![]() |
| Anggota Hamas. [Foto: Ynet] |
SukabumiNews.net, DOHA – Rencana serangan kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023 memuat klausul yang memungkinkan pembatalan jika 'Israel' menghentikan serangan terhadap Masjid Al Aqsa dan perlakuan terhadap tahanan Palestina, menurut investigasi Al Jazeera (30/10/2026).
Investigasi itu memakai catatan rapat sayap bersenjata Hamas, Brigade al-Qassam, pada Februari 2023.
Dilansir Middle East Eye (2/11), program “Ma Khafiya A’zam” (The Hidden Is Greater) menampilkan catatan rapat Brigade al-Qassam beberapa bulan sebelum serangan. Rapat 11 Februari 2023 membahas operasi berkode “Proyek Fahd”.
Dokumen menyebut rencana akan ditinggalkan jika serangan 'Israel' di Masjid Al-Aqsa dan di penjara-penjara berhenti. Pemimpin Hamas di Gaza saat itu, Yahya Sinwar, dan kepala sayap bersenjata, Mohammed Deif, dilaporkan hadir. Keduanya tewas oleh pasukan 'Israel' pada 2024.
Dokumen itu juga menyebut tidak ada tanda kemajuan politik dan menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengingkari semua kesepakatan sebelumnya.
Dokumen itu memuat sasaran militer. Salah satu klausul menyebut tujuan operasional adalah mengalahkan Divisi Gaza 'Israel', dan dokumen juga menyebut menawan sebanyak mungkin tentara 'Israel'.
Menurut Al Jazeera Arabic, rapat staf al-Qassam berlangsung enam jam. Deif menandatangani perintah operasi bertanggal 5 Oktober 2023 yang menetapkan serangan dimulai pukul 06.30, dan dokumen mencantumkan nama sandi para pemimpin, seperti “Al-Hajj” untuk Sinwar dan “Ali” untuk Deif.
Situs berita Sawalif menulis media 'Israel' mengangkat rekaman dan dokumen itu. Israel Hayom sudah lebih dulu memberitakan dokumen Februari 2023 itu pada 26 Oktober. Dalam investigasi tersebut, mantan pejabat Shin Bet, Asher Ben-Artzi, mengatakan Deif menjadi pilar keputusan 7 Oktober dan mengaitkan kegagalan 'Israel' dengan kesombongan.
Sekitar 1.200 warga 'Israel' tewas dan 251 orang disandera dalam serangan 7 Oktober, menurut MEE. Perang Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 73.000 warga Palestina, kata MEE, sebelum gencatan senjata yang dimediasi AS pada 2025. (Hanoum/Arrahmah)

0تعليقات