Breaking
loading...
Showing posts with label lentera-qalbu. Show all posts
Showing posts with label lentera-qalbu. Show all posts

Saturday, June 22, 2019

Ust Manatahan

Muslim, Jangan Saling Memperolok

Memperhatikan kondisi saat ini, banyak sekali kata-kata atau sebutan, gelar, dan julukan yang buruk mudah terlontar, baik melalui lisan atau melalui jari-jemari komentar di media sosial. Sebutlah misalnya julukan “cebong”, “kampret”, “IQ 200 sekolam” dan ucapan-ucapan buruk lainnya.

Ucapan-ucapan yang tampak ringan di lisan dan tulisan, padahal berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat kelak.

Islam tidak membenarkan sesama kita saling memperlolok dan memanggil dengan panggilan yang ia sendiri tidak suka mendengarnya.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا یَسۡخَرۡ قَوۡمٌ مِّنۡ قَوۡمٍ عَسٰۤی اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا خَیۡرًا مِّنۡہُمۡ وَ لَا نِسَآءٌ مِّنۡ نِّسَآءٍ عَسٰۤی اَنۡ یَّکُنَّ خَیۡرًا مِّنۡہُنَّ ۚ وَ لَا تَلۡمِزُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ وَ لَا تَنَابَزُوۡا بِالۡاَلۡقَابِ ؕ بِئۡسَ الِاسۡمُ الۡفُسُوۡقُ بَعۡدَ الۡاِیۡمَانِ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَتُبۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” [QS. 49 (Al-Hujurat) ayat 11].

Kepada orang yang mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan perbuatan mencela orang lain Allah Ta’ala menyebutnya dengan Kefasikan. “Fasik” adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan perbuatan semacam ini tidak pantas dinamakan dan disandingkan dengan keimanan.

Hukum Saling Memanggil dengan Gelar dan Julukan yang Buruk

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

“Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Pada asalnya, “laqab” (gelar atau julukan) itu bisa mengandung pujian dan bisa juga mengandung celaan. Jika julukan tersebut mengandung pujian, inilah yang dianjurkan. Seperti, memanggil orang lain dengan “yang mulia”, “yang ‘alim (berilmu)”, “yang terhormat” dan sebagainya.

Namun jika julukan tersebut mengandung celaan, maka inilah maksud ayat di atas, yaitu hukumnya terlarang. Misalnya, memanggil orang lain dengan “orang pelit”, “orang hina”, “orang bodoh”, dan sejenisnya.

Meskipun itu adalah benar karena ada kekurangan (cacat) dalam fisiknya, tetap dilarang. Misalnya dengan memanggil orang lain dengan “si pincang”, “si mata juling”, “si buta”, dan sejenisnya, kecuali jika julukan tersebut untuk mengidentifikasi orang lain, bukan dalam rangka merendahkan, maka diperbolehkan.

Sayangnya yang kita jumpai saat ini, orang sangat mudah meremehkan larangan Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Diberikanlah julukan bagi orang yang berbeda pandangan atau pilihan “politiknya” dengan sebutan (maaf) “cebong”, sedangkan di pihak lain diberikan julukan (maaf) “kampret” dan julukan-julukan yang buruk lainnya. Seolah-olah ucapannya itu adalah ucapan yang ringan dan tidak ada perhitungannya nanti di sisi Allah Ta’ala.

Lebih-lebih bagi mereka yang pertama kali memiliki ide julukan ini dan yang pertama kali mempopulerkannya, kemudian diikuti oleh banyak orang. Karena bisa jadi orang tersebut menanggung dosa jariyah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Dan barangsiapa yang membuat (mempelopori) perbuatan yang buruk dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim no. 1017).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti tersebut sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).

Mencela Orang Lain Berarti Mencela Diri Sendiri

Ada yang menarik dalam ayat di atas berkaitan dengan larangan mencela orang lain. Allah Ta’ala melarang kita mencela orang lain dengan lafadz,

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Mengapa mencela orang lain Allah Ta’ala sebut dengan mencela diri sendiri? Ada dua penjelasan mengenai hal ini. Penjelasan pertama, karena setiap mukmin itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika dia mencela orang lain, pada hakikatnya dia mencela dirinya sendiri, karena orang lain itu adalah saudaranya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyokong satu sama lain itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasakan sakit, dengan begadang (tidak bisa tidur) dan demam” (HR. Muslim no. 2586).

Penjelasan kedua adalah karena jika kita mencela orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencela diri kita sendiri, dan begitulah seterusnya akan saling mencela. Dan itulah fenomena yang kita saksikan saat ini.

Mencela orang lain itu termasuk perbuatan merendahkan (menghina) mereka. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih” (QS. At-Taubah [9]: 79).


Share, semoga bermanfaat..!

Wednesday, June 5, 2019

Ust Manatahan

Rahasia Tersirat Dibalik Doa “Taqabbalallaahu Minna Wa Minkum”

sukabumiNews - RASA sedih dalam balut kegembiraan sangat terasa dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dari sudut hati, keceriaan dan rasa syukur itu kan tetap terpancar dari aura wajah seorang mukmin: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185). Namun dari lubuk hati terdalam, rona kesedihan tetap kan terasa, antara rasa takut dan berharap, apakah amalan-amalan shalih dalam Bulan Ramadhan ini telah benar-benar diterima oleh Allah ta’ala atau tidak.

Oleh karena itu, untuk menutupi rasa sedih dan harap-harap cemas ini, sangatlah tepat bila dalam rangkaian euphoria Hari Raya selalu dianjurkan saling mengucapkan selamat yang terrangkai dari lafaz-lafaz doa dan harapan diterimanya suatu amalan, demi menghibur hati yang tengah gundah dalam harapan, serta mensirnakan rasa cemas dalam suasana bahagia, “Katakanlah: ‘Dengan (sebab) karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS Yunus: 58)

Para salaf kita sangatlah paham dengan hal yang seperti ini, sehingga “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum” yang merupakan salah satu doa selamat yang mereka ajarkan sangatlah tepat dan menyentuh dalam suasana keceriaan Hari Raya Ied.  Makna doa ini adalah “Semoga Allah menerima (amalan shalih/doa) dari kami dan dari kalian”. Sebuah doa yang memberikan harapan agar amalan ketaatan berupa puasa, qiyamullail, sedekah, zakat, doa dan amalan lainnya yang kita lakukan dalam Bulan Ramadhan diterima dan diberikan pahala oleh Allah ta’ala.  Berikut beberapa faedah terkait lafaz doa ini:
  
Diterimanya suatu amalan harus memiliki dua syarat:

Pertama: Amalan tersebut adalah baik/sesuai sunnah dan ikhlas, bukan amalan buruk, bid’ah atau dengan tujuan riya’. Dengan dalil: “Sesungguhnya Allah itu Baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik”. (HR Muslim)

Kedua: Orang yang mengamalkannya adalah orang yang bertaqwa. Dalam ayat: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27). Sebab itu seseorang semakin bertaqwa, maka semakin sempurna proses penerimaan amalan dan pemberian pahalanya, bila taqwanya kurang, maka amalannya diterima sesuai dengan kadar taqwanya tersebut. Jadi, semua amalan tergantung pada taqwanya orang yang melakukannya. Wallaahu a’lam.

(lihat: Mirqaat Al-Mafaatih: 7/2905, dan Faidhul-Qadir: 2/144).

Hakikat Qabuul/diterimanya suatu amalan adalah amalan tersebut dianggap sah oleh Allah ta’ala dan diberikan pahala atasnya. Dan kadang amalan tersebut sah (artinya tidak diwajibkan lagi untuk diganti) namun pahala dan ganjaran amalan tersebut tidak diterima oleh Allah dan sama sekali tidak ada. Sebab itu para salaf termasuk Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata: “Bila satu shalatku diterima oleh Allah, maka itu lebih aku cintai daripada seluruh isi dunia ini”.

