Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, October 11, 2018

Redaksi sukabumiNews

Pendopo Kecamatan Cicurug Direhab, Pengerjaan Sesuai RAB

Cicurug, SUKABUMINEWS.net – Bangunan eks Kewedanaan Wilayah III Cicurug yang dibangun pada zaman pemerintah kolonial Belanda dan menjadi situs cagar budaya karena langkanya bentuk bangunan seperti itu, kini harus mengalami renovasi. Namun renovasi bangunan gedung yang kini menjadi Pendopo Kecamatan Cicurug ini hanya di rehab atapnya karena sudah rusak.

Sudah barang tentu pihak pelaksana pekerjaan renovasi gedung peninggalan pemerintah VOC sebagai rekanan, harus berusaha menjaga nilai estetika dari keasliannya, dimana kontruksi detail bangunan dari aslinya tetap akan sama seperti semula. Bahkan ukuran tinggi atapnya pun tidak akan terlalu mengalami perubahan. Ia akan tetap sama meski dengan digantinya atap sirap.

Hadi Betmen, selaku pihak pelaksana pekerjaan saat ditemui sukabumiNews mengatakan, untuk rehab atap bangunan tersebut pihaknya memperhitungkan penggunaan kaso jenis kayu manii dengan ukuran 5X7cm dan reng ukuran 2 X 3cm yang digunakan untuk menahan beban genteng beton.

“Pembangunan mengacu pada RAB penggunaan kayu kelas 2 sesuai RAB bukan kayu manii. Kaso 2/3 sama dengan RAB. Pelaksana tidak memangkas atau memendekan bangunan lama,” jelas Hasi Betmen, Rabu (10/10/2018)

“Kunjungan pak Agus dari PPTK dan Erli pengawas lapangan menjelaskan kepada kami bahwa tidak ada masalah dalam pekerjaan karena pelaksana sudah sesuai RAB,” sambung Hadi, menuturkan kata-kata dari PPTK dan pengawas lapangan itu.

Perlu diketahui bahwa Pelaksana Rehab Pendopo ini dikerjakan okeh CV. Syibilla Indah Utama dengan nilai kontrak Rp87.343.000 juta.

Dilain pihak, atas adanya kelengkapan dan kejelasan yang dilakukan oleh pengusaha yang melaksanakan rehab gedung Pendopo Kecamatan Cicurug, Ketua Umum Komunitas Wartawan Sukabumi (Kowasi) Suyudi berharap kepada rekan media agar cermat dalam menyikapi pembangunan ini serta tidak mengabaikan aturan Chek dan Richek supaya berimbang dalam mengkemas pemberitaan hasil kerja lapangannya.


“Kita sebagai jurnalis membuat suatu karya tulisan yang objektif untuk semua kalangan yang membacanya,  bukan malah dan mempropaganda,” kata Ketum KOWASI, didampingi panglimanya, Heri.


(Karim)
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu