Breaking

Wednesday, June 5, 2019

Ust Manatahan

Rahasia Tersirat Dibalik Doa “Taqabbalallaahu Minna Wa Minkum”

sukabumiNews - RASA sedih dalam balut kegembiraan sangat terasa dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dari sudut hati, keceriaan dan rasa syukur itu kan tetap terpancar dari aura wajah seorang mukmin: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185). Namun dari lubuk hati terdalam, rona kesedihan tetap kan terasa, antara rasa takut dan berharap, apakah amalan-amalan shalih dalam Bulan Ramadhan ini telah benar-benar diterima oleh Allah ta’ala atau tidak.

Oleh karena itu, untuk menutupi rasa sedih dan harap-harap cemas ini, sangatlah tepat bila dalam rangkaian euphoria Hari Raya selalu dianjurkan saling mengucapkan selamat yang terrangkai dari lafaz-lafaz doa dan harapan diterimanya suatu amalan, demi menghibur hati yang tengah gundah dalam harapan, serta mensirnakan rasa cemas dalam suasana bahagia, “Katakanlah: ‘Dengan (sebab) karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS Yunus: 58)

Para salaf kita sangatlah paham dengan hal yang seperti ini, sehingga “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum” yang merupakan salah satu doa selamat yang mereka ajarkan sangatlah tepat dan menyentuh dalam suasana keceriaan Hari Raya Ied.  Makna doa ini adalah “Semoga Allah menerima (amalan shalih/doa) dari kami dan dari kalian”. Sebuah doa yang memberikan harapan agar amalan ketaatan berupa puasa, qiyamullail, sedekah, zakat, doa dan amalan lainnya yang kita lakukan dalam Bulan Ramadhan diterima dan diberikan pahala oleh Allah ta’ala.  Berikut beberapa faedah terkait lafaz doa ini:
  
Diterimanya suatu amalan harus memiliki dua syarat:

Pertama: Amalan tersebut adalah baik/sesuai sunnah dan ikhlas, bukan amalan buruk, bid’ah atau dengan tujuan riya’. Dengan dalil: “Sesungguhnya Allah itu Baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik”. (HR Muslim)

Kedua: Orang yang mengamalkannya adalah orang yang bertaqwa. Dalam ayat: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27). Sebab itu seseorang semakin bertaqwa, maka semakin sempurna proses penerimaan amalan dan pemberian pahalanya, bila taqwanya kurang, maka amalannya diterima sesuai dengan kadar taqwanya tersebut. Jadi, semua amalan tergantung pada taqwanya orang yang melakukannya. Wallaahu a’lam.

(lihat: Mirqaat Al-Mafaatih: 7/2905, dan Faidhul-Qadir: 2/144).

Hakikat Qabuul/diterimanya suatu amalan adalah amalan tersebut dianggap sah oleh Allah ta’ala dan diberikan pahala atasnya. Dan kadang amalan tersebut sah (artinya tidak diwajibkan lagi untuk diganti) namun pahala dan ganjaran amalan tersebut tidak diterima oleh Allah dan sama sekali tidak ada. Sebab itu para salaf termasuk Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata: “Bila satu shalatku diterima oleh Allah, maka itu lebih aku cintai daripada seluruh isi dunia ini”.

(lihat: Fathul-Bari: 1/235, dan juga At-Taisir Syarh Jami’ Shaghir: 1/89).

Yang banyak dikhawatirkan oleh para salaf baik dari kalangan sahabat ataupun tabiin adalah apakah amalan mereka benar-benar diterima oleh Allah ta’ala atau tidak?? Sebab walaupun seorang hamba sepanjang hidupnya beramal shalih, namun yang menentukan bahagia tidaknya ia diakhirat adalah penerimaan amalannya disisi Allah ta’ala.

Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata pada puteranya: “Seandainya saya tahu bahwa Allah menerima satu sujud saja dariku, atau sedekah satu dirham saja, maka tidak ada sesuatupun yang lebih aku cintai kecuali ingin mati saja (setelah itu), sebab tahukah engkau orang yang diterima amalannya oleh Allah ta’ala?? “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27).

((Atsar ini Riwayat Ibnu Abdil-Barr dalam At-Tamhid; 4/256).

Simaklah kisah ‘Amir bin Abdullah bin Az-Zubair bin Awwaam, seorang ulama tabiin yang ahli ibadah dan zuhud, beliau memiliki kebun berisi 500 pohon kurma, setiap hari beliau shalat dua rakaat dibawah setiap pohon tersebut, dan ketika dalam keadaan sekarat beliau menangis, lalu ditanya: apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab: “Yang membuatku menangis adalah salah satu ayat dalam kitab Allah: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27).

((HR Ibnu Abi Dunya sebagaimana dinukil oleh As-Suyuthi dalam Dur Mantsur: 3/57, juga ada dalam Al-Qabs Syarh Muwaththa: 1/1176).

Adalah sebuah ucapan/ungkapan kegembiraan dan harapan bagi diri kita dan oranglain akan diterimanya amalan-amalan kita dalam Bulan ini. Syaikh Ibnul-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Berikanlah kabar gembira untuk diri kalian sendiri dan juga untuk orang lain… bila anda telah melakukan amalan shalih maka berikanlah kabar gembira untuk dirimu bahwa amalan tersebut akan diterima oleh Allah darimu bila engkau bertaqwa kepada-Nya dalam amalan tersebut, karena Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27). Dan apabila engkau berdoa kepada Allah, maka berikanlah kabar gembira pada dirimu bahwa Dia akan mengabulkannya, karena Dia berfirman: “Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya” (QS Ghafir: 60).

(Syarah Riyadh Ash-Shalihin: 3/589).

Semoga ucapan doa sekaligus selamat ini menjadi kabar gembira diterimanya amalan-amalan kita semua dan dikabulkan oleh-Nya…aamiin.

# “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum”

Kata “Taqabbala” sama maknanya dengan “Qabila” yaitu menerima, namun dalam doa ini secara khusus dengan lafaz “Taqabbala/Taqabbul” karena maknanya lebih umum dari pada ” Qabila/Qabuul”, lantaran “Taqabbala/Taqabbul” menggabungkan dua makna yaitu:

Pertama: Makna   “Taqabbala/Taqabbul” sendiri secara khusus yaitu penerimaan amalan yang terus meningkat dari waktu-waktu.

Kedua: Makna ” Qabila/Qabuul” penerimaan amalan yang menyebabkan adanya pahala dan ridha Allah ta’ala.

(lihat: Taaj Al-‘Aruus: 30/209).

Jadi, doa ini selain mengharapkan penerimaan amalan dan adanya pahala dan ridha Allah atas amalan-amalannya yang telah berlalu, juga mengharapkan penerimaan amalan-amalannya dimasa mendatang ditingkatkan oleh Allah ta’ala.

Wallaahu a’lam

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqabbalallaahu Minnaa Wa Minkum !!!

Oleh Maulana La Eda, L.c


#khazanahIsalm
[Wadah.or.id]
Tertarik dengan Artikel Kesehatan dan lainnya, baca:
Masukan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu

close
close
close