Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Friday, September 25, 2020

Redaksi sukabumiNews

Tentang Sumbar Jadi Pusat Pemerintahan RI di Masa Revolusi Fisik, Peneliti Sejarah dari BPNB Sumbar Lakukan Penelitian

Peneliti Sejarah dari BPNB Sumbar
Dra. Zusneli Zubir, M.Hum (kiri) dan Efrianto, SS, sedang diskusi bersama Drs. H. Ali Mukhni, Bupati Padang Pariaman

sukabumiNews.net, PADANG – Sumatera Barat (Sumbar) memiliki banyak front perjuangan saat zaman revolusi fisik (1945–1949). Pasca jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda pada Agresi Militer ke dua, pusat pemerintahan Republik Indonesia (RI) dipindahkan ke Sumatera Barat, dengan lokasi yang selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya.

 

Pada saat pusat pemerintahan RI berada di Sumatera Barat, Padang Pariaman jadi jalur utama bagi tentara Sekutu dan Belanda untuk menuju daerah pedalaman Sumatera Barat. Faktor ini yang menyebabkan front pertempuran di Padang Pariaman pada saat revolusi fisik lebih banyak terjadi di jalur perjalanan dari Padang ke Bukittinggi, sebab jalur Padang ke Solok melalui daerah Sitinjau Laut belum menjadi jalur utama pada saat itu.

 

Terkait sejarah tersebut, tiga peneliti sejarah dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ketiga peneliti yang dimaksud, yakni Efrianto, SS, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum, dan Yulisman, S.H.

 

Mereka melakukan penelitian pada pandangan masyarakat terhadap peristiwa sejarah di masa revolusi fisik tersebut. Guna mengumpulkan data sejarahnya, pada tanggal 15 - 23 September 2020 mereka mengunjungi masyarakat pada tiga daerah di Padang Pariaman; Batang Anai, Lubuk Alung, dan Sintuk Toboh Gadang.

 

Efrianto, Ketua Tim Peneliti Sejarah kepada sukabumiNews menjelaskan, temuan lapangan memperlihatkan bahwa di Kecamatan Batang Anai, Lubuk Alung, dan Sintuk Toboh Gadang banyak memiliki peninggalan dan peristiwa sejarah yang berkaitan dengan zaman revolusi fisik.

 

“Hal ini dapat dilihat dari beberapa tugu yang ada dikawasan ini, seperti Tugu Renville di Lubuk Alung, dan Tugu Perjuangan di Pasar Usang. Di samping itu, ada juga front perjuangan yang sejarahnya hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat yang belum banyak diketahui oleh masyarakat,” ungkapnya melalui Whatsapp, Kamis (24/9/2020).

 

Efrianto juga menjelasakan, data lapangan memperlihatkan bahwa masyarakat pemilik sejarah tersebut ternyata kurang memiliki tinggalan sejarah yang ada di kawasan mereka. Hal ini kata dia, terlihat dari monumen atau tugu yang didirikan ternyata tidak terawat dengan baik.

 

“Kondisi ini jelas mengkhawatirkan bagi masa depan Indonesia, sebab semakin banyak masyarakat yang tidak lagi peduli dengan sejarah masa lalu bangsa dan negaranya. Untuk itulah kajian ini dilakukan, sebagai langkah awal untuk kembali mengenalkan masyarakat terhadap sejarah mereka sendiri,” kata Efrianto.

 

Dikatakan Efrianto, penelitian ini dimaksud untuk mengungkap apa saja peristiwa sejarah di Kecamatan Batang Anai, Lubuk Alung, dan Sintuk Toboh Gadang pada masa revolusi fisik, apa saja peninggalan sejarahnya, dan sejauhmana pengetahuan dan pandangan masyarakat terhadap peristiwa sejarah tersebut.

 

Senada dengan Efrianto, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum, Ketua Pokja Sejarah yang juga salah seorang anggota Tim Peneliti sejarah tersebut mengatakan hal yang sama. Dilain pihak Zusneli berharap, penelitian ini dapat memberi manfaat bagi kepentingan akademik, pemerintah daerah dan masyarakat di Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Padang Pariaman.

 

Sementara itu, anggota Tim Peneliti sejarah lainnya, Yulisman mengatakan, pengumpulan data pada penelitian sejarah ini dilakukan secara observasi, wawancara, dan studi pustaka.

 

Dijelaskannya bahwa penelitian ini menggunakan metode campuran atau sering disebut dengan mixed methods. “Pelaksanaan penelitian metode campuran ini dengan menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Secara keseluruhan penelitian ini hingga penulisannya memerlukan waktu lima bulan,” pungkasnya.

 

Pewarta: Muhammad Fadhli

Editor: AM

COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2020

Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Komentari

close