Breaking
Showing posts with label mengenalsosok. Show all posts
Showing posts with label mengenalsosok. Show all posts

Friday, January 11, 2019

Redaksi Sukabuminews

Nandi, Remaja Desa Bojingsari Penyandang Tuna Netra dengan Multitalenta

Nandi (30) remaja penyandang tunanetra yang memiliki multi talenta, warga kp. Karikil RT.03/01, Desa Bojongsari Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini sungguh luar biasa.
Nyalindung, SUKABUMINEWS.net – Nandi (30) remaja penyandang tunanetra yang memiliki multitalenta, warga kp. Karikil RT.03/01, Desa Bojongsari Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini sungguh luar biasa.

Keahlian yang dihasilkan dari belajarnya secara otodidak dalam bidang elektronik dan kelistrikan, ternyata tidak sia-sia.

Salah satu kreatifitas hasil rancangannya sendiri yang sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar adalah sebuah mikser.

"Tidak hanya itu, bahkan Nandi mampu membuat studio radio amatir," ungkap Jajat Sudrajat, salah seorang warga yang bangga dengan kreatifitas Nandi kepada sukabumiNews, belum lama ini.

Sebagian dari hasil kreatifitasnya, sebuah micer yang d rancang dan di rakit sendiri.

Jajat juga menjelaskan bahwa keahlian Nandi mulai diketahui sejak dia berusia 25 thn. "Nandi memang mengalami tuna netra sejak lahir, “ sambung Jajat.

Meski dia hidup sendirian karena ibunya (almh) telah meninggalkannya sejak dia lahir, jelas Jajat, kemudian ayahnya juga sudah tidak bersamannya lagi karena telah menikah kembali dan tinggal jauh dari kampung halaman dimana Nandi tinggal sekarang.

Sementara saudaranya sendiri juga, tambah Jajat, tidak tinggal di dekatnya. “Akan tetapi Nandi tetap semangat berkreatifitas," terang Jajat.

“Sayang, keahliannya belum terekspos dan mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat,” tambah Jajat.

"Kalau saja ada bantuan untuk mengembangkan bisnis dari hasil kreatifitasnya, mungkin ini akan menjadi aset yang sangat luar bisa," pungkasnya.

[Pewarta: Isep S]
Editor: Red.

Thursday, October 11, 2018

Redaksi sukabumiNews

Mengenal Khabib Nurmagomedov, Juara Kelas Ringan UFC

SUKABUMINEWS.net - Conor McGregor memang sempat jadi raja sekaligus selebriti di UFC. Dengan persona dan ketengilannya, pria Irlandia itu nyaris selalu mendapat tiga respons secara bersamaan: pujian, kebencian, juga cemoohan. Yang terakhir, salah satunya, datang dari Khabib Nurmagomedov, petarung kelas ringan asal Rusia.

"Kehebatan McGregor itu cuma dibesarkan oleh humas UFC. Bocahmu itu memulai tahunnya dengan menyerah seperti pengecut pada Nate Diaz. Tapi di akhir tahun dia bertarung untuk gelar. Gila memang. Aku ingin bertarung dengan si pengecut itu, karena itu bakalan jadi pertarungan nomor satu paling mudah di divisi kelas ringan," kata Khabib.

Itu kejadian pada 2016. Ia kesal karena tak kunjung mendapat kesempatan melawan McGregor untuk merebut gelar juara. Di sisi lain, McGregor terus-terusan mendapat lampu sorot, dianggap sebagai atlet tarung bebas terbesar sepanjang masa, dan banyak orang menganggap Khabib hanya berusaha mencari perhatian.

Tapi tidak. Khabib tak butuh perhatian dengan cara-cara bodoh. Catatan impresifnya sudah membuat orang melongok. Hingga 2016, ia bertarung 24 kali dan semua pertandingan itu dimenangkannya. Pertarungannya dengan Michael Johnson kemudian benar-benar membuat orang terbelalak.

Johnson, mantan petinju dengan catatan 27 pertandingan sempurna dan lama menekuni gulat, dibuat tak berdaya. Meski awal-awal sempat melontarkan arus pukulan yang menerjang wajah dan dagu Khabib, ia berakhir jadi samsak Khabib.

Dengan kelihaian gulatnya, Khabib berkali-kali membuat Johnson terjerembab dan menghujani wajahnya dengan pukulan keras. Semua berakhir saat Khabib melakukan kimura, membuat lengan Johnson tertekuk 180 derajat dan memaksa wasit menghentikan pertandingan.

"Aku menghormati Michael Johnson dan tak ingin melukainya. Saat aku melakukan kimura, aku melakukannya pelan-pelan. Aku tak ingin tangannya patah," ujar Khabib.

Sejak saat itu, Khabib terus memburu sabuk juara UFC seperti elang yang memburu ayam.

Juara Rusia yang Latihan Melawan Beruang
Khabib Nurmagomedov lahir pada 20 September 1988 di desa Sildi, yang masuk dalam Kabupaten Tsumandinsky, Dagestan, Rusia. Ia sudah belajar bela diri sejak kecil. Ayahnya, Abdulmanap, adalah atlit gulat terkenal dan pensiunan tentara. Di militer, Abdulmanap juga mengajar judo dan sambo —bela diri tradisional Uni Soviet.

Dalam sebuah wawancara dengan Mixfight, Abdulmanap menyebut bahwa sejak dulu Khabib adalah salah satu murid terbaiknya. Anak lelakinya itu belajar gulat, judo, juga sambo. Tak hanya itu, ia menyiapkan metode khusus untuk melatih Khabib: bergulat melawan beruang. Ini bukan kiasan.

Di umur yang masih 9 tahun, Khabib bergulat melawan beruang peliharaan keluarga. Meski beruang itu masih kecil, tapi ia beruang. Tubuhnya lebih besar ketimbang Khabib. Ada sebuah video tertanggal 23 September 1997 yang memperlihatkan Khabib kecil bergulat sembari diawasi beberapa pelatih. Khabib agak terengah dan berupaya keras menjatuhkan beruang itu. Si beruang tak mau kalah, ia berkali-kali membuat Khabib terpelanting. Kelak, Abdulmanap bercerita bahwa latihan itu lebih untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari sang anak, sebuah upaya melawan rasa takut saat menghadapi sesuatu yang lebih kuat.

"Pada akhirnya, itu adalah ujian karakter ketimbang latihan fisik," kata Abdulmanap.

Setelah berhasil melawan beruang, maka tak ada lagi yang perlu ditakuti Khabib ketika ia beranjak besar dan bertambah kuat. Setelah merasa aneka macam perkelahian jalanan tak membawa manfaat apa-apa, Khabib akhirnya memilih jalur tarung bebas profesional. Pada 2008 ia memulai debutnya.

Di setiap pertarungan yang dilaluinya, kemenangan selalu menyertai Khabib. Ia dominan dibanding lawan-lawannya. Apalagi yang bisa kau harapkan dari orang yang ketika bocah bergulat melawan beruang? Pada awal karier sebelum masuk ke UFC, ia bertanding 16 kali dan semua dimenangkan. UFC lalu tertarik untuk memanggilnya pada akhir 2011.

Pindah UFC hanyalah kepindahan yang tak berarti. Belum ada lawan yang sepadan dengannya. Pada debutnya, Khabib mengalahkan Kamal Shalorus, pegulat senior asal Iran, dengan rear-naked choke di ronde 3. Situs MMA Junkie menulis pertandingan debut Khabib sedikit berbau ramalan yang kelak menemui kebenaran.

"Pendatang baru UFC asal Rusia, Khabib Nurmagomedov mungkin namanya susah dilafalkan, tapi nama itu mungkin akan terus kamu ingat," tulis John Morgan.

Jalan Khabib terus mulus. Ia banyak mendapat pujian karena gaya bertarung yang eksplosif, ia mahir di pertarungan atas maupun pertarungan matras. Ketika mengalahkan Pat Healy, presiden UFC Dana White memuji Khabib.

