Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Tuesday, March 17, 2020

Azis Ramdhani

Tidak Bisa Berikan Kwitansi Pembayaran, Tukang Servis Sepatu ini Naik Pitam kepada Debt Kolektor

sukabumiNews.net, CIKOLE – Tukang servis sepatu yang biasa mangkal di Jalan A. Yani, tepatnya di pintu masuk Gang Kebon Kelapa, Kelurahan/Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, terlihat marah-marah saat didatangi seorang Debt Kolektor (penagih hutang) dari sebuah perusahaan perkereditan alat-alat (perkakas) rumah tangga.

Pasalnya, ia merasa bahwa cililan barang yang dikreditnya selama total 10 bulan dipotong 1 bulan angsuran itu, sudah dibayarnya selama 7 bulan cicilan.

“Tapi saat saya meminta kwitansi bukti pembayaran cicilan yang ke 6 dan ke 7, yaitu kwitansi cicilan sebelumnya, penagih tersebut tidak bisa memberikannya lantaran mereka pikir, cicilan ke 6 dan ke 7 tersebut belum saya lunasi. Padahal saya sudah membayarnya,” terang ibu Rani (50) istri dari Nanang (60) yang biasa membantu kerja suaminya kepada sukabumiNews, Senin (16/3/2020).

Meskipun pada saat itu Rani mengaku bahwa cicilan yang ke 6 belum sepenuhnya ia bayar. “Masih kurang Rp 20 ribu. Tapi sudah saya lunasi saat pembayarang ciciclan yang ke 7,” ungkapnya.

Adapun kata Rani, jumlah cicilan yang seharusnya ia bayar setiap bulannya yaitu Rp. 190 ribu.

“Tapi ketika saya coba minta kwitansi cicilan yang ke 6 dan ke 7 penagih itu malah ngasih yang ke 6 nya saja. Sementara yang ke 7 tidak ada, oleh sebab itu saya pun meminta nya," ujar Rani, kesal.

Dari sinilah awal terjadinya percekcokan anatara sepasang suami istri tukang servis sepatu dengan debt kolektor sebuah perusahaan barang-barang rumah tangga tersebut yang sontak menjadi perhatian warga yang menyaksikannya.

Akibat kejadian tersebut, sepasang suami istri ini merasa tertekan dan berniat akan melunasi utang secara keseluruhan di bulan tagihan berikutnya.

"Karena saya kesal dan sudah pusing pa, mengenai angsuran ini, saya akan lunasi saja Sabtu depan. Dan sudah di sampaikan kepada petugas tadi," ucap Nanang.

Dan kalaupun memang tidak sanggup membayarnya, tambah Nanang, ia akan mengebalikan barang yang sama belum pernah dipakainya. ”Masih utuh pak,” tambahnya.

Hingga berita ini ditayangkan, belum diperoleh informasi dari Debt Kolektor atau pun pihak perusahaan pemberi fasilitas kredit terkait kwitansi yang dinilai janggal oleh tukang servis sepatu tersebut.

Pewarta : Hendra Sofyan
Editor : Red.
COPYRIGHT © SUKABUMINEWS 2020
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

close