Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Monday, October 19, 2020

Kang Malik AS

Umat Islam Selalu Menjadi Penentu di Saat Paling Krusial

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. (FOTO: Dok. Muhammadiyah) 

sukabumiNews.net, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, tidak mungkin umat Islam yang mayoritas di negeri ini bisa merdeka jika dia tidak berdaya.

 

Hal tersebut diungkapkan Haedar dalam acara webinar Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) pada Ahad (19/10/2020).

 

“Tidak mungkin umat Islam nanti setelah Indonesia merdeka kala itu (dalam Pidatonya Kiyai Dahlan) akan berdaya jika umatnya tidak berilmu, tetapi juga tidak kuat secara fisik, mental dan kesejahteraan,” tuturnya.

 

Dari situlah, tambah Haedar, maka kemudian lahir berbagai gerakan Muhammadiyah seperti bisa disaksikan seperti sekarang ini.

 

“Alhamdulillah untuk Rumah Sakit diera pandemi ini ada 89 Rumah Sakit yang aktif menangani pandemi Covid-19 dengan berbagai macam kesulitannya. Sehingga kalau dihitung nilai nominal uang itu sudahsetengah triliunrupiahlebih kita (Muhammadiyah) berbuat untuk pandemi ini,” ungkapnya.

 

Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak terlalu muluk-muluk mengkonsepkan tentang bangsa, tentang negara, tapi Kiai Dahlan mencoba melakukan usaha-usaha bahwa bangsa dan negara ini bisa merdeka jika ia mempunyai kekuatan mandiri dan pilar-pilar kemerdekaan itu juga harus dibangun di atas pendidikan.

 

“Nah satu diantaranya yang juga penting adalah kekuatan perempuan. Maka Kiai Dahlan bersama Nyi Walidah mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang mengikuti jejak Siti ‘Aisyah RA, yaitu istri yang cerdas dan berperan dalam membangun umat,” katanya.

 

Maka dari ‘Aisyiyah juga lah, sambung dia, lahir berbagai Amal Usaha, seperti PAUD, TK, dan pendidikan dasar hingga atas.

 

“Alhamdulillah sekarang TK ABA berjumlah 23.000 lebih, dan bahkan sekarang sudah punya Universitas di Yogyakarta, Surakarta dan yang terbaru Unisa Bandung,” jelas Haedar.


BACA Juga: Lihat, Aksi Heroik Marbot Masjid Tangkap Pencuri Uang Kotak Amal, Viral di Medsos

 

Apa yang dilakukan ‘Aisyiyah menurut Haedar telah menunjukan bahwa Islam itu memuliakan kaum perempuan sama mulianya dengan laki-laki dan memuliakan laki-laki sama dengan memuliakan perempuan.

 

“Fi ahsani taqwimdan juga perempuan juga berhak untuk masuk surga dengan peran-peran amal salihnya dan peran amaliyahnya,” tambahnya.

 

Lebih jauh Haedar mengungkapkan, di tahun 1918 telah Muhammadiyah mendirikan Hizbul Wathan Kepanduan Tanah Air dan dari Hizbul Wathan itu lahir Jendral Sudirman yang merupakan tokoh dan Bapak TNI bahkan tokoh Perang Gerilya yang mengguncang dunia.

 

“Ini bentuk wathaniah atau muwathoniah, bentuk kesadaran kebangsaan Muhammadiyah dan kesadaran tentang kewargaan Muhammadiyah. Bahwa bangsa dan negara yang merdeka itu kewargaanya harus kuat tetapi pada saat yang sama nationnya atau sistem negara bangsanya harus kuat,” tegasnya.

 

Bahkan lanjut dia, pada titik yang paling krusial ketika ada deadlock Pancasila 1 Juni dengan Piagam Jakarta keberatan dari Kelompok Indonesia Timur, demi bangsa dan negara Ki Bagus Hadikusumo, Ketua PP Muhammadiyah saat itu bersama Mr Kasman Singodimedjo lalu juga dimediasi oleh Bung Hatta dan Teuku Hasan dan tokoh-tokoh Islam yang lain. Kemudian ada titik temu, lalu lahirlah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menjadi Sila Pertama.

 

“Dan akhirnya kodifikasi bahwa Pancasila yang resmi adalah 18 Agustus 1945. Kompromi itu demi bangsa dan negara dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam dengan penentu terakhir Ki Bagus Hadikusumo, bukti bahwa umat Islam Indonesia sejak belum Indonesia merdeka pada titik krusial satu hari setelah Indonesia merdeka memberi sumbangan terbesar untuk berdirinya NKRI,” paparnya.

 

Haedar menyimpulkan bahwa lewat Muhammadiyah dan gerakan-gerakan Islam dan tokoh Islam yang lain, kecintaan dan integrasi antara Islam dan Indonesia itu sudah menyatu dalam denyut nadi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

 

“Tidak ada keraguan, jadi kalau ada yang meragukan sikap wathaniah atau mu-wathaniah umat Islam mereka tidak paham atau tidak belajar sejarah. Dan tidak paham bagaimana umat Islam berkontribusi untuk bangsa dan negara disaat paling krusial,” tutup Haedar, sebagaimana dikutip laman muhammadiyah.or.id, Senin (19/10/2020).


BACA Juga: Film ‘Tilik’ Karya Alumni UMY Hebohkan Jagat Maya


Pewarta: Rizalussalim

Editor: Red

COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2020
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close