"Gayanya membanting orang mengingatkanku pada Matt Hughes. Bocah baru ini menarik. Mungkin kami akan membuat hal besar dengannya," kata White.

Karena dianggap terlalu dominan, banyak orang mulai mencibir Khabib. Di berbagai forum penggemar tarung bebas, Khabib kerap dimasukkan sebagai petarung biasa saja namun dipuji berlebihan. Beberapa penggemar tarung bebas menganggap Khabib bisa menang karena lawan-lawannya yang terlampau mudah.

Tapi ketika Khabib berhasil menundukkan mantan juara UFC kelas ringan, Rafael dos Anjos, dan Michael Johnson, kritik semacam itu mulai reda dengan sendirinya. Kritikan pada akhirnya malah mampir ke Dana Wahite dan UFC karena tak kunjung memberi Khabib kesempatan bertarung untuk merebut gelar juara.

Kerumitan Merebut Sabuk Juara
Saat kesempatan itu datang pada September 2016, Khabib seharusnya melawan sang juara, Eddie Alvarez. Dana White sudah mengonfirmasi pertarungan ini. Namun Alvares memilih melawan McGregor. Karena ini, Khabib menyebut Eddie sebagai juara omong kosong.

Setelah melawan Johnson, nyaris setahun Khabib tak bertanding. Ia hanya berlatih terus menerus. Setelah menang melawan Edson Barboza pada Desember 2017, kesempatan merebut sabuk juara akhirnya datang.

McGregor sudah tak bertanding mempertahankan gelar selama 17 bulan. Ia lebih sibuk menambah pundi uang dengan, misalnya, menggelar pertarungan tak signifikan melawan Floyd Mayweather. Sabuk juara itu pada akhirnya dicabut. Khabib diberi kesempatan untuk merebutnya dengan pertandingan. Namun itu pun tak mulus.

Pada awalnya, pertarungan merebut sabuk juara ini melibatkan Khabib melawan Tony Ferguson, pemegang sementara sabuk juara kelas ringan. Namun ia harus mengundurkan diri karena cedera. Lawan kedua adalah Max Holloway, juara dari kelas bulu. Namun New York State Athletic Commission memutuskan Holloway tak fit untuk bertarung karena harus memangkas berat badan.

Kemudian opsi lawan berpindah ke Paul Felder, juga Anthony Pettis. Namun pada akhirnya, Al Iaquinta yang jadi lawan resmi Khabib. Lagi-lagi, Khabib dicemooh karena lawannya dianggap tak sepadan. Iaquinta yang juga berprofesi sebagai agen properti, terakhir bertarung setahun lalu. Apalagi Iaquinta hanya dikabari sehari sebelum pertarungan.

Benar saja, Khabib mendominasi pertarungan lima ronde itu. Menariknya, Khabib mencoba gaya baru. Ia tak lagi mendominasi pertarungan via renggut dan jatuhkan ala pegulat. Selepas ronde awal, Khabib memilih untuk lebih sering bertarung di atas, mengandalkan jab dan hook dan sesekali tendangan depan.

Sebenarnya, Iaquinta bisa dikalahkan di ronde 2 atau 3. Beberapa kali ia membiarkan lehernya tanpa pengawasan, membuat Khabib seharusnya bisa memitingnya dengan mudah. Tapi Khabib memilih tak melakukannya. Ia terus bertarung, seakan meluapkan segala kekesalan pada McGregor yang selama ini disimpannya —walau tampak ia setengah hati karena tahu lawannya tak punya persiapan yang cukup.

Pertarungan itu tak berakhir dengan baik. Di ujung ronde terakhir, wajah Iaquinta sudah bundas dan penuh darah. Karena pertandingan itu, Iaquinta harus melakoni perawatan medis intens dan harus istirahat selama 60 hari sebelum dibolehkan tanding lagi.

Sebelum wasit mengumumkan siapa pemenangnya, semua penonton sudah tahu siapa yang jadi juara. Khabib tersengguk ketika sabuk juara disematkan di pinggangnya. Sabuk yang sudah lama ia buru sekarang sudah ada di genggamannya.

"Kini tak ada lagi juara palsu. Tak ada lagi juara yang enggan mempertahankan sabuk juara. Sekarang UFC punya seorang juara, dan sang juara ini ingin mempertahankannya," tutur Khabib.

Perjalanan Khabib sepertinya masih akan panjang. Usianya masih 29. Sebagai petarung, ia punya banyak waktu untuk berbenah —termasuk membiasakan diri bertarung di atas, sesuatu yang coba ia tampakkan saat melawan Iaquinta. Staminanya yang sering dikritik, juga perlahan membaik.

Bagi UFC, Khabib yang jadi orang muslim Rusia pertama yang jadi juara UFC, berarti bisnis yang bakal mendatangkan banyak uang. Khabib sendiri pernah bilang bahwa Rusia adalah pasar besar, dengan 150 juta penduduk.

Sekarang Khabib sedang menatap lawannya di masa depan. Seperti yang ia bilang: ia ingin mempertahankan gelar juaranya. Lawan idealnya ada banyak. Dari Ferguson hingga Georges St-Pierre. Namun yang paling ideal tentu McGregor. Dari segi usia dan kemampuan bertarung, mereka setara. Ditambah lagi, ada api permusuhan yang sudah disulut sejak lama —termasuk kasus pelemparan bus yang membuat McGregor ditahan dan terancam hukuman penjara— rasanya pertarungan Khabib melawan McGregor akan jadi salah satu pertarungan UFC paling panas sepanjang masa.

"Kalau McGregor ingin sabuk juara kelas ringan," kata Khabib, "ia harus bertarung melawanku dulu."

Artikel ini telah tayang di Tirto.id dengan judul Kenalkan, Khabib Nurmagomedov, Juara Kelas Ringan UFC

Sunday, September 9, 2018

Redaksi sukabumiNews

Dua Presiden Indonesia yang Terlupakan

SUKABUMINEWS.net - Di tengah situasi politik yang memanas terkait pemilihan presiden 2019 di Indonesia, terdapat kisah yang terlupakan tentang dua kepala negara Indonesia yang namanya jarang diberitakan bahkan diceritakan. Padahal, sejarah mencatat ada dua nama selain Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo, yang pernah menahkodai Negara Indonesia.

Siapakah mereka? Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.

Sjafruddin Prawiranegara

Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat Republik Indonesia ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember Tahun 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.

Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI.

Padahal, saat itu Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 6 pagi Belanda telah mulai serangan atas Ibu Kota Jogjakarta.

Jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada.

Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).

Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI “diproklamasikan” . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim.

Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

Mr. Assaat

Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain.

Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi.

Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan. (Red*)

Sumber: Abadikini

Saturday, July 7, 2018

Redaksi sukabumiNews

Dimakamkan di Gunungpuyuh, Prof. Deddy Ismatullah Meninggalkan Puluhan Karya Ilmiah

[Prof. DR. Deddy Ismatullah, S.H., M.Hum]
sukabumiNews.net, GUNUNGPUYUH - Jasad tokoh pergerakan dan pemikir Islam terkemuka, Prof. DR. Deddy Ismatullah, S.H., M.Hum. dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar KH. Ahmad Sanusi di Kampung Belpas RT 02 RW 05 Kelurahan/Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jumat (6/7/2018) siang. Ribuan pelayat mengantarkan jenazah cucu pahlawan dan tokoh Islam KH. Ahmad Sanusi tersebut.

Jenazah diberangkatkan dari rumah duka di lingkungan kompleks Ponpes Syamsul Ulum Gunungpuyuh. Deddy meninggal dunia di RSUD R. Syamsudin, S.H. Kota Sukabumi sekitar pukul 08.40 WIB pada usia 61 tahun.

Kepergian Prof. Deddy meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat Sukabumi dan Jawa Barat. Dia pernah menjabat Rektor UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung periode 2011-2015. Selain menjabat guru besar di UIN SGD, Prof. Deddy juga memegang jabatan yang sama di Fakultas Hukum Unpad.
 
