![]() |
| Ilustrasi – Helikopter Sea Hawk militer AS di Selat Hormuz. (FOTO: Dok. U.S. Naval Forces Central Command/U.S. Fifth Fleet) |
Teheran (SUKABUMINRED.NET) – Iran sedang merampungkan kesepakatan dengan Oman terkait pergerakan kapal melalui Selat Hormuz. Namun Teheran menyatakan kesepakatan antara kedua negara pesisir tersebut tidak berarti jalur perairan itu akan dibuka kembali.
Teheran menyatakan pihaknya memerlukan sejumlah jaminan dari Amerika Serikat agar kapal-kapal dapat melintasi selat tersebut secara bebas.
Dalam wawancara dengan kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency (IRNA), Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, memaparkan tuntutan Iran, dengan mengatakan AS harus membatalkan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar komitmen sebelumnya.
Dilansir dari CNN, Kamis 6 Agustus, tuntutan Iran terhadap AS meliputi:
- Mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran
- Menangani sanksi yang diberlakukan kembali terhadap Iran saat gencatan senjata gagal—terutama di sektor minyak—serta melanjutkan negosiasi mengenai aset-aset Teheran yang dibekukan
- Menangani "kegagalan" AS dalam menjamin stabilitas di Lebanon sebagaimana direncanakan dalam nota kesepahaman yang dicapai dengan Washington pada bulan Juni.
Saat ditanya apakah Iran pada dasarnya sedang menerapkan Pasal 5 dari kesepakatan pada Juni—yang mewajibkan Iran menjamin jalur pelayaran komersial yang aman selama 60 hari—Gharibabadi menjawab "Tidak."
"Pasal 5 hanya menetapkan prinsip-prinsip panduan, bukan rencana operasional akhir," ujarnya, seraya menambahkan kesepakatan baru antara Iran dan Oman ini disajikan sebagai model yang sepenuhnya baru yang mencerminkan situasi keamanan saat ini.
“Dan bukan kelanjutan dari pengaturan yang berlaku selama 60 tahun sebelumnya,” katanya.
Hal ini berarti rute pelayaran melalui selat tersebut akan berubah, di mana sebagian besar lalu lintas komersial akan melintasi perairan teritorial Iran dan sisanya melalui perairan Oman, katanya.
Gharibabadi mengatakan pengaturan tersebut mencerminkan strategi baru untuk menjalankan "kedaulatan efektif" atas selat itu, sembari menegaskan bahwa Iran tidak berniat menutup jalur perairan tersebut secara rutin pada masa damai. (VOI)

0Komentar