Breaking

Thursday, August 30, 2018

Redaksi sukabumiNews

Geco, Kuliner Jadul Sukabumi Masih Eksis

[Emul Mulyana, pedagang Geco Sukabumi]
Sukabumi Kota, SUKABUMINEWS.net - Jika berkunjung ke Gang Peda Kota Sukabumi jangan lupa mencoba Geco. Makanan campuran dari Tauge dan Tauco, ditambah tahu, ketupat dan mie terigu ini merupakan makanan jadul khas Sukabumi yang rasanya cukup menggoda lidah.

Ciri khas dari makanan ini adalah lumuran tauco yang merupakan bumbu makanan khas dari Cianjur. Tauco itu sendiri terbuat dari biji kedelai yang telah direbus, dihaluskan dan diaduk dengan tepung terigu kemudian dibiarkan sampai tumbuh jamur (fermentasi).

Konon asal mula makanan Geco ini berasal dari Bogor, dan masuk kesukabumi kira-kira sekitar awal tahun 70-an. Demikian kata Emul Mulyana (40) pedagang Geco saat berbincang-bincang dengan sukabumiNews sambil menikmati kuliner yang dijualnya, Kamis (30/8).

Bapak dari 3 orang anak ini menjual Geco racikannya menggunakan gerobak berwarna biru. Ia mulai mangkal pukul 09.00 pagi sampai menjelang magrib, dengan mengandalkan tempat berukuran sekira 2 x 2 meter di depan kios milik orang lain di Jalan Perniagaan atau yang lebih dikenal dengan Gang Peda, Kota Sukabumi.

Emul juga menuturkan, meski dagangan yang dijualnya sudah agak jarang, namun pelanggan dan penikmatnya masih tetap ada meski tidak sebanyak seperti pelanggan jajanan atau makanan kuliner lainnya.

“Lagi pula, pangsa pasar Geco ini sangat berbeda. Lihat saja, hampir setiap yang datang rata-rata adalah orang yang sudah lanjut usia,” kata Emul saat berbincang-bincang dengan sukabumiNews sambil menikmati kuliner yang dijualnya, Kamis (30/8).

Sangat jarang anak sekolah atau pun anak muda jajan Geco,” jelas Emul. Meski demikian menurut Emul, dirinya sangat bersyukur karena atas jajanan kuliner jarang yang dijualnya ia bisa menyekolahkan anak-anaknya. (*)

Pewarta: Maman S.
Editor: Red.
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu