Breaking

Sunday, September 16, 2018

Redaksi sukabumiNews

Sidak Ombudsman, Kalapas Sukamiskin: Semoga Bisa Dilihat dengan Kepala Dingin

JAKARTA, SUKABUMINEWS.net - Ukuran sel Setya Novanto yang dianggap luas jadi persoalan. Berawal dari inspeksi mendadak Ombudsman yang menyebut bahwa prosedur operasional Lapas Sukamiskin salahi aturan.

Ombudsman menyoal luas hunian Novanto. Kepala Lapas (Kalapas) Sukamiskin Tejo Harwanto memang membenarkan bahwa ruangan sel koruptor e-KTP itu 300 cm-500 cm.

Namun demikian, Tejo mengungkapkan bahwa sel itu memang sudah ada sejak lapas itu dibangun Belanda. Bahkan, kata Tejo, sel dengan ukuran yang sama juga ada sekitar 40 ruangan dari total 552 sel.

“Sejak 1918 itu sudah dikluster oleh bangsa Belanda. Ada ukuran kecil, sedang dan besar. Kalau berdasarkan kluster itu ukuran besar itu jumlahnya 40 kamar yang seperti itu,” kata Tejo, dikutip dari Jarrak.id.

Selain itu, menurut Tejo, kloset duduk yang juga disoal Ombudsman memang sebenarnya sudah direncanakan ada di semua sel. Tejo meyebut hampir 80 persen sel di Lapas Sukamiskin dilengkapi kloset duduk.

“Kloset duduk ada keuntungannya, karena pertama untuk orang-orang lansia karena 60 sampai 70 persen penghuni lapas ini berusia di atas 50 tahun, jadi kesulitan. Kedua kebersihan dan kesehatan, tapi ini ada di seluruh kamar mestinya seperti itu. Dan ini dalam penganggaran,” ujar dia.

Kemudian, tentang dinding sel yang dilapisi wallpaper atau kertas dinding, dikatakan Tejo, untuk mengantisipasi rembesan air ketika hujan.

“Kelihatan mewah, memang itu kamarnya dilapisi kayu. Itu dulu karena berdampak apabila hari hujan. Itu dinding rapuh rembes, tapi dilakukan oleh masing-masing warga binaan,” sebut dia.

Meski demikian, atas semua hal yang disoalkan tersebut, Tejo mengaku siap apabila nantinya dicopot dari jabatannya. Tejo berharap, semua orang dapat melihat masalah ini dengan kepala dingin.

“Kalau kita sudah berbuat, tiba-tiba dinilai buruk ya silakan saja. Saya siap (dicopot),” pungkas dia. (SN/Jarrak)
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu