Breaking
loading...
Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Thursday, August 22, 2019

Redaksi3

Warga Cireunghas Mengeluh, Pelayanan RS Hermina Sukabumi Tidak Profesional

kecewa
F (12) bersama ayah (kanan) dan ibu kandungnya (berdiri) merasa kecewa dengan pelayanan RS. Hermina Sukabumi.  
sukabumiNews, SUKARAJA - Warga asal Kp. Pojok RT 01, RW 01, Desa Cireunghas, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Linawati (34) mengeluhkan pelayanan RS. Hermina Sukabumi yang dinilai tidak profesional dalam menangani penyakit anaknya berinisial F (12).

"Saya membayar cash biaya operasi lalu Rp.9 juta. Bukannya sembuh, penyakit anak saya malah semakin parah,” ungkap Linawati (34) kepada sukabumiNews ditemui di RS. Hermina Sukabumi di Jl. Cibeureum Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, Rabu (21/08/2019) petang.

Sebelumnya, F, oleh dokter RS. Hermina Sukabumi didiagnosis menderita usus buntu dan harus segera dilakukan operasi.

“Hari ini, anak Saya dinyatakan harus dioperasi kembali karena ada cairan nanah yang harus dibuang, biayanya Rp.7 juta. Padahal waktu itu, diagnosisnya jelas dan hanya cukup dioperasi satu kali," jelas Linawati.

Kepada sukabumiNews Linawati menceritakan kronologi kejadian hingga mengakibatkan F harus dioperasi kembali dengan biaya yang tidak murah.

Menurut Lina, pada Kamis minggu lalu, anaknya diperiksa oleh dokter bernama Azmi dan langsung dinyatakan menderita usus buntu sehingga harus dioperasi.

Waktu itu, tutur Lina, sebagai Ibu pasien, dirinya disuruh membayar biaya operasi sebesar Rp.9 juta, namun setelah syarat administrasi itu dipenuhi, anaknya tak kunjung mendapat penanganan hingga berjam-jam.

Melihat kejadian itu, keluarga besar Lina tidak terima dengan pelayanan pihak rumah sakit dan lansung marah-marah sehingga membuat pihak manajemen RS. Hermina menegur para staf yang menangani F di ruang operasi. Tak lama kemudian, tim dokter langsung menangani proses operasi F.

"Pelayanannya tidak baik padahal kita sudah bayar. Sepulang dari sana (RS. Hermina), anak saya terus menerus merasakan sakit dan sulit tidur. Kata dokter yang pertama cukup operasi, tapi kenapa anak saya harus dioperasi kembali karena ada infeksi yang belum sembuh?," keluh Lina seraya merasa dipermainkan oleh dokter pada pelayanan RS. Hermina Sukabumi.

biaya rumah sakit
Sementara, total biaya operasi dan obat yang telah dikeluarkan oleh Lina sudah mencapai Rp.17 jutaan. “Rinciannya, Rp.15 juta untuk biaya operasi dan sisanya pembelian obat,” terang Lina.

Dihubungi terpisah melalui sellulernya, staf informasi RS. Hermina, BM mengatakan, pihaknya tidak berkapasitas menjawab konfirmasi sukabumiNews, namun akan menyambungkan terlebih dahulu kepada pihak manajemen. Hingga berita ini ditayangkan, pihak RS. Hermina masih belum memberikan klarifikasi.

Dan hingga berita ini ditayangkan, pihak RS. Hermina juga dikabarkan masih belum menangani F secara serius lantaran keluarga F belum bisa memenuhi biaya sebesar Rp.7 juta untuk membuang cairan nanah yang terdapat pada F.


Pewarta : Azis R
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Sunday, August 18, 2019

Redaksi3

Lagi, Rumah Seorang Guru SMP di Surade Luluh Dilalap Api

kebakaran
sukabumiNews, SURADE – Sebuah Rumah milik seorang Guru SMPN 3 Surade, H. Cecep (48) yang beralamat di Kp. Banjarsari Rt. 003/001 Desa Wanasari Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi Jawa Barat hancur luluh dilalap si jago merah, Ahad (18/8/2019).

Informasi yang dihimpun sukabumiNews dari keterangan beberapa saksi di tempat kejadian, seperti Ibo (40) dan Asep (35), peristiwa terbakarnya rumah H Cecep terjadi sekitar pukul 16.40 WIB. Ibo yang pada saat insiden terjadi, ia sedang berada di rumah yang jaraknya tidak jauh rumah korban.

"Saya melihat titik api yang bersumber dari bagian dapur semakin membesar,” ujar Ibo kepada wartawan melalui selulernya.

Melihat kejadian, terang Ibo, Ia lalu berteriak meminta tolong kepada tetangganya untuk memadamkan api dengan alat seadanya.

Sedangkan, tambah Ibo, pada saat kejadian rumah tersebut dalam keadaan kosong. Pemilik rumah yaitu H. Cecep dan istrinya sedang berada di Masjid yang jaraknya lebih kurang 300 m dari rumahnya.

Saat rumahnya ditinggal istri Guru SMPN 3 Surade itu sedang menanak nasi di dapur dengan menggunakan kompor, dan lupa mematikan kompornya sehingga terjdi kebakaran.

rumah guru smpn 3 surade terbakar
Warga terdekat menjadi saksi atar kebakaran rumah guru SMPN 3 Surade itu.  
"Api baru bisa di padamkan pada pukul 17.50 Wib oleh petugas pemadam kebakaran yang didatangkan dari Kecamatan Jampang Kulon dan Kecamatan Surade,” jelasnya.

Sementara, di tempat terpisah Kapolsek Surade AKP. Noorbertus, menghimbau kepada seluruh warga, agar lebih waspada dan berhati-hati pada saat memasak di dapur, apalagi disaat akan bepergian keluar rumah, saat dimusim kemarau panjang dan angin sangat kencang.

Tidak ada korban jiwa akibat insiden ini, Namun demikian kerugian ditaksir mencapai Rp250 juta.

BACA Juga:
Rumah Seorang Guru Ngaji di Cikidang LudesTerbakar


Pewarta: Azis R
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi3

Lahan Ilalang Aset Pemkot Sukabumi Terbakar

kebakaran
Gambar Ilustrasi.  
sukabumiNews, LEMBURSITU - Lahan berupa Ilalang dan lahan yang ditanami Pohon pisang, kelapa dan bambu di kampung pasir Babi Rt. 003/008 Kel. Cikundul Kec. Lembursitu Kota Sukabumi Jawa Barat terbakar, Ahad (18/8/2019).

Peristiwa kebakaran lahan yang lokasinya berdekatan dengan peternakan Ayam tersebut tidak bisa diantisipasi lantaran api semakin meluas tertiup angin.

pemadam kebakaran
“Petugas mengalami kesulitan karena selain akses jalan berupa perbukitan, kobaran api juga tersebar di beberapa titik lantaran tiupan angin yang sangat kencang. Sehingga untuk pemadaman api yang berkobar membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk dipadamkan," ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami kepada sukabumiNews melalui pesan WhatsAppnya, Ahad (18/8).

Meski, kata Zulkarnain, petugas BPBD Kota Sukabumi telah mengerahkan 4 unit mobil Damkar dan personil satgas damkar, PB BPBD, Sat-PolPP serta Aparat Polsek Lembursitu yang juga turut membantu untuk menanganinya.

"Alhamdulilah dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Saat ini kondisinya sudah bisa dikendalikan dengan aman,” tambahnya.

Mengenai kerugian materi akibat peristiwa ini, Zulkarnain belum bisa memastikannya.

Sementara itu tutur Dia, kebakaran lahan yang berada di wilayah Kp. Dulang Nangkub Rt. 0O1/007 Kelurahan Jaya Mekar kecamatan Baros Kota Sukabumi itu luasnya sekitar 3.200 meter.

“Lahan ini merupakan aset Pemda Kota Sukabumi. Sementara penyebab kebakaran diduga sengaja dibakar." Pungkas Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi itu.


Pewarta: Azis R
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Friday, August 16, 2019

Redaksi3

Rumah Seorang Guru Ngaji di Cikidang Ludes Terbakar

rumah guru ngaji ludes terbakar
Diding, guru ngaji di Kampung Tenjojaya hanya bisa pasrah melihat rumahnya ludes terbakar.  
sukabumiNews, CIKIDANG - Sebuah rumah milik Diding (64) guru ngaji di Kampung Tenjojaya, RT 02, RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi ludes terbakar. Akibatnya penghuni rumah harus mengungsi karena tempat tinggalnya sudah tidak layak dihuni.

Tidak diketahui kapan tepatnya api melalap rumah guru ngaji tersebut. Namun demikian, salah seorang warga setempat, Edih Suherdi mengatakan, api sudah terlihat berkobar dan melalap habis rumah korban sekitar pukul 23:30 WIB, Kamis (15/8/2019).

"Api cepat membakar habis rumah Diding dalam beberapa menit. Seluruh bangunan yang terbuat dari kayu ludes dan hanya menyisakan dinding yang terbuat dari batako," terang Edih kepada SukabumiNews, melalui selulernya, Jum'at (16/8/19).

Edih menjelaskan, kebakaran terjadi secara tiba-tiba sesaat ditinggal pemilik yang saat itu tengah mengikuti pengajian rutin di salah satu mesjid di kampung tersebut. Saat kejadian, pemilik maupun warga sekitar tidak sempat menghubungi petugas pemadam kebakaran, hingga sejumlah warga berusaha untuk memadamkanya dengan peralatan alakadarnya.

"Warga berusaha memadamkan dengan menggunakan air dan pasir. Api bisa dipadamkan setelah beberapa saat. Hanya saja bangunan beserta isi rumah Diding tidak banyak yang bisa diselamatkan," jelasnya.

Beruntung tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut lantaran pemilik saat itu sedang tidak berada di dalam rumah. Diding, kata Edih, saat itu sedang bersamanya ngobrol usai mengikuti pengajian rutin.

Dengan adanya kejadian itu, warga setempat merasa prihatin. Terlebih rumah Diding yang terbakar merupakan tempat dimana anak-anak kampung belajar mengaji di rumahnya. Menurut informasi yang dihimpun sukabumiNews, sedikitnya 10 anak yang belajar ilmu agama disana.

Warga berharap ada uluran tangan dermawan untuk membantu Diding memembangunkan kembali rumahnya.

Di lain pihak, Plt Kepala Desa Pangkalan Iwan Setiawan mengatakan, dugaan sementara, api yang menghanguskan bangunan rumah yang berukuran 6 X 5 meter ini berasal dari konsleting arus listrik.

Api cepat membesar karena bagian rumahnya terbuat dari anyaman bambu yang mudah terbakar.

Sebelumnya, tutur Iwan, warga telah berupaya maksimal untuk memadamkan api. “Namun api tersebut telah menghanguskan seluruh isi rumahnya hingga nyaris rata dengan tanah,” pungkasnya.

Pewarta: Azis R.
Editor: AM
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi3

Warga Tegaldatar Lengkong Alami Krisis Air Bersih

krisis air
Seorang ibu rela berjalan ratusan meter demi mendapatkan air (kiri). Sementara seorang warga lain sedang menuangkan sedikit demi sedikit air sungai ke jerigen untuk dikumpulkannya kembali di rumah (tengah) dan seorang warga yang kedapatan sedang mandi (kanan). [FOTO: Rully/jurnalisme warga]  
sukabumiNews, LENGKONG - Kekeringan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat terlihat semakin parah. Dari 47 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Sukabumi, 20 diantaranya mengalami krisis air bersih.

Adalah Rully Nurdiansyah, salah satu tokoh pemuda asal Tegaldatar Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, kepada sukabumiNews menuturkan, akibat kekeringan yang melanda, warga setempat hanya bisa pasrah. Anggota BPD yang berada di Kp. Tegaldatar RW 05 dusun III yang diharapkan bisa membantu membawa aspirasi warga, kata Rully, tidak satupun yang dapat bergerak.

“Tidak ada usaha untuk mengajukan keberadaan ini kepada pihak terkait terutama kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD). Sedangkan keluhan warga harus di tindaklanjuti oleh para pemimpin desa setempat," ujar Rully, melalui Selulernya, Jum'at (16/8/2019).

Rully juga mengungkapkan, warga di Kp. Tegaldatar, RT 19/5, terpaksa menggunakan air sungai Cikaso Cikaler untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci, mandi, bahkan untuk kebutuhan masak sekali pun.

Sejak dua bulan terakhir, tutur Dia, warga di kampung tersebut setiap harinya rela berjalan ratusan meter menuju Sungai Cikaso untuk sekedar mengambil air.

“Setiap pagi dan sore, warga disini selalu berjalan ke sungai Cikaso untuk mencuci dan mandi. Bahkan, warga juga terpaksa harus membuat lobang di pinggiran sungai untuk menampung resapan air yang kian kini kian berkurang. Setelah terkumpul, warga mengambilnya untuk kebutuhan memasak dan minum,” papar Rully.

Dia menambahkan, ada sekitar 140 Kepala Keluarga (KK) dari 450 jiwa, setiap harinya mengambil air di sungai yang juga keberadaannya sudah kering tersebut. Air yang sudah diambil warga, tambah dia lagi, sebelum dikonsumsi, mereka tamping dalam jerigen atau toren. Kemudian digunakan untuk keperluan mandi, cuci dan memasak.

“Saat ini hampir 90 persen warga disini menggantungkan diri untuk mencukupi kebutuhan air sehari-harinya ke sungai Cikaso. Ya kalau warga mampu sih, bisa beli air isi ulang. Tetapi bagi warga yang tak punya uang, terpaksa pakai air selokan yang diendapkannya terlebih dahulu,” imbuhnya.

Rully mengaku, keberadaan seperti ini sudah sudah berulang kali dilaporkannya kepada pemerintah Desa Neglasari. Namun, kata Rully, entah alasan apa hingga saat ini belum juga ada respon. “Kami berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan air bersih atau membangun sumur bor di lokasi perkampungan ini. Sehingga, saat musim kemarau warga tidak mengalami krisis air bersih seperti sekarang,” harapnya.

Menyikapi kondisi seperti, Camat Lengkong, Agung Budiman mengaku belum mengetahui secara pasti mengenai kondisi warganya yang memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab kata dia, sampai detik ini pihaknya belum mendapat laporan secara resmi dari pemerintah desa setempat.

“Kalau musim kemarau, pasti banyak warga yang mengalami krisis air bersih. Namun bagi warga yang memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan memasak dan minum, saya baru mengetahui sekarang. Terlebih lagi, saya baru dua pekan bertugas disini,” kilahnya.

Kendati demikian, pihaknya akan mengintruksikan kepada petugas untuk meninjau lokasi perkampungan tersebut. Camat akan meminta kepada pemerintah desa untuk segera membuatkan surat permohonan bantuan air bersih. “Nanti, akan kami tindak lanjuti kepada BPBD agar dapat bantuan air bersih,” tutupnya.


Pewarta : Azis R
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, August 15, 2019

Redaksi3

Siaga Kekeringan, Pemkot Sukabumi Edukasi Warga Hemat Air

Kasi Pencegahan BPBD Kota Sukabumi
sukabumiNews, WARUDOYONG - Memasuki musim kemarau, Kota Sukabumi ditetapkan menjadi kota berstatus siaga dan darurat kekeringan oleh Pemprov Jabar melalui surat edaran Gunernur Jawa Barat tertanggal 1 Agustus 2019.

Selain itu, berdasar pada surat Kepala Statsiun Geofisika Bandung Nomor ME 403/736/KLEM/VI/2019 dan surat penetapan Nomor 117/Resume-Rakor PPMK Jabar/BPBD/VII/2019, menetapkan Kota Sukabumi sebagai wilayah bersatus siaga darurat kekeringan dan menyandang peringkat Ke-15 besar terburuk di Provinsi Jawa Barat.

"Menghadapi kekeringan yang terjadi di Kota Sukabumi, saat ini Kami tengah menanganinya dengan melakukan edukasi kepada masyarakat agar lebih hemat menggunaman air. Kita lakukan sosialisasi secara intensif," terang Zulkarnaen, selaku Kasi Pencegahan pada BPBD Kota Sukabumi kepada sukabumiNews, Rabu (14/08/2019).

Dia melanjutkan, soal masuknya Kota Sukabumi menjadi wilayah berstatus darurat siaga kekeringan ke dalam peringkat 15 terburuk di Jawa Barat, itu diakuinya tidak permanen dan suatu saat bisa berubah. Adapun darurat kekeringan atau krisis air bersih, pernah terjadi pada tahun 2018 lalu khusunya terjadi kekeringan pada lahan pertanian dan beberapa waktu kedepannya sudah bisa diminimalisir.

"Status siaga darurat bencana kekeringan itu bisa berubah sesuai progres penanganan darurat bencana kekeringan dilapangan. Sekarang saja, dari 7 kecamatan yang pada 2018 lalu masuk kategori berat, tahun ini menjadi sedang. Mudah-mudahan akan menjadi potensi agar darurat kekeringan bisa teratasi ," jelasnya.

Beberapa wilayah yang mengalami krisis air bersih tahun 2018 yaitu, Kecamatan Cikole bertempat di Kelurahan Subangjaya, Citamiang dan Kecamatan Cibeureum. Namun, pada survei yang dilakukan 2019, air yang ada di wilayah-wilayah tersebut saat ini baru masuk kategori berpotensi darurat.

"Saat ini potensi kekurangan suplai air bersih di benerapa wilayah itu sudah mulai terlihat. Untuk mengantisipasi kekurangan air bersih, kita sudah lakukan edukasi kepada warga agar lebih hemat menggunakan air bersih dan mulai menyiapkan tandan air. Mudah-mudahan secepatnya bisa kita tangani seperti tahun sebelumnya," pungkas Zulkarnaen.


Pewarta : Azis R
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

close
close
close