April 1997)

7. Deddy Hamdun (Pengusaha, aktif di PPP dan dalam kampanye 1997 Mega-Bintang. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

8. Noval Al Katiri (Pengusaha, teman Deddy Hamdun, aktivis PPP. Dia hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

9. Ismail (Sopir Deddy Hamdun. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

10. Ucok Mundandar Siahaan (Mahasiswa Perbanas, diculik saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta)

11. Hendra Hambali (Siswa SMA, raib saat kerusuhan di Glodok, Jakarta, 15 Mei 1998)

12. Yadin Muhidin (Alumnus Sekolah Pelayaran, sempat ditahan di Polres Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 14 Mei 1998)

13. Abdun Nasser (Kontraktor, hilang saat kerusuhan 14 Mei 1998, Jakarta)

Mugiyanto, Nezar Patria, Aan Rusdianto (korban yang dilepaskan) tinggal satu rumah di Rusun Klender bersama Bimo Petrus (korban yang masih hilang). Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati (korban yang dilepaskan), dan Herman Hendrawan (korban yang masih hilang) diculik setelah ketiganya menghadiri konferensi pers KNPD di YLBHI pada 12 Maret 1998.

3. Kasus diselidiki Komnas HAM

Kasus ini kemudian diselidiki oleh Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) berdasar UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung pada 2006. Tim penyelidik Komnas HAM untuk kasus penghilangan orang secara paksa ini bekerja sejak 1 Oktober 2005 hingga 30 Oktober 2006.

Ada pun jumlah korban atas penghilangan orang tersebut adalah 1 orang terbunuh, 11 orang disiksa, 12 orang dianiaya, 23 orang dihilangkan secara paksa, dan 19 orang dirampas kemerdekaan fisiknya secara sewenang-wenang.

Abdul Hakim Garuda Nusantara (Ketua Komnas HAM pada 2006) meminta agar hasil penyelidikan yang didapat dapat dilanjutkan oleh Kejaksaan Agung untuk membentuk tim penyidik. Hal ini karena, telah didapat bukti permulaan yang cukup untuk menyimpulkan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sementara itu, asisten tim ad hoc penyidik peristiwa penghilangan orang secara paksa pada 1997-1998, Lamria, menyatakan ada beberapa orang dari 13 aktivis yang masih dinyatakan hilang tersebut diketahui pernah berada di Pos Komando Taktis (Poskotis) Kopassus yang terletak di Cijantung, Jakarta.

Komnas HAM menyimpulkan ada bukti permulaan pelanggaran HAM berat dalam kasus penghilangan orang secara paksa selama 1997-1998. Kesimpulan ini didasarkan penyelidikan dan kesaksian 58 korban dan warga masyarakat, 18 anggota dan purnawirawan Polri, serta seorang purnawirawan TNI.

Pada 22 Desember 2006, Komnas HAM meminta DPR agar mendesak Presiden mengerahkan dan memobilisasi semua aparat penegak hukum untuk menuntaskan persoalan.

Ketua DPR Agung Laksono pada 7 Februari 2007 juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, melakukan penyelidikan dan penyidikan berdasarkan temuan Komnas HAM untuk menuntaskan kasus penculikan 13 aktivis.

4. Fauka disebut berada di Sarinah saat terjadinya kerusuhan pada 22 Mei

Berdasarkan penelusuran Tempo, disebutkan bahwa Fauka berada di kawasan Sarinah tepatnya di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI saat terjadinya peristiwa kerusuhan 22 Mei lalu.

Tak hanya itu, dijelaskan pula terdapat sebuah transkrip percakapan yang mengungkap jika Fauka beberapa kali melakukan komunikasi dengan Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya, Dahlia Zein, tentang kerusuhan yang terjadi di sekitar kawasan Bawaslu.

5. Polri masih mendalami terkait kabar tersebut

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terkait hasil laporan yang diungkapkan oleh Majalah Tempo.

"Pada prinsipnya, penyidik melakukan upaya-upaya penyelidikan dengan memperhatikan berbagai sumber informasi, termasuk dari media tersebut. Yang jelas tentunya semua menggunakan metode khusus untuk penyelidikan ini," jelasnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin(10/6).

Senada, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamaman (Menko Polhukam) Jenderal TNI (Purn) Wiranto pun tidak ingin berkomentar lebih jauh terkait kabar tersebut. Ia hanya menyebut akan menjelaskan lebih lanjut update informasi terkait kerusuhan 22 Mei pada Selasa (11/6) besok.

"Kita ingin supaya adanya satu penjelasan secara detail mengenai tokoh-tokoh yang ditangkap, apa sebabnya, alasannya apa, besok itu akan lengkap disampaikan ke publik. Jadi bukan informasi lagi, tapi berita acara pemeriksaannya ya," jelas Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin(10/6).

"Jadi, jangan khawatir nanti kita jelaskan ke publik. Supaya apa? Supaya tidak ada kesimpangsiuran, begitu," sambungnya.

BACA Juga:
Menhan:Tak Ada Anggota Kopassus Aktif Terlibat Kerusuhan Mei


Pewarta: IDN Times
Editor: Red.

Saturday, June 1, 2019

Redaksi sukabumiNews

4 Pemudik Tewas Akibat Tabrakan Beruntun di Subang

Dua motor dan satu mobil hangus terbakar akibat tabrakan beruntun di Subang, Jawa Barat (Foto: istimewa)
-- 
sukabumiNews, SUBANG - Empat pemudik tewas terbakar dan dua orang lainnya luka berat akibat tabrakan beruntun yang melibatkan tiga kendaraan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kecelakaan maut tersebut terjadi tepatnya di Jln Pantura Jakarta-Cirebon atau depan Rumah Makan Luwes pada Jumat (31/05/2019) sekira pukul 15.00 WIB.

Kanit Laka Satlantas Polres Subang Iptu Zaenudin menjelaskan tiga kendaraan yang terlibat kecelakaan itu yakni minibus Toyota Avanza nopol B 111 SZA, sepeda motor Honda Verza nopol B 4061 FJY dan sepeda motor Yamaha Nmax nopol B 6162 WOQ.

"Mobil Avanza berpenumpang tiga orang melaju dari arah Cirebon ke Jakarta. Saat di tempat kejadian, mobil itu mengalami pecah ban bagian kanan belakang kemudian oleng ke kanan hingga melewati median jalan trotoar," kata Zaenudin.

Mobil yang masuk ke arah berlawanan tertabrak dua sepeda motor hingga menyebabkan percikan api yang cepat membesar hingga membakar ketiga kendaraan tersebut.

Berikut data identitas korban tewas seperti dilansir detik.com:

1. Abdul Latif (40), pengemudi minibus, warga Kampung Cikelenting, RT 3 RW 8, Desa Watu Belah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
2. Rustin (42), penumpang minibus, warga Kampung Cikelenting, RT 3 RW 8, Desa Watu Belah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
3. Ari Sudarsono (36), pengendara sepeda motor Honda Verza, warga Kp./Ds. Pegalongan, RT 4 RW 2, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
4. Eko Pranajaya (34), pengendara sepeda motor Yamaha Nmax, warga Jalan Kapten Samadikun, Gang Melati V, No.1 RT RW 9, Kecamatan Kejaksan, Kabupaten Cirebon, Jawa BArat.

Identitas korban luka:

1. Gibran (10), penumpang minibus, warga Kampung Cikelenting, RT 3 RW 8, Desa Watu Belah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
2. Zahra (8), penumpang minibus, warga Kampung Cikelenting RT 3 RW 8, Desa Watu Belah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Pascakecelakaan itu korban tewas dan luka dibawa ke RS Centra Medika, Cikalong Karawang. Sedangkan bangkai kendaraan dievakuasi ke Polsek Patokbeusi Subang. [dtk]


Pewarta: Dadang Darajat
Editor Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, May 28, 2019

Redaksi sukabumiNews

Kemensos Tidak Akan Menyantuni Pelaku Kerusuhan 22 Mei yang Meninggal

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.
-- 
sukabumiNews, JAKARTA – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pihaknya tidak akan memberikan santunan bagi pelaku kerusuhan yang meninggal pada 22 Mei lalu. Menurut dia, santunan ahli waris memerlukan assesment.

"Pelaku kerusuhan pasti gak akan kami bantu. Assesment akan kami tunggu dari pihak kepolisian. Korban yang meninggal seperti apa, ditentukan perlu dibantu atau tidak," ungkap Agus di Kementerian Sosial, Senin (27/5).

1. Korban meninggal akibat kerusuhan ada 8 orang

Berikut daftar identitas korban meninggal aksi 21-22 Mei 2019 yang dirilis Pemprov DKI.

1. Farhan Syafero (31 tahun)
Alamat: Depok, Jabar. Meninggal di RS Budi Kemuliaan (Jenazah dirujuk ke RSCM) 22 Mei 2019.

2. M. Reyhan Fajari (16)
Alamat: Jl. Petamburan 5, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Meninggal di  RSAL Mintoharjo 22 Mei 2019.

3. Abdul Ajiz (27)
Alamat: Pandeglang, Banten. Meninggal di RS Pelni 22 Mei 2019.

4. Bachtiar Alamsyah
Alamat: Batu ceper, Tangerang. Meninggal di RS Pelni 22 Mei 2019.

5. Adam Nooryan (19)
Alamat: Jembatan 5, Tambora. Meninggal di RSUD Tarakan 22 Mei 2019.

6. Widianto Rizky Ramadan (17). Alamat: Kemanggisan, Slipi. Meninggal di RSUD Tarakan.

7. Tanpa Identitas, Pria. Meninggal di RS Dharmais 22 Mei 2019.

8. Sandro (31)

Meninggal di RSUD Tarakan 23 Mei 2019. Dirawat sejak 22 Mei 2019.

2. Lima korban penjarahan dapat bantuan UEP

Sementara, lima korban penjarahan saat aksi kerusuhan 22 Mei mendapatkan bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Tiga pemilik kios yang dagangannya ludes terbakar dan dijarah di Jalan Wahid Hasyim adalah Ismail, Usma, dan Rajab. Kemudian, pemilik warung kelontong dan warung nasi yang dagangannya ludes dijarah adalah Rini dan Abu Bakar.

"Kerusuhan itu menimbulkan korban meninggal dan kerugian material. Kami gerak di lapangan mencoba mengidentifikasi beberapa hal, khususnya korban bencana sosial yang mengalami kerugian material," kata Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.

3. Kelima korban dapat bantuan UEP Rp5 juta

Agus menjelaskan, kelima korban tersebut diberikan modal usaha masing-masing sebesar Rp5 juta. Menurut Agus, biasanya bantuan UEP sebesar Rp2 juta. Namun, pemerintah memutuskan khusus untuk korban bencana sosial diberikan maksimum Rp5 juta per kepala.

Selain itu, Kemensos juga menyiapkan sembako. Selain kelima korban tersebut, ada satu korban terdampak kerusakan satu unit rumah. Namun, belum dapat diberikan bantuan karena masih dalam proses administrasi berkaitan status kerusakan rumah.

"Pemerintah prihatin. Kami bertanggung jawab memberikan bantuan. Semoga bisa digunakan untuk jadi modal memulai kembali usahanya agar bisa hidup normal," ungkapnya.

4. Pendataan dilakukan oleh berbagai elemen

Dalam melakukan assesment, jelas Agus, pemerintah diwakili oleh PSKBS korban bencana sosial bersama Dinsos, pelopor perdamaian, Tagana, dan TKSK untuk melakukan pendataan di lokasi.

"Kami dapat rekomendasi agar memberikan bantuan korban yang kiosnya dirusak," ungkapnya.


Copyright © IDN Times
Redaksi sukabumiNews

IMM PC Kota Sukabumi Geruduk Ruang Gedung DPRD Kota Sukabumi

sukabumiNews, CIKOLE - Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Cabang Sukabumi melakukan unjukrasa di halaman Kantor DPRD Kota Sukabumi, Senin (27/5/2019). Mereka kecewa terhadap penyelenggaraan pemilu 2019 yang dinilainya berpotensi terjadinya gejolak.

Namun sayang, saat mereka menggelar aksi tak satu pun perwakilan DPRD  Kota Sukabumi yang hadir dan menemui mereka, hingga mereka merasuk masuk ke ruang gedung dan berorasi di dalamnya. Mereka juga sempat menabur bunga sebagai tanda kekecewaan mereka.

Beberpa petugas keamanan  pun tak kuasa menahan massa IMM yang memasuki gedung wakil rakyat yang berlokasi di Jln. Ir. H Juanda Kota Sukabumi itu.

Ketua PC IMM Kota Sukabumi, Rajib Rivaldi mengatakan, pelaksanaan pemilu 17 April 2019 merupakan pesta demokrasi pertama yang diselenggarakan secara serentak setelah Indonesia mengalami reformasi pasca jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998.

“Dampak dari Pemilu 2019 ini berpotensi terjadinya gejolak yang terjadi di Indonesia diantaranya konflik horizontal, penyebaran berita Hoax, ujaran kebencian hingga permasalahan SARA," ujar Rajib Rivaldi.

Selain itu kata Rajib, hal-hal sensitif ini tentu saja tidak etis digunakan dalam pertarungan di Pemilu 2019, meski pada kenyatannya hal sensitif ini dianggap sebagai peluang bagus guna meraup suara sehingga tidak sedikit para politisi yang menggunakan sentimen seperti ini.

Lebih dari itu Rajib menyebut, ada suatu hal yang lebih fundamental yang harus kita sikapi bersama mengenai Pasca Pesta Demokrasi 2019, yaitu banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia.

"Menurut data terkahir yang dikeluarkan oleh Ombudsmen tercatat ada sekitar 608 orang yang terdiri dari 486 Petugas KPPS, 9 Bawaslu, 25 dari Polri yang meninggal Dunia," sebut Rajib

Dia menambahkan, ada satu hal lagi yang masih teringat dalam benak masyarakat Indonesia Pasca pesta Demokrasi adalah peristiwa 22 Mei yang menewaskan beberapa pengunjuk rasa atas tindakan refresif yang dilakukan oleh para oknum Polri.

Hal tersebut, jelas Rajib, adalah hal yang memilukan karena seharusnya pemerintah pusat mampu memberikan keamanan dan ketertiban pasca demokrasi ini. “Tapi pada kenyataannya Pemerintah tidak mampu mengkondusifkan Oknum Kepolisian yang bersifat Refresif terhadap pengunjuk rasa,” terang Dia.

Dalam aksinya di halaman Kantor DPRD Kota Sukabum itu PC IMM Kota Sukabumi menuntut;

1. Revisi Undang-Undang Pemilu No. 7 Tahun 2017

2. Mengusut tuntas kasus banyaknya Anggota KPPS yang meninggal dunia dan menjamin kehidupan keluarga yang ditinggalkan.

3. Mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum yang refresif terhadap masyarakat sipil pada peristiwa tanggal 21 dan 22 Mei 2019 yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban.

4. Menjamin kepada Polri untuk mentaati aturan KAPOLRI No. 9 Tahun 2008 tentang tata cara penyelenggara pelayanan, pengamanan dan penanganan perkara penyampaian pe dapat di muka umum.

5. Menjalankan amanah UUD 1945 pasal 28 dan peraturan Hak Asasi Manusia No. 39 tahun 1999 sebagai perlindungan terhadap masyarakat sipil.


Pewarta: Azis R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Friday, May 24, 2019

Redaksi sukabumiNews

Istri Ketua KPU Cianjur Disekap oleh Dua Orang Tak Dikenal

Foto: Yanti, istri Ketua KPU Cianjur, Jawa Barat terlihat syok setelah menjadi korban penyekapan di rumahanya, Kamis (23/05/2019) malam (KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN)
-- 
sukabumiNews, CIANJUR – Istri Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Cianjur, Hilman Wahyudi, disekap oleh dua orang tak dikenal, Kamis (23/5/2019) malam di rumahnya di Kampung Karangtengah, RT 002 RW 009, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sontak, kasus penyekapan terhadap istri Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Cianjur, Hilman Wahyudi ini menjadi perhatian publik.

Dadan Bunyamin (39), warga setempat yang turut menyelamatkan korban menuturkan, ia mendapati korban sedang terikat di tiang penyangga toren atau penampung air di teras belakang rumah.

Sebelumnya, Dadan yang tengah berjualan mie ayam di pinggir jalan itu mengaku didatangi suami korban untuk meminta bantuan warga.

“Saya dan Pak Hilman dibantu ada tiga warga yang lain lalu datangi lokasi. Saya lewat belakang, sedangkan yang lain lewat depan,” jelasnya.

Tiba di belakang rumah, Dadan mendapati korban tengah terikat di besi penyangga toren di teras belakang, sedangkan kain yang menutup mulut korban terlihat sudah terlepas.

“Saya naik ke tembok tapi belum berani turun khawatir masih ada pelaku di dalam rumah. Tapi Bu Yanti minta saya mengecek anaknya yang ada di dalam rumah,” katanya.

Dadan kemudian mencoba memberanikan diri untuk turun kemudian melepaskan ikatan tangan korban.

“Saat itu saya tidak melihat orang lain (pelaku). Mungkin sudah kabur sebelum warga datang,” ujarnya.

Sementara, Bambang Hendra, saudara korban yang ditemui di rumah korban mengatakan, sengaja datang setelah mendengar kabar adiknya disekap semalam.

“Iya katanya disekap, tapi saya tidak tahu detil kejadiannya karena saya belum bicara banyak dengan adik saya,” katanya singkat kepada wartawan, Jumat (24/5/2019) pagi.

Pantauan Kompas.com di lokasi kejadian, Jumat pagi sendiri terlihat sepi. Pintu dan jendela rumah bercat hijau itu terlihat tertutup.

Sebelumnya, jajaran Polres Cianjur yang menangani kasus tersebut masih melakukan penyelidikan termasuk mendalami motif dari kejadian tersebut.

“Masih kami dalami, jika memang ada perkembangan kami informasikan lagi," kata Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Budi Nuryanto kepada wartawan di lokasi kejadian, semalam.

Budi mengatakan, sejauh ini tidak ada dugaan motif yang mengarah pada profesi suami korban sebagai Ketua KPU Cianjur. “Doakan saja cepat terungkap," katanya.


Pewarta: Siti Cjr
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Monday, May 20, 2019

Redaksi sukabumiNews

Sebuah Rumah di Nyalindung Ludes Terbakar Saat Ditinggal Pemiliknya

sukabumiNews, NYALINDUNG Sebuah rumah di Kampung Nyalindung Kampas  RT 03/02 Desa Nyalindung Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ludes dilalap si jago merah pada Senin (20/5/2019) sekira pukul 10.00 Wib.

"Saat kejadian, pemilik rumah yaitu Gandi sekeluarga sedang ke luar rumah," kata saksi mata Asep.

Pantauan sukabumiNews di tempat kejadian, warga berhamburan membantu memadamkan api. Dengan alat seadanya seperti ember dan baskom, bahkan ada yang menggunakan panci, mereka berupaya memadamkan api agar tidak merembet ke rumah tetangga sebelahnya.

“Namun lantaran cuasa sedang panas dan bangunan terbuat dari kayu dan bilik bambo, dengan cepat api melalap rumah Gandi hingga tak bersisa, tambah Asep.

Kebakaran diduga akibat adanya pertemuan arus pendek listrik. "Sepertinya korslet listriknya," tutur Asep.

Tida ada korban jiwa dalam insiden ini lantaran saat kejadian berlangsung, Gandi si pemilik rumah beserta keluarganya tiak berada di tempat. Namun demikian akibat kejadian tersebut kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.


Pewarta: Jaka S
Editor: AM
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
close
close
close