Breaking
SUKABUMINews menyajikan artikel, berita politik, hukum, kriminal, dunia Islam, serta berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dalam dan Luar Negeri secara tepat dan akurat. Kontributor/wartawan SUKABUMINews dalam melaksanakan tugas selalu dibekali ID dan atau Surat Tugas. Segala bantuan dan fasilitas yang diberikan kepada yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jurnalistik, sangat kami hargai. Anda menyukai tantangan, memiliki kemampuan reportase, wawancara, melakukan penelitian? Tuangkan hasil kemampuan anda menjadi sebuah tulisan, baik dalam bentuk artikel berita. Bergabunglah bersama kami.. Kirimkan data pribadi, nama, alamat dan nomor HP. ke email: sukabumi_news@yahoo.com atau gmail: redaksi.sukabuminews@gmail.com. Hanya yang memenuhi kriteria yang akan kami muat dan undang.

Friday, March 1, 2019

Redaksi sukabumiNews

11 Anggota FPI Tersangka, Aktor Intelektual Ricuh Harlah NU Diselidiki

[Foto: Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Kemenko Polhukam. (Zakia-detikcom)]
sukabumiNews, JAKARTA – Polisi mendalami ada atau tidaknya aktor intelektual yang mengarahkan 11 anggota FPI tersangka ricuh Hari Lahir (Harlah) NU ke-93 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut). Kepada polisi, para tersangka mengaku beraksi secara spontan.

"Ini sementara dari hasil pemeriksaan awal, dari 11 tersangka ini katanya spontan dan dari ormas tertentu. Kami butuh waktu untuk mendalami terhadap motif dari 11 orang ini," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, seperti dikutip detik.com, Jumat (1/3/2019).

"Cuma yang sebagai leader atau aktor intelektual yang menggegerkan ini masih didalami dulu," sambungnya.

Dedi menuturkan 11 tersangka pembuat onar di Harlah NU tersebut masih menjalani proses pemeriksaan di Polsek Tebing Tinggi. Proses pemberkasan perkara, lanjut Dedi, dibantu oleh Polda Sumut.

"Pada prinsipnya, Polri akan bertindak tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengganggu ketertiban masyarakat," jelas Dedi.

Dedi menambahkan para tersangka berasal dari latar belakang berbeda. Di antaranya guru honorer, karyawan swasta, pengemudi becak, sopir, dan buruh harian.

Sebelumnya diberitakan, tablig akbar, doa bersama, dan peringatan Harlah NU ke-93 digelar di Lapangan Sri Mersing, Tebing Tinggi, pada Rabu (27/2) pukul 09.00 WIB. Sekitar pukul 11.44 WIB, sejumlah orang masuk ke dalam lokasi dan meminta acara dibubarkan karena dianggap sesat.

Massa FPI datang mengenakan baju bertuliskan tagar 2019 ganti presiden. Mereka juga meneriakkan '2019 ganti presiden'. Aparat yang bertugas di lokasi sempat mengingatkan bahwa acara itu merupakan tablig akbar dan HUT NU. Massa juga diminta tidak membuat gaduh dan keributan.

Polisi awalnya menangkap delapan orang yang diduga terlibat dalam keributan. Kasus ini dikembangkan dan tiga orang lain ditangkap.

"Jadi seluruhnya 11 orang, dari hasil gelar perkara terpenuhi unsur pidananya, kemudian ditingkatkan menjadi tersangka. Hari ini dikeluarkan sprin (surat perintah) penahanan," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja saat dihubungi detikcom, Kamis (28/2).

Kuasa hukum FPI, Munarman, mengatakan ada beberapa hal yang memicu kerusuhan tersebut. Pertama, ada kegiatan kampanye terselubung dengan pembagian sembako dan pesan mengajak memilih pasangan tertentu.

"Dua, isi ceramah dari salah satu penceramah yang mengkampanyekan paslon petahana memfitnah kelompok lain sebagai radikal intoleran dan berbahaya, meng-ghibah orang, mendukung pembakaran bendera tauhid, berselawat dengan nada dangdut, dan lain sebagainya," kata Munarman lewat keterangannya, Kamis (28/2).
Jangan Lewatkan!
Masukkan email Anda untuk berlangganan artikel terbaru :

close