(lihat: Fathul-Bari: 1/235, dan juga At-Taisir Syarh Jami’ Shaghir: 1/89).

Yang banyak dikhawatirkan oleh para salaf baik dari kalangan sahabat ataupun tabiin adalah apakah amalan mereka benar-benar diterima oleh Allah ta’ala atau tidak?? Sebab walaupun seorang hamba sepanjang hidupnya beramal shalih, namun yang menentukan bahagia tidaknya ia diakhirat adalah penerimaan amalannya disisi Allah ta’ala.

Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata pada puteranya: “Seandainya saya tahu bahwa Allah menerima satu sujud saja dariku, atau sedekah satu dirham saja, maka tidak ada sesuatupun yang lebih aku cintai kecuali ingin mati saja (setelah itu), sebab tahukah engkau orang yang diterima amalannya oleh Allah ta’ala?? “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27).

((Atsar ini Riwayat Ibnu Abdil-Barr dalam At-Tamhid; 4/256).

Simaklah kisah ‘Amir bin Abdullah bin Az-Zubair bin Awwaam, seorang ulama tabiin yang ahli ibadah dan zuhud, beliau memiliki kebun berisi 500 pohon kurma, setiap hari beliau shalat dua rakaat dibawah setiap pohon tersebut, dan ketika dalam keadaan sekarat beliau menangis, lalu ditanya: apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab: “Yang membuatku menangis adalah salah satu ayat dalam kitab Allah: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27).

((HR Ibnu Abi Dunya sebagaimana dinukil oleh As-Suyuthi dalam Dur Mantsur: 3/57, juga ada dalam Al-Qabs Syarh Muwaththa: 1/1176).

Adalah sebuah ucapan/ungkapan kegembiraan dan harapan bagi diri kita dan oranglain akan diterimanya amalan-amalan kita dalam Bulan ini. Syaikh Ibnul-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Berikanlah kabar gembira untuk diri kalian sendiri dan juga untuk orang lain… bila anda telah melakukan amalan shalih maka berikanlah kabar gembira untuk dirimu bahwa amalan tersebut akan diterima oleh Allah darimu bila engkau bertaqwa kepada-Nya dalam amalan tersebut, karena Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Maaidah: 27). Dan apabila engkau berdoa kepada Allah, maka berikanlah kabar gembira pada dirimu bahwa Dia akan mengabulkannya, karena Dia berfirman: “Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya” (QS Ghafir: 60).

(Syarah Riyadh Ash-Shalihin: 3/589).

Semoga ucapan doa sekaligus selamat ini menjadi kabar gembira diterimanya amalan-amalan kita semua dan dikabulkan oleh-Nya…aamiin.

# “Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum”

Kata “Taqabbala” sama maknanya dengan “Qabila” yaitu menerima, namun dalam doa ini secara khusus dengan lafaz “Taqabbala/Taqabbul” karena maknanya lebih umum dari pada ” Qabila/Qabuul”, lantaran “Taqabbala/Taqabbul” menggabungkan dua makna yaitu:

Pertama: Makna   “Taqabbala/Taqabbul” sendiri secara khusus yaitu penerimaan amalan yang terus meningkat dari waktu-waktu.

Kedua: Makna ” Qabila/Qabuul” penerimaan amalan yang menyebabkan adanya pahala dan ridha Allah ta’ala.

(lihat: Taaj Al-‘Aruus: 30/209).

Jadi, doa ini selain mengharapkan penerimaan amalan dan adanya pahala dan ridha Allah atas amalan-amalannya yang telah berlalu, juga mengharapkan penerimaan amalan-amalannya dimasa mendatang ditingkatkan oleh Allah ta’ala.

Wallaahu a’lam

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqabbalallaahu Minnaa Wa Minkum !!!

Oleh Maulana La Eda, L.c


#khazanahIsalm
[Wadah.or.id]

Saturday, May 25, 2019

Ust Manatahan

Hukum Mengeluarkan Zakat Fitri dengan Uang

Al-Imam Malik bin Anas berkata:

“Bahwa Zakat (Fitri dengan uang) itu TIDAK mencukupi (yakni tidak sah zakatnya).” [Al-Mudawwanah Al-Kubra (3/385)]

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

“Bahwa mengeluarkan Zakat Fitri dengan uang tidaklah mencukupi (tidak sah).” [Al-Fiqh Al-Manhajī ‘alā Madzhab Al-Imām Asy-Syāfi’ī]

Al-Imam Ahmad juga berkata (tentang hal tersebut),

“Menyelisihi sunnah Rasūlullah .” [Al-Mughni (3/87)]

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya:

Bolehkah mengeluarkan Zakat Fitri dengan uang?”

Maka Fadhilatusy Syaikh menjawab:

زكاة الفطر لا تصح من النقود. لأن النبي فرضها صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، وقال أبو سعيد الخدري رضي الله عنه: كنا نخرجها على عهد رسول الله ، صاعًا من طعام، وكان طعامنا يومئذ التمر والشعير، والزبيب والأقط. فلا يجوز إخراجها إلا مما فرضه رسول الله

Zakat Fitri TIDAK SAH ditunaikan dengan uang, karena Nabi mewajibkan zakat dengan ukuran satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ gandum.

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dahulu kami semasa Rasulullah (masih hidup) mengeluarkan zakat seukuran satu sha’ makanan pokok. Dan makanan pokok kami ketika itu ialah kurma kering, gandum, kismis dan keju.”

Maka tidak boleh mengeluarkan zakat selain dengan yang telah diwajibkan oleh Rasulullah .”

[Majmu’ Fatwa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin (18/180)]

Syaikh juga berkata:

أما زكاة الفطر فلا يجوز دفع النقد عنها بل يجب أن تدفع من الطعام لأنها هكذا فرضت ولما في دفعها من الطعام من سد حاجة الفقير في يوم العيد

 Adapun Zakat Fitri, maka TIDAK BOLEH membayar uang sebagai bentuk penunaiannya. Tapi wajib menunaikannya dengan makanan pokok, karena begitulah yang diwajibkan. Juga karena penunaian zakat dengan makanan pokok itu sebagai bentuk memenuhi kebutuhan orang fakir saat hari raya (‘Iedul Fitri).”

Syaikh juga berkata dalam fatwa beliau yang lain:

 فلا يحل لأحد أن يخرج زكاة الفطر من الدراهم، أو الملابس، أو الفرش، بل الواجب إخراجها مما فرضه الله على لسان محمد صلى الله عليه وسلم، ولا عبرة باستحسان من استحسن ذلك من الناس، لأن الشرع ليس تابعاً للآراء

“… TIDAK HALAL, yakni dilarang bagi siapapun yang hendak mengeluarkan Zakat Fitri dengan Dirham (maksudnya mata uang, pakaian, atau selimut). Namun yang wajib adalah mengeluarkan zakat dengan sesuatu yang telah Allah wajibkan melalui lisan Nabi Muhammad . Anggapan baik oleh kebanyakan orang berkenaan dengan hal ini tidaklah diakui, karena syariat itu tidak mengikuti pendapat orang-orang.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin (18/280)]

Al-‘Allamah Al-Fawzan hafizhahullah berkata:

أما إخراج القيمة، فإنه لا يجزئ في زكاة الفطر؛ لأنه خلاف ما أمر به النبي ، وما عمل به صحابته الكرام من إخراج الطعام . والاجتهاد إذا خالف النص فلا اعتبار به

Adapun mengeluarkan qimah (yaitu dalam rupa uang), maka hal ini ‘TIDAKLAH TEPAT’ untuk Zakat Fitri; karena hal tersebut menyelisihi yang diperintahkan oleh Nabi , dan (menyelisihi) apa yang dilakukan para sahabat yang mulia, yaitu mengeluarkan (zakat, dengan) makanan pokok. Dan suatu ijtihad jika menyelisihi nash (dalil), maka ijtihad tersebut TIDAK teranggap.” [Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan (81/13-14)]