Semasa hidupnya, Deddy menulis berbagai karya ilmiah yang diterbitkan oleh kalangan kampus, jurnal, maupun pusat pengkajian. Beberapa karya yang pernah ditulisnya antara lain:

  1. Dakwah; Perlukah Direncanakan Secara Profesional? Jurnal Dakwah Islam, KODI, DKI Jakarta (2005)
  2. Demokratisasi Pengembangan Kurikulum di Sekolah, dalam jurnal Edukasi, Balai Litbang Penda Departemen Agama RI (2004)
  3. Etos Kerja dalam Pandangan Agama-Agama, dalam jurnal Mimbar Agama dan Budaya, UIN Jakarta (2003)
  4. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Apa, Mengapa dan Bagaimana, dalam Jurnal Pendidikan Islam, UID, Jakarta (2003)
  5. Efektifitas Penyelenggaraan Pendidikan Dasar di DKI Jakarta, dalam jurnal Pendidikan Islam, UID, Jakarta (2002)
  6. “Chek And Balances” (Dalam Sistem Pemerintahan Indonesia) yang dimuat di Majalah Civility (Jurnal Forum Indonesia Satu).
  7. Himpunan Putusan/Penetapan Pengadilan Agama Sebelum Tahun 1945 (Koordinator Penyusun), Departemen Agama, Jakarta 1995
  8. Law Report Pengadilan Agama (Anggota Penyusun), Departemen Agama, 1996
  9. Kompilasi Hukum Pengadilan Agama (Anggota Penyusun), Departemen Agama, 1990
  10. Pedoman Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda Melalui Pendidikan Keagamaan (Anggota Penyusun), Departemen Agama, Jakarta 1992
  11. Monografi Kelembagaan Agama di Indonesia (Anggota Penyusun), Departemen Agama, Jakarta 1993
  12. Kompilasi Hukum Acara Menurut Syariah, Attadzir, Bandung 1984
  13. Gagasan Pemerintahan Modern dalam Konstitusi Madinah, Attadzir, Bandung 2005
  14. Ilmu Negara Mutakhir, Attadzir, Bandung, 2003
  15. Ide Negara Kesejahteraan Menurut Al-Ghazali, Attdzir, Bandung 2002
  16. Sejarah Sosial Hukum Islam, Attadzir, Bandung 2007
  17. Seminar Internasional Perundang-undangan Islam: Muamalah dan Akhwal Syaksiyah dalam Konteks Indonesia dan Malaysia Kerja Sama UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Faculty Pengajian Islam UKM Malaysia, November 2008
  18. Tinjauan Ketatanegaraan Terhadap Paradigma Agama dalam Sistem Peradilan Satu Atap, Pertemuan Forum Dekan Fak. Syariah dan Hukum Se-Indonesia, Maret 2007
  19. Optimasi Peran Pemuda Melalui RUU Kepemudaan DPD KNPI Propinsi Jawa Barat, Gedung Pemuda Kerta Negara DPD KNPI Jawa Barat, 22 November 2008
  20. Perilaku Partai Terhadap Keikutsertaan Perempuan dalam Politik Indonesia, Cipanas Cianjur KKPI Kab. Cianjur, 8 Mei 2007
  21. Keterwakilan Perempuan dalam Peta Politik Menyongsong Pemilu 2009, STH Pertiba Bangka Belitung Desember 2008
  22. “Problematika Sosialisasi Hukum Islam” dalam Mimbar Hukum, Jurnal duan Bulanan No. 3. 1990
  23. Kehadiran Kompilasi Hukum Islam dalam Hukum Indonesia Sebuah Pendekatan Teori “dalam Mimbar Hukum, Jurnal dua bulanan No. 7, 1992
  24. “Letigasi Pendidikan Agama” dalam Mimbar Hukum, Jurnal dua bulanan No. 8, 1993
  25. Fakultas Syari’ah Fungsi, Tugas dan Keluarnya dalam Mimbar Hukum, Jurnal dua bulanan No. 11, 1993
  26. “Permasalahan Hukum Kontemporer dan Kaitannya dengan Peradilan Agama” dalam Mimbar Hukum, Jurnal dua bulanan, No. 23, 1995
  27. Kepolisian Republik Indonesia dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia, Secapa News, September 2007
  28. Peradilan Agama dalam Sistem Peradilan Satu Atap, Jurnal I'tibar, Kopertais Wilayah Jawa Barat Banten, Juli 2007
  29. Peran Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta dalam Pembangunan di Daerah, Jurnal I'tibar, Kopertais Wilayah Jawa Barat Banten, Oktober 2007


Prof. Deddy menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Syariah UIN/IAIN SGD Bandung dan Unpak Bogor, S2 Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan S3 di Universitas Padjadjaran.

Saat meninggal, Deddy masih menjabat Ketua MUI Kota Sukabumi. Berbagai jabatan sebagai aktivis pergerakan dan pemikiran Islam yang pernah dipegangnya antara lain Ketua ICMI Orda Kota Sukabumi, Wakil Direktur Pusat Kajian Pengembangan Parlemen, Direktur Pusat Kajian Kebijakan Hukum dan Ekonomi, Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Ketua Dewan Otonomi Daerah Kota Sukabumi Dewan Pakar KAHMI, dan Direktur Program Pasca Sarjana STIH PERTIBA Pangkal Pinang Kepulauan Bangka Belitung.

Di bidang pendidikan tinggi, Prof. Deddy pernah memegang beberapa jabatan antara lain Ketua Program Studi Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana UNINUS, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Syamsul ‘Ulum Sukabumi, Pimpinan Pondok Pesantren Gunungpuyuh Sukabumi, Dosen Secapa (Setukpa) Lemdikpol Sukabumi, Dosen STAI dan STISIP Syamsul ‘Ulum Sukabumi, dan Dosen Ilmu Hukum Pasca Sarjana UNPAD Bandung. (*)

Pewarta: Rio Bagja Gumilar.
Editor: Red.

Monday, May 28, 2018

Redaksi sukabumiNews

Jokowi Peringkat 16 Tokoh Muslim Dunia Berpengaruh, Mari Bandingkan dengan Erdogan atau SBY

sukabumiNews.net, PRESIDEN Joko Widodo masuk dalam 'Top 500 Muslim' pada tahun ini. Jokowi berada diurutan ke-16 dari total 500 tokoh muslim yang paling berpengaruh dari hasil lembaga survei versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berpusat di Amman, Yordania itu.

Sontak hasil survei ini dielu-elukan para pendukung Jokowi. Apalagi menjelang Pilpres 2019, tentu hal ini dianggap “madu” yang layak dijual pendukung Jokowi kepada masyarakat. Misalnya puji-puji yang dilontarkan Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni.

Dalam keterangan pers, Raja Juli merasa aneh dengan adanya masyakat Indonesia yang tidak mengakui Jokowi sebagai pemimpin berpengaruh. Padahal, jelas Raja Juli, kepemimpinan Jokowi diakui dunia intenasional.

Terlepas dari itu, dibanding tahun 2014, peringkat Jokowi pada 2017 dan 2018 berturut-turut mengalami penurunan. Pada 2014 beberapa saat terpilih sebagai Presiden RI, Jokowi berhasil menempati urutan ke-11 ‘Top 500 Muslim’. Kemudian pada 2017 mengalami penurunan ke peringkat 13. Hingga pada 2018 ini turun tiga strip menjadi peringkat 16.

Penurunan peringkat ini semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan malah dijadikan madu-madu manis yang diumbar oleh para pendukung Jokowi. Siapa pun paham, penurunan peringkat berarti ada persoalan penurunan prestasi ataupun kinerja. Jika kita simak di dunia pendidikan, penurunan peringkat kelas seorang siswa sama artinya terjadi penuruan prestasi siswa tersebut.

Presiden RI sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah masuk ‘Top 500 Muslim’ oleh RISSC. Pada 2011, SBY menempati peringkat 10. Kemudian mengalami kenaikan satu strip pada 2012, yakni menempati peringkat 9.

Patutnya pendukung Jokowi tak perlu jumawa dengan hasil survei RISSC yang nyatanya mengalami penurunan peringkat. Apalagi sampai membandingkan dengan lawan politik Jokowi yang memang belum pernah masuk sebagai Top 500 Muslim. Jika mau membandingkan ya dengan SBY yang berstatus sebagai Presiden RI sebelumnya. Bisa dikatakan prestasi SBY dalam survei RISSC lebih mengkilap dari Jokowi.

Atau bandingkan dengan kepemimpinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang pada 2018 ini menempati peringkat 5 Top 500 Muslim. Tapi, menandingi SBY yang sama-sama ngurus Indonesia saja belum mampu, apalagi menandingi Erdogan.

Perlu diketahui pula, RISSC yang telah melakukan survei delapan tahun lalu ini kedepannya hampir bisa dipastikan terus memasukan Presiden Indonesia sebagai tokoh Muslim berpengaruh. Mungkin lain cerita jika Presiden RI kedepannya dari kalangan non-muslim.

Kenapa demikian? Sebab, selain melihat ketokohan setiap Presiden Indonesia yang menjabat RISSC juga melihat Indonesia sebagai negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim. Seandainya tidak masuk 20 besar, Presiden RI kedepan setelah Jokowi akan tetap diperingkatkan. Tidak mungkin Presiden Indonesia tak masuk 500 tokoh muslim dunia berpengaruh.(*)

Sumber: voa-islam.com

Thursday, December 21, 2017

Redaksi sukabumiNews

Sosok Advokat Papan Atas Junaedi Tarigan, S.H., M.M.

Berbagi Waktu untuk Profesi, Mengajar, dan Berkebun

Tak ada yang menyangka, awal perjalanan pada tahun 1991 ke Kodya Sukabumi bagi Junaedi Tarigan, S.H., M.M. akan berbuah manis. Dari hidup menumpang di rumah kenalan dan kerabat, Junaedi muda setahap demi setahap meraih kemajuan hingga akhirnya menjadi salah satu advokat papan atas di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.
Junaedi Tarigan SH. MH.
"Mengawali karier pada awal tahun 1990-an sangat berat. Apalagi di sebuah kota yang sama sekali asing bagi saya. Boleh dikatakan saya belum punya siapa-siapa ketika tiba di Kota Sukabumi yang waktu itu bernama Kotamadya Sukabumi. Saya harus mengawali semuanya dari nol," kata Junaedi ketika ditemui di kantornya, Jalan Lingkar Selatan, Balandongan, Kota Sukabumi, baru-baru ini.
           
Junaedi yang merupakan anak sulung dari enam bersaudara yang berasal dari keluarga petani jeruk itu lahir di kota berhawa sejuk Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara tanggal 3 Desember 1963. Bemodalkan ijazah sarjana hukum dan pakaian 3 setel yang dibawanya dengan ransel, Junaedi muda menginjakkan kaki di sebuah kota kecil yang belum dikenalnya bernama Sukabumi. Dia tinggal di rumah kerabat yang dipanggilnya Bang Sitepu di kawasan Cimanggah. Dari Bang Sitepu, dia bisa berkenalan dengan pegawai Dinas Tenaga Kerja Kotamadya Sukabumi bernama Liling Surbakti.
           
Waktu itu Kodya Sukabumi dipimpin oleh Wali Kota H. Zaenudin Mulaebary, S.H. dan Kabupaten Sukabumi dipimpin oleh Bupati Ir. H. Muhammad. Dia pun meneguhkan tekad untuk terjun di bidang hukum sebagai pengacara. Orang-orang dekatnya mendukung keinginan Junaedi tersebut. Perkenalan dengan Liling berkembang terus hingga dia mengenal beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah DT II Kodya Sukabumi dan Pemerintah DT II Kabupaten Sukabumi.           
Junaedi Tarigan saat mendampingi Ketua STT Nusantara Putra untuk Study Banding ke Negeri Jiran, Malaysia
Karena pembawaannya yang supel, Junaedi juga dekat dengan kalangan tokoh masyarakat, parpol, dan para pelaku pembangunan lainnya. Hanya butuh beberapa tahun, namanya sebagai advokat mulai dikenal oleh masyarakat Sukabumi. Sampai akhirnya dia berkenalan dan dapat menjalin hubungan yang akrab dengan salah seorang pejabat dengan karier yang terus bersinar yakni HM. Muslikh Abdussyukur, S.H., M.Si. yang sukses menjabat Wali Kota Sukabumi selama dua periode 2003-2008 dan 2008-2013.
           
Dengan Muslikh, Junaedi membangun persahabatan saling menghargai dan menghormati. Wajar kalau Junaedi merasa kehilangan dan terpukul ketika Muslikh meninggal dunia saat masih menjabat Ketua DPRD Kota Sukabumi pada tanggal 21 Mei 2016. Muslikh adalah salah satu sahabat baiknya di Sukabumi. 
           
Setelah pergaulan dan tingkat kehidupan sosialnya relatif mapan, Junaedi mendirikan  kantor hukum sendiri dengan nama Kantor Hukum Junaidi Tarigan, S.H., M.M. & Rekan. Karena nama Junaedi yang sudah dikenal, kantor hukum tersebut cepat meraih kepercayaan dari masyarakat, pemerintahan, maupun kalangan korporasi.
           
Dia juga dekat dengan kalangan wartawan. Junaedi sering mendorong para insan pers yang dikenalnya untuk menuntut ilmu agar wawasan dan pergaulan mereka bertambah luas. Pandangannya, dengan derajat ilmu pengetahuan yang tinggi, para wartawan dapat meningkatkan martabat dan kehormatannya. "Saya sangat bersemangat mendorong rekan-rekan wartawan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," ujar dia.           
Junaedi Tarigan bersama Istri, sebagai dosen tetap di STT Nusa Putra Sukabumi
Di tengah kesibukannya sebagai advokat, Junaedi  mengisi waktu dengan menjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Nusa Putra Sukabumi bersama istrinya, Dra. Elin Paulina, M.M. Bapak dari 3 anak ini juga mendapat kepercayaan sebagai panasihat dan kuasa hukum di berbagai lembaga dan instansi seperti RSUD Sekarwangi dan PT GSI.           
Di samping itu, dia juga aktif di organisasi advokat. Jabatan di organisasi advokat yang saat ini diembannya adalah Ketua Dewan penasehat PERADI Sukabumi. Bidang olahraga juga ditekuninya, terutama golf. Junaedi pernah menjadi juara umum turnanen golf yang diselenggarakan oleh Setukpa Lemdik Polri. 
           
Pemilik suara keras dengan intonasi yang tegas ini juga kerap mengisi waktu luang dengan berkebun. Dia memiliki beberapa petak tanah di Jalan Lingkar Selatan yang tak jauh dari Terminal Tipe A Kota Sukabumi. Pada hari libur, tanpa ragu, Junaedi menenteng cangkul dari rumahnya ke kebun untuk mengurus tanaman. Dia memiliki latar belakang kuat sebagai petani dari masa kecilnya sebagai putra petani jeruk. Di kebunnya, dia menanam berbagai jenis sayuran.   

"Hasil dari kebun, saya bagikan kepada warga yang tinggal di dekat kebun. Sebagian saya bawa ke rumah untuk keluarga," ujar dia, mengakhiri perbincangannya dengan sukabumiNews. RED

Thursday, November 23, 2017

Redaksi sukabumiNews

Satlantas Dorong Korban Laka Lantas Berani Lapor

sukabumiNews, PALABUHANRATU - Kecepatan dan keberanian  korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) atau keluarganya dalam menyampaikan laporan sangat menentukan kecepatan proses pencairan dana santunan dari PT. Jasa Raharja dan dana perawatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Karena itu Polres Sukabumi terus mengambangkan sistem pelaporan untuk memfasilitasi kepentingan korban laka lantas.      
Iptu Hermansyah
"Saat ini kami sedang mengembangkan sistem pelaporan online yang mengkonesikan setiap laporan laka lantas ke  kepolisian, Jasa Raharja, dan BPJS," kata Kepala Unit Laka Lantas pada Satlantas Polres Sukabumi, Iptu Hermansyah.
            
Kehadiran sistem pelaporan online, lanjut dia, akan mempermudah komunikasi sehingga proses pencairan dana santunan dan biaya pengobatan dapat berjalan cepat. Tanpa laporan dari korban atau keluarganya, polisi dan lembaga-lembaga terkait tidak dapat mengambil langkah-langkah untuk membantu korban.
            
Polres Sukabumi juga telah menandatangani kesepakatan optimalisasi dalam koordinasi penanganan dan pendataan korban laka lantas di jalan dan angkutan penumpang umum dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jasa Raharja, BPJS Kesehatan, dan RSUD/swasta. Dengan adanya kesepakatan tersebut, penanganan laka lantas yang terjadi di Kabupaten Sukabumi dapat terintegrasi sehingga pelayanan dapat terlaksana secara terpadu dan maksimal.
            
"Sekecil apapun kasus laka lantas harus dilaporkan kepada kepolisian agar dapat diproses secara hukum. Kami siap memberikan layanan prima, tidak justru mempersulit masyarakat,” ujar Iptu Hermansyah.
            
Kadang-kadang, ada masyarakat yang melaporkan laka lantas terlambat beberapa hari sejak hari kejadian. Hal ini tentu akan menyulitkan petugas karena kondisi di tempat kejadian sudah berubah. Ada masyarakat yang baru menyadari jika laporan polisi sangat penting setelah ditanyakan oleh petugas rumah sakit.
            
"Masyarakat tidak melapor karena takut kendaraannya diamankan atau enggan mengikuti proses hukum. Sebenarnya tidak perlu takut karena kami akan mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat," ujar Hermansyah. YUDI PRANGGA/TB. SHARLY

Wednesday, November 22, 2017

Redaksi sukabumiNews

Kapolda Jatim Beri Penghargaan Kepada Bhabinkamtibmas Desa Panjunan Atas Prestasinya Dalam Gerakan Sosial

sukabumiNews, BOJONEGORO - Bhabinkamtibmas Desa Panjunan, Aiptu Zainal Arifin diberi reword (penghargaan) oleh Kapolda Jawa Timur (Jatim) Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Machfud Arifin. Aiptu Arifin yang juga menjabat sebagai Kanit Binmas Polsek Kalitidu itu diberi penghargaan langsung oleh Kapolda lantaran dalam tugasnya dinilai berprestasi karena selalu mengedepankan sisi kemanusia (sosial).

Pemberian reward terhadap Bhabinkamtibmas yang juga selaku Kanit Binmas Polsek Kalitidu itu dilakukan di depan halaman Mapolres Bojonegoro dengan dihadiri dan disaksikan oleh Pejabat Utama Polda Jatim, Forpimda Kabupaten Bojonegoro dan seluruh anggota Polres Bojonegoro pada Selasa (21/11/2017).

"Saya sangat bangga dengan anggota yang mampu melayani masyarakat dengan baik, anggota yang berprestasi anggota yang berbuat baik melebihi panggilan tugasnya kita berikan reward, yang melanggar pasti kita tindak. Ini menginspirasi bukan hanya pada anggota tapi pada diri saya juga," ucap Irjen Pol Machfud Arifin.

Dari beberapa informasi yang dihimpun sukabumiNews diketahui bahwa Aiptu Zainal Arifin dalam tugasnya selalu membuat gerakan yang cukup membuat dan mengundang simpati masyarakat. “Tiada Hari Tanpa Santunan Anak Yatim” adalah salah satu gerakan yang dilakukannya.

Menyantuni anak kurang mampu yang masih duduk di bangku sekolah adalah termasuk dalam gerakannya. Selain itu, membuat gerakan ayo sekolah dan gerakan membaca dengan mengadakan perpustakaan keliling selalu disosialisasikannya. Motor dinas serta mobil patroli Polsek Kalitidu yang sedikit dimodifikasi itu dijadikannya pasilitas untuk mempermudah menjalankan program yang digagasnya.

Sangat wajar bagi Aiptu Zainal Arifin jika dia tidak saja mendapatkan piagam penghargaan, dia juga layak mendapatkan hadiah berupa sebuah sepeda motor matic yang langsung diserahkan oleh Kapolda Jatim di depan halaman Mapolres.

Usai mendapatkan penghargaan, kepada tim sukabumiNews yang berada di lokasi, Aiptu Zainal Arifin mengaku tidak menyangka dan tidak pernah bermimpi akan mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jatim. Dia pun mengungkapkan bahwa tidak ada niat baginya mendapatkan imbalan atas bantuannya yang pernah diberikan kepada warga.

"Sebagai pengayom masyarakat, saya hanya sekedar membantu warga meringankan beban hidup dengan ikhlas," ucap Aiptu Zainal.

Dijelsknnaya bahwa niat dirininya melakukan semua itu berwal dari rasa prihatin yang tumbuh saat melihat kondisi anak-anak yatim yang masih punya niat belajar, yang berangkat dengan tas yang kurang layak. Sehingga timbulah empatinya untuk membantu dan menyantuni mereka.

Sontak, dalam beberapa hari terakhir Aiptu Zainal menjadi viral karena kegiatan kesehariannya yang mengantar dan menjemput sekolah anak cacat semenjak lahir. (Yayuk/Titis/Sutrisno)

Saturday, November 18, 2017

Redaksi sukabumiNews

Polisi yang Satu Ini Patut Mendapat Acungan Jempol dari Masyarakat

sukabumiNews.net, SUKALARANG – Acap kali masyarakat menganggap, bahwa sosok seorang polisi adalah sosok yang sangat ditakuti. Namun, anggapan tersebut akan hilang tatkala melihat dan mendengar apa yang telah dan sedang dilakukan oleh anggota polisi berpangkat Brigadir yang satu ini. Dengan keberadaanya, warga merasa senang dan bahagia. Apalagi saat kedatangan dia ke tengah-tengah masyarakat bisa memberikan manfaat sosial.

Adalah Amin (84), salah satu penerima manfaat sosial, warga Kp. Sunggareun RT 02/ 06 Desa Priangan Jaya, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi.yang kala itu ditemani cucu nya, Haikal (10) mengatakan, bahwa dirinya sangat bahagia dengan kedatangan anggota Polisi yang peduli kepada warga kurang mampu.
Brigpol Didi Dwi Purnomo (Bhabinkamtibmas Desa Priangan Jaya, Kanan) beserta Bhayangkari Ny. Rita Didi, Am. Keb. (Samping kiri ketika memberikan layanan kesehatan kepada Bapa Amin, Tengah) dan Cucunya, Haikal.
 Sosok polisi yang dimaksud Amin, tak lain adalah Brigadir Polisi (Brigpol) Didi Dwi Purnomo, anggota polisi yang bertugas selaku Babinkamtibmas di Desa tersebut. Dalam menjalankan serangkaian tugasnya, seorang polisi berpangkat Brigpol itu lekat dengan aksi sosial. Dan dalam melaksanakan tugas sosialnya, dia tak pernah luput dari dukungan sang istri, Ny. Rita Didi, Am. Keb. yang juga tidak lain merupakan Bhayangkari Ranting Mapolsek Sukalarang.

Sementara menurut informasi yang dihimpun sukabumiNews, dana yang dikeluarkan Brigpol Didi Dwi Purnomo bersama istri untuk menjalankan aksi sosialnya adalah berasal dari penghasilan pribadi. Menurutnya, hal itu mereka lakukan, semata-mata hanya untuk menjalankan syariat agama dan sebagai panggilan jiwa. Karena mereka yakin, bahwa dapat berbagi bersama anak yatim dan jompo, bisa menjadikan jiwa mereka tentram dan bahagia.

Oleh karenanya, Didi beserta Istri selalu menitikberatkan bantuan kepada anak-anak yatim dan orang tua jompo yang tidak mampu. Sementara itu, dalam menjaga kondusivitas di wilayah tugasnya, Didi tidak pernah kehilangan bantuan dari masyarakat, khususnya dari para Tokoh Masyarakat (Tokmas) dan pemuda setempat, seperti dukungan dari pemuda Karang Taruna Desa Priangan Jaya.

“Kepada Pak Polisi dan istri, kami ucapkan terima kasih atas segala bantuan nya. Mudah-mudahan dibalas oleh Allah SWT.," sambung Amin kepada sukabumiNews, disela-sela acara aksi sosial yang berlangsung di rumah nya, Jumat (17/11/2017). 
Dalam aksi sosial tersebut,  dilakukan penyerahan sembako dan pemberian santunan uang jajan oleh Brigpol Didi Dwi Purnomo. Sementara Bhayangkari Ranting Polsek Sukalarang, Ny. Rita Didi, Am. Keb. memberikan bantuan layanan kesehatan berupa pemeriksakan kesehatan kepada Bapak Amin dan Cucu nya. "Saya senang dapat membantu warga di sini. Kebetulan saya juga berprofesi sebagi bidan, jadi bisa membantu suami dengan memberikan bantuan kesehatan," kata Rita Didi.

Ditemui terpisah, Kapolsek Sukalarang, AKP Ma'rup Murdianto, S.Pd. mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi setiap anggota yang dekat dengan masyarakat, terlebih yang bermanfaat bagi warga. Karena, menurut dia, tugas polisi adalah melayami masyarakat. “Jadi harus mengedepankan kepentingan masyarakat, sehingga dapat bersama-sama mewujudkan Kamtibmas,” tegasnya.


"Saya mendukung anggota untuk selalu dekat dengan warga. Apalagi manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh mereka, sehingga akan terwujud Kamtibmas di masyarakat kita," pungkas Kapolsek. (Agus S./BG)

Monday, November 13, 2017

Redaksi sukabumiNews

Innalillahi, M Fachry Jurnalis dan Aktivis Islam Dikabarkan Wafat

sukabumiNews, LAMPUNG – Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang atas wafatnya seorang jurnalis dan aktivis Islam, Ustadz Muhammad Fachry.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Ustadz Muhammad Fachry menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 10.45 WIB, hari Senin (13/11/2017) pagi tadi.

Ustadz M Fachry sebelumnya dikabarkan terserang penyakit stroke dan dilarikan ke RSUD Lampung sejak Ahad (12/11/2017) kemarin . Akibat stroke yang dialaminya, Ustadz Fachry mengalami pendarahan di otak dan seharusnya menjalankan operasi. Namun, Allah Ta’ala berkehendak lain, ia berpulang ke rahmatullah, sebelum operasi dilaksanakan.

Ustadz M Fachry, dikenal sebagai mantan Pemimpin Redaksi Arrahmah.com. Setelah itu, ia kemudian mendirikan media sendiri Al-Mustaqbal.net. Selain dikenal sebagai jurnalis, M Fachry juga dikenal sebagai aktivis Islam dalam tanzhim Sharia4Indonesia. Namun, malang tak dapat ditolak, Ustadz M Fachry kemudian ditangkap dengan tuduhan kasus terorisme, pada bulan Maret 2015 lalu.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pria bernama lengkap Tuah Febriansyah ini, divonis lima tahun penjara dipotong masa tahanan dengan denda Rp 5 juta rupiah, subsider tiga bulan kurungan, pada Selasa (9/2/2016).

Namun, baru 2,5 tahun lebih Ustadz M Fachry menjalani masa tahanan dan dinginnya terali besi, ia kemudian tutup usia.

Saat ini, menurut informasi dari pihak keluarga, jenazah M Fachry tengah diurus pihak Lapas untuk disemayamkan di rumah orang tua beliau di Salemba.


Demikian dikutip sukabumiNews dari Panjimas.com. Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal ibadahnya. RED*

Wednesday, October 25, 2017

Redaktur

Haer Suhermansyah Mantan Kades Lembur Sawah Kacamatan Cicantayan Terpilih Menjadi Kades Cijengkol Kecamatan Caringin


Masyarakat Desa Cijengkol Kecamatan Caringin harus siap dipimpin menuju desa yang berkembang dan religius.

sukabumiNews, CARINGIN – Haer Suhermansyah, mantan Kepala Desa (Kades) Lembur Sawah Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi terpilih menjadi Kades Cijengkol Kecamatan Caringin pada Pilkades yang dilaksanakan secara serentak  di 71 desa di Kabupaten Sukabumi, Minggu (22/10/2017) lalu.

Dengan memperoleh 1.921 suara, dari jumlah keseluruhan 4550 suara, Haer, si calon nomor urut 2 itu terpilih menjadi Kepala Desa (Cakades) Cijengkol Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi mengungguli jumlah suara beberapa calon lainnya.

Rupanya prestasi yang pernah ia raih selama 14 tahun menjabat dan mengabdi di desa sebelumnya dijadikan bekal untuk berjuang meyakinkan kepada masyarakat pemilih di wilayah desa tempat dimana dirinya mencalonkan, hingga akhirnya ia mengantongi suara terbanyak dan sukses terpilih menjadi Kades di  desa yang baru yakni Desa Cijengkol.

Apalagi ditambahnya dengan berbekal segudang penghargaan yang pernah ia raih semasa 2 kali menjabat sebagai Kades di desa sebelumnya, yang hal itu diketahui pula oleh warga masyarakat yang tingal di desa setelahnya dimana ia mencalonkan kemudian, yakni Desa Cijengkol, menambah keyakinan bagi mereka akan bukti keberhasilan dia didalam memimpin sebuah desa.

Kini masyarakat Desa Cijengkol harus siap dipimpin dan dibawa oleh Kades baru menuju desa yang berkembang dan religius.  “Saya siap membawa amanah masarakat Desa Cijengkol, khususnya yang telah mendukung saya, dan akan menjalankannya dengan baik,” ucap Haer Suhermansyah kepada sukabumiNews, belum lama ini.

“Langkah pertama yang akan saya apabila saya sudah di lantik adalah membentuk aparatur desa yang jujur, amanah, dan siap melayani masarakat, karena kita di sini menjadi pelayan masarakat,” lanjut Haer.

Setelah itu jelas Haer, dirinya akan membenahi infrastruktur di wilayah desanya yang memiliki luas 1600 hektar itu. “Ini merupakan pekerjaan rumah buat saya nanti. Bannyak jalan desa yang masih tanah, seperti wilayah Kampung Nengeng Pasir Kiara. Antara Kampung Nengeng sampai Kampung Pareang,  juga Ci Jaura, dan banyak lagi yang harus saya benahi, seperti pengairan yang nota bene di sini banyak petani yang membutuhkan sarana pengairan,” papar dia.

Dijelaskan Haer, ada sekitar 6 titik solokan-solokan yang perlu perbaikan. “Dan apabila saya sudah menjabat sebagai kepala desa, saya akan meyerap bantuan-bantuan yang sudah disediakan oleh pemerintah melaui dinas-dinasnya. Seperti dinas Perkimsih, PU, Bina Marga dan banyak lagi dinas-dinas yang menangani bantuan bantuan tersebut.” Ungkap Haer.

Sementara terkait sumber daya manusia, dirinya akan mengembalikan khitoh desa Cijengkol yang dulu agamis dan religius dengan perencaan pengerjaan yang terbuka. “Untuk itu, saya akan melibatkan masyarakat dan tokoh masyarakat, alim ulama muali tingkat RT, RW, LSM dan Muspika. Bahkan wartawan setempat akan saya undang supaya mereka tau apa yang saya canangkan,” katanya.

Di akhir perbincangan dengan sukabumiNews ia berharap kepada masyarakat agar mefeka bisa diajak kerjasama untuk membangun desa menuju desa yang berkembang dengan nuansa religius. “Insya Allah selama saya menjabat nanti tidak akan lupa untuk selalu mengacu kepada aturan-aturan yang telah di perdakan oleh pemerintah daerah sesuai perundang-undangan yang ada.” Pungkas Haer Suhermansyah. (Aep)

Tuesday, October 17, 2017

Redaktur

Berbekal Kepercayaan Warga, Mantan Kades Ciengang Kembali Nyalon

sukabumiNews.net, GEGERBITUNG - Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kabupaten Sukabumi yang dilaksanakan serentak pada tanggal 22 oktober 2017 mendatang, Karta Sukarta salah satu calon kepala desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, saat ini tengah mempersiapkan diri untuk menyambut harapan warga Ciengang.


