Breaking

Friday, August 23, 2019

Redaksi3

Sambangi SMKN 1 Surade, UPTD Dukcapil Berhasil Rekam 150 Data Siswa

Dukcapil Surade rekam e-KTP
Antusias para siswa SMKN 1 Surade pada program Disdukcapil sambangi sekolah di ruang Laboratoriun Komputer SMKN 1 Surade, Jum'at (23/8/2019)  
sukabumiNews, SURADE – UPTD Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) melalui programnya menyambangi langsung lembaga sekolah, berhasil melakukan perekaman KTP Elektronik terhadap 150 siswa SMKN 1 Surade. Kegiatan yang diinisiasi oleh UPTD Dukcapil Surade ini dilangsungkan di ruang Labaratorium Komputer SMKN 1 Surade, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (23/08/2019).

Kegiatan menyambangi sekolah secara langsung ini merupakan penetrasi program Disdukcapil Kabupaten Sukabumi guna mempercepat pelayanan perekaman e-KTP bagi pelajar yang sudah cukup usia.

"Alhamdulillah, hari ini kita berhasil melakukan perekaman data e-KTP untuk 150 siswa yang ada di SMKN 1 Surade. Kegiatan menyambangi sekolah secara langsung merupakan komitmen untuk mempermudah warga mendapatkan e-KTP, khususnya pelajar yang sudah cukup usia," ungkap Kasubag Tata Usaha UPTD Dukcapil Surade, Endang kepada sukabumiNews, Jumat (23/08/2019).

Pelaksanaan perekaman e-KTP di sekolah-sekolah yang beroperasi di wilayah pajampangan, lanjut Endang, sudah berjalan memasuki tahun 2019 dan telah berhasil merekam sebanyak 700 data siswa untuk memiliki KTP Elektronik.

"Sebelumnya, sudah ada daftar sekolah- sekolah yang ingin disambangi langsung untuk dilakukan perekaman e-KTP. Selama 2019 ini, total data siswa yang berhasil direkam ada sebanyak 700 orang siswa," jelas Endang.

Endang menyebutkan beberapa wilayah yang sudah masuk kedalam daftar pelaksanaan perekaman e-KTP meliputi wilayah Cibitung, Surade, Ciracap, Tegalbuleud dan beberapa sekolah diantaranya SMKN 1 SURADE, MAN 3 SUKABUMI, SEMANIS, SMK BINA BANGSA dan SMK NUSA PUTRA. "Kegiatan ini akan kita lakukan walaupun di luar jam kantor,"tandas Kasubag Tata Usaha UPTD Dukcapil Surade, Endang.

Terlaksananya program perekaman yang dilakukan oleh UPTD Dukcapil Surade, membuat Dede Ahmad Hadi, seorang guru Mata Pelajaran Fisika di SMKN 1 Surade angkat bicara. Dede mengapresiasi program tersebut lantaran dinilainya tepat sasaran dan sangat membantu para siswa untuk mendapatkan KTP elektronik.

"Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas kinerja yang dilaksanakan oleh UPTD Dukcapil Surade yang telah menjalankan program perekaman e-KTP di almamater kami. Jelas, ini sangat bermanfaat karena telah meringankan anak-anak didik kami," ungkap Dede Ahmad Hadi.

Di tempat yang sama, Perdi (18) siswa Kelas XII, Jurusan Tehnik kendaraan ringan otomotif (TKLO) merasa bangga karena sebentar lagi dirinya akan memiliki KTP elektronik