Friday, May 17, 2019

Ust Manatahan

Janganlah Anda Menjadi Prajurit Setan Berbentuk Manusia Ketika Setan Dibelenggu

Jika puasa bisa menekan syahwat, maka sudah sepantasnya setiap Mukmin menggunakan momen ini untuk beribadah dengan baik pada Allah, dan belajar meninggalkan maksiat dan syahwat jelek.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
Dengan puasa Allah menyempitkan aliran darah yang merupakan jalurnya setan, karena setan itu menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu menjelaskan dari pertanyaan syubhat:
Pada waktu Ramadan, bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu, sementara kejahatan tetap ada?”

Jawab: Bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek, dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. [Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163]

#nasihatsahabat

Sumber: ustManatahan

Wednesday, May 8, 2019

Redaksi sukabumiNews

Tiga Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan

Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66).

Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar.

Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34).

Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224)
Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan:

1- Waktu sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

2- Saat berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

3- Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

BACA Juga: Cara Membayar Fidyah Shaum Ramadan 


#NasihatSahabat
#ustManatahan

Tuesday, May 7, 2019

Ust Manatahan

Cara Membayar Fidyah Shaum Ramadan


Bagaimana Cara Membayar Fidyah Shaum Ramadan?

Pertama: Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175]

Nilai ½ sho’ berdasarkan sabda Rasulullah :

لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ

“Setiap satu orang miskin setengah sho’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu’anhu]

Kedua: Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu:

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا

“Anas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.” [Riwayat Al-Bukhari]

Beberapa Permasalahan Terkait Fidyah

Fidyah hendaklah diberikan dalam bentuk makanan tidak diuangkan,[ Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 5750] karena Allah berfirman:

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [QS. Al-Baqarah: 184]

Dan para sahabat radhiyallahu’anhum membayar fidyah dalam bentuk makanan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Kualitas makanan fidyah hendaklah sama dengan yang biasa kita dan keluarga kita makan. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129]

Fidyah boleh dibayarkan kepada satu orang miskin, karena dalil tidak menentukan berapa orang miskin. Berbeda halnya dengan kaffaroh jima’, wajib dibagi kepada 60 orang miskin, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah.

BACA Juga: Niat Shaum di Bulan Ramadan

Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadan.

Bagi yang tidak mampu berpuasa dan tidak pula mampu membayar fidyah, maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

ويكفي دفع ذلك إلى فقير واحد، وإن عجزت عن الإطعام سقط عنك

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang fakir. Jika engkau tidak mampu, maka hilang kewajiban membayar fidyah darimu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268]

Disebutkan juga dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

ويكفي دفع ذلك إلى مسكين واحد أو أكثر في أول الشهر أو أثنائه أو آخره

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal Ramadan, atau pertengahan. dan akhirnya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268 dan 9/128 no. 17029]

Apabila orang sakit yang sudah tidak diharapkan kesembuhannya ternyata sembuh, apa kewajibannya?

يجزئها ما أخرجته من الفدية فيما مضى عن كل يوم أفطرته ولا يجب عليها قضاء تلك الشهور؛ لأنها معذورة وقد فعلت ما وجب عليها في حينه.

“Sudah mencukupinya fidyah yang telah ia keluarkan dahulu setiap satu hari puasa yang ia tinggalkan, dan tidak wajib baginya meng-qodho puasa selama bulan-bulan waktu sakitnya tersebut. Karena ketika itu ia dalam keadaan memiliki uzur dan ia telah melakukan kewajibannya saat itu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/196 no. 4681]

Demikian pula sebaliknya, apabila sakitnya masih diharapkan kesembuhannya pada awalnya, kemudian ternyata berlanjut terus dan tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka hendaklah ia membayar fidyah sebanyak hari-hari puasa yang telah ia tinggalkan tersebut. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

BACA Juga: Tiga Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan 


#NasihatSahabat
#ustManatahan
close
close
close