"Insyaallah, saya akan senantiasa amanah dalam menjalankan kepercayaan warga termasuk kepercayaan warga yang berharap saya kembali menjadi kepala desa," kata Karta kepada sukabuminews.net saat ditemui di rumahnya minggu, 16/08/2017.


Keberaniannya untuk mencalonkan kembali menjadi kepala desa jelas Karta, itu karena banyaknya harapan dan kepercayaan warga Ciengang yang masih mengharapkan dirinya memimpin kembali Ciengang selama 6 (enam) tahun kedepan. Karta juga mengatakan, dari pengalamannya memimpin Ciengang, banyak program desa yang telah direalisasikan dengan baik sehingga dari produktivitas pembangunan tersebut, saat ini telah banyak dinikmati oleh semua lapisan masyarakat Ciengang, seperti program yang saat ini masih berjalan yakni program pengembangan ekonomi warga khususnya di bidang pertanian.


"Ahamdulillah, untuk keberhasilan program saat menjabat, dapat dilihat dari pembangunan sarana umum dan realisasi usaha berbasis komunitas melalui produktivitas program Bumdes," jelas Karta.


Untuk meyakinkan pendukungnya, Mantan kades ini mengedepankan Visi dan Misi sebagai program realistis untuk mengisi masa kepeminpinanya jika terpilih menjadi kepala desa masa jabatan 2017-2023. "Untuk Visi dan Misi, saya akan fokus pada program super prioritas. Revitalisasi Manajemen aparatur desa, Manajemen Bumdes dan mewujudkan usaha berbasis kawasan," Imbuhnya.



Lebih detil Karta menuturkan, untuk meningkatkan usaha berbasis kawasan yang saat ini potensinya ada di agribisnis dan agrowisata, sejatinya harus diimbangi dengan kualitas agama yang  baik, "Saya yakin ajaran Islam  dapat  memotivasi terwujudnya soliditas sosial juga dapat menjadikan kita sebagai masyarakat yg Rahmatan Lil 'Alamin," tutur Karta. (SANDI KUSNAEDI)
loading...

Monday, October 16, 2017

Redaktur

Ujang Sodikin, Kades Buniwangi Incumbent Nyalon Kades Lagi?

sukabumiNews.net, GEGERBITUNG – Kepala Desa Buniwangi Kecamatan Gegerbitung,  Kabupaten Sukabumi Incumben, Ujang Sodikin, kembali mencalonkan diri menjadi Kepala Desa untuk masa jabatan 2017-2022. Pemilihan Kepala Desa  (Pilkades) di desa dimaksud, akan diselenggaran pada tanggal 22 Oktober 2017 mendatang.

Ujang Sodikin yang menjadi calon Kepala Desa bernomer urut 4 itu mengatakan bahwa dirinya akan terus membaktikan dirinya kepada masyarakat Desa Buniwangi melalui kepemimpinannya dengan berbagai program unggulan, sehingga ia optimis Desa Buniwangi akan lebih betmartabat.

Dia juga mengku, selama hampir 15 tahun dirinya menjabat kades Buniwangi, ia masih harus mewujudkan semua program untuk mensejahterakan masyarakat secara utuh. "Saya akan terus berbakti untuk desa buniwangi. Amanat yang kelak akan saya pegang, akan saya manfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umum," jelas Ujang Sodikin kepada Wartawan saat ditemui di kediamannya, sabtu 14/08/2017.

Terkait programnya tersebut, ia menegaskan bahwa hal itu akan menjadi solusi untuk mewujudkan dan memenuhi semua harapan warga. "Pendidikan dan Kesehatan harus tetap prioritas. Optimalisasi potensi SDA guna menciptakan kemandirian ekonomi warga, juga akan terus digalakan bersamaan dengan pembinaan SDM nya," jelas dia.

Memang keberhasilan kades yang pernah menjabat selama kurang lebih 15 tahun ini menunurutnya tidak terlepas dari kerjasama dengan semua pihak, termasuk masyarakat Desa Buniwangi. Rangakaian keberhasilan tersebut dapat terlihat dari meratanya pembangunan infrastruktur di desa buniwangi seperti jalan setapak, jalan desa, jembatan gantung dan upaya kepemilikan rumah layak huni, serta diprioritaskannya pengawalan wajar dikdas dan keaehatan bagi warga desa buniwangi.


"Alhamdulillah, untuk sarana dan prasarana umum dari belum memiliki jalan aspal, saat ini sudah bisa dinikmati oleh warga. Ke depan, jika ada kepercayaan warga lagi, fokus kita akan terus ditingkatkan pada pembangunan ifrastruktur jembatan/jalan penghubung antar desa, bedah rumah dan kepemilikan aset desa berupa kendaraan sosial."  Papar Ujang Sodikin. (Agus Setiawan)
loading...

Tuesday, August 22, 2017

Redaktur

Dinikahi Adik Ayu Azhari, Ini Sosok Miliader Muda Medina Zein

Sudah cantik, ternyata Medina ini miliader berusia belia loh.

sukabumiNews.net - Belakangan ini, nama Medina Zein mulai dibicarakan para warganet. Maklum saja, Medina merupakan hijabers cantik asal Bandung yang berhasil menjadi miliader di usia belia.

Tengok saja kehidupan sehari-harinya di Instagram, yang memperlihatkan gaya hidup Medina. Selain modis, Medina juga kerap mengunggah plesirannya ke luar negari loh.

Tak hanya itu saja, karena Medina juga dikenal bersahabat dekat dengan sejumlah artis. Salah satunya ada Nagita Slavina yang kerap berfoto bersama.

Namun, siapa sih sebenarnya sosok Medina? Akhir pekan lalu ia menjadi sorotan setelah melangsungkan pernikahan keduanya dengan Lukman Azhari, adik dari artis senior Ayu Azhari.

Perempuan berusia 24 tahun ini, disebut-sebut telah berhasil membangun kerajaan bisnis mulai dari travel, fashion hingga kecantikan. Maka tak heran jika dalam sebulan, dia dikabarkan berhasil menghimpun omzet hingga Rp 4,5 miliar.

Perempuan yang memiliki nama lengkap Mediana Susani Daivina Zein ini merupakan salah anak muda yang sangat inspiratif. Kesuksesannya dimulai dari bisnis kecantikan yang dirintisnya melalui online shop sejak beberapa tahun lalu.

Medina kemudian mengikuti kursus singkat mengenai estetika untuk menambah pengetahuan mengenai produk kecantikan. Berbekal modal Rp 50 juta, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka klinik di Bandung, Jawa Barat.

Mulai dari mempekerjakan 5 orang karyawan, kemudian mulai menggunakan jasa endorse selebgram kini produk kecantikkannya melejit. Hingga kini bersahabat dengan para selebgram hijab Tanah Air yang ngehits. (Red*)


Sumber:  Dream. Co. id

Thursday, August 17, 2017

sukabumiNewsnet

Profil Kades dan Perangkat Desa Cikembang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi

Kadesnya Lugas, Perangkat Desanya Inovatif dan Kreatif

1. Ujang 'Kobul' Suhanda (54)Kepala Desa Cikembang periode 2016-2022  
           
Kades Cikembang Ujang Suhanda lebih dikenal dengan nama landiannya Ujang Kobul. Penampilannya nyentrik dan cara bicaranya lugas dan ceplas-ceplos, tidak berbelit-belit langsung pada tujuan. Banyak yang menganggap dia arogan, tapi sebenarnya Kobul seorang pemimpin yang hangat dan siap mendengarkan serta menampung saran dari orang lain. Dia berpandangan, kesuksesan seorang pemimpin diukur dari kinerja dan ketulusannya dalam bekerja.
           
Dia selalu membuka keran komunikasi tanpa membeda-bedakan status dan latar belakang warga maupun komponen masyarakat lainnya. Demi kepuasan masyarakat, Kobul berani memberlakukan sistem pelayanan 24 jam. Menurutnya, jajaran perangkat desa harus siap  mengantisipasi segala kemungkinan datangnya aspirasi dari masyarakat yang sangat beragam.
           
Dalam membangun desa, Kobul juga melibatkan unsur lembaga kepemudaan desa yakni Bakko (Balad Kobul Kompak Berakhlak) dan Kopasus (Komando Pasukan Ujang Suhanda) yang jumlah anggotanya sekitar 300 orang. Kedua organisasi ini ikut serta  membangun organ-organ ekonomi desa berbasis syariah untuk memperkuat Bumdes Al-Kautsar. 

2. Nanang 'Ahong' Permana (42), Sekretaris Desa Cikembang

Perawakan boleh kecil, tapi ide dan gagasan-gagasannya selalu lebih besar dari tubuhnya. Dialah Sekdes Cikembang Nanang 'Ahong' Permana yang menggagas pengelolaan lahan garapan oleh gabungan 10-15 petani. Gebrakannya selalu mengundang decak kagum teman dan orang-orang dekatnya. Berkat sepak terjangnya, Desa Cikembang yang asalnya tidak diperhitungkan menjadi desa model bagi delapan desa yang ada di Kecamatan Caringin.
           
Nanang dikenal sebagai figur yang memegang teguh prinsip dalam menjaga budaya etos kerja. Tegas, lugas, dan tanpa kompromi, bahkan terkadang agak jahil menjadi ciri khasnya selama ini. Galak untuk kebaikan, menurutnya, tidak masalah, yang tidak boleh itu bersikap lebay, tanpa orientasi dan tujuan yang jelas.


3. Andriansyah (22), Kasi Kesejahteraan

Tugas pokok dan fungsinya berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan warga desa secara keseluruhan, baik ekonomi maupun  sosial kemasyarakatan. Andriansyah sungguh-sungguh memahami bahwa muara dari perjalananan dan dinamika pemerintahan adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan menjamin kebutuhan dasar yang meliputi papan, pangan, dan sandang serta keadaan toto tengtrem kerto selamet raharjo.
          
Untuk merealisasikannya, semua kalangan harus terlibat karena hal itu bukan hanya tugas pemerintah. Dirinya selalu  siap membuka ruang komunikasi dengan seluruh elemen warga untuk membahas berbagai persoalan  sosial yang mereka hadapi. Karena mereka, maka kami ada, ujar Andriansyah.

4. Annita Mustikhasary (27), Kaur Administrasi dan TU
       
Catatan, arsip, dan dokumen pemerintahan Desa Cikembang tertata rapi berkat sentuhan tangannya. Salah satu tugas Annita adalah menata dan mendokumentasikan semua laporan untuk kepentingan pertanggungjawaban kepala desa.

Annita selalu  menyajikan data-data objektif yang lengkap tanpa rekayasa agar bermanfaat dalam jangka panjang.  “Data dan laporan selelu diperbaharui. Sehingga ketika dibutuhkan sudah siap pakai dan bisa diakses kapan dan di manapun,” kata Annita.





5. Rizki Pariana (30), Kaur Perencanaan

Ada pepatah mengatakan, hasil tidak akan mengkhianati proses. Mungkin itulah yang selalu dipegang teguh Rizki Pariana dalam menjalankan tugasnya sebagai Kaur Perencanaan. Karena keberhasilan sebuah pekerjaan, kata dia, sangat tergantung kematangan dalam perencanaan.

“Sebagai Kaur Perencanaan, saya bertanggung jawab langsung kepala desa untuk menyusun kebijakan makro dan mikro agar terarah dan terintegrasi dengan visi dan misinya dalam satu periode jabatan,” ujarnya.



6. Evi Yulianti (32), Kasi Pelayanan Umum

Tugas pokok dan fungsinya merupakan ujung tombak dalam pelayanan umum di kantor desa. Dia harus selalu siap bertugas dalam segala situasi dan kondisi. Evi jatuh cinta pada pekerjaannya karena dia telah menentukan pilihan jalan hidup untuk melayani masyarakat.

Konsekuensinya dia harus pandai-pandai mengatur waktu untuk pekerjaan dan keluarga kecilnya. "Saya memilih pekerjaan ini adalah untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran saya bagi kepentingan warga," katanya.







7. Cepi Firman Hidayat (33), Kasi Pemerintahan

Lingkup tugas bidang pemerintahan di lingkungan kantor desa cukup sentral dalam upadating data-data kependudukan dan hubungan antarlembaga. Cepi paling bertanggung jawab dalam fasilitasi pembuatan kartu keluarga, KTP, akta kelahiran, dan dokumen kependudukan yang lain.

“Data kependudukan itu bersifat dinamis. Maka, setiap saat saya selalu berkoordinasi dengan para ketua RT dan kepala dusun untuk memperoleh data yang valid sebagai komponen dasar dalam penentuan arah kebijakan umum pemerintahan ke depan,” ujar Cepi.





8. Cecep Imron Rosadi (31), Bendahara/Kaur Keuangan

Keberanian Cecep dalam menerapkan sistem online dalam pengelolaan keuangan di lingkungan kantor Desa Cikembang mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Dengan pengelolaan seperti itu, setiap  transaksi keuangan langsung dicatat dan dilaporkan secara daring ke internet.

Karenanya Cecep  tidak perlu repot-repot  menjelaskan rincian dan bukti dana yang masuk atau ke luar kepada masyarakat, kalangan pers, maupun LSM. Saat ini, dana desa sudah mencapai di atas satu miliar yang pengelolaannya membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan transparansi.





9. Neng Susi Mareta (22), Kadus Cicurug

Kades Ujang Kobul mempercayai Neng Susi menjadi Kadus Cicurug karena dia ulet dan pantang menyerah. Berkat keuletannya, Neng Susi berani mentargetkan lunas PBB pada akhir bulan Juli 2017.

Perjalanan untuk mencapai target tersebut cukup sulit dan terjal, dia harus melakukan sosialisasi yang terus-menerus untuk meyakinkan masyarakat bahwa uang pajak yang disetorkan masyarakat akan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk kegiatan pembangunan.






10. Dian Nurdiansyah (26), Kadus Sungapan

Sebagai Kadus Sungapan, Dian menyadari posisinya sebagai kepanjangan tangan kepala desa di wilayah kedusunan mewajibkan dirinya untuk mensosialisasikan program-program pemerintah, baik bidang pembangunan  fisik maupun sosial kemasyarakatan.

Dalam kaitan ini, dia akan berupaya agar akses informasi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah tidak boleh tersendat. Warga desa harus terus berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembangunan, baik yang sedang dijalankan atau program yang masih dalam tahap perencanaan.





11. Deden Djamaludin (34), Kadus Pajegan I

Orangnya efektif, efisien, dan taktis dalam menyelesaikan permasalahan. Itulah ciri khas dari Deden. Dengan alasan untuk menghemat waktu, Deden tidak pernah gamang mengeksekusi sebuah keputusan dan siap dengan segala risikonya.

Jika terjadi banyak pendapat di masyarakat, Deden mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat sebagai cara terbaik dalam mengambil keputusan. Menurut dia, perbedaan pendapat itu hal yang lumrah di alam demokrasi.





12. Rahmat Gustandi (27), Kadus Pajegan II

Irit bicara, itulah karakter bawaan dari Rahmat Gustandi, Kepala Dusun Pajegan II. Tapi soal sepak terjangnya sebagai seorang kadus tidak usah dipertanyakan lagi. Dia tidak pernah absen dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan warganya.


Seorang kadus ujarnya ibarat  spionase yang memasang mata dan telinga agar bisa mendeteksi sejak dini gejala-gejala yang terjadi di tengah warga. “Cepat, tanggap, dan kreatif,  itulah yang menjadi motto kerja saya sebagai seorang kadus,” ujarnya. (USEP MULYANA).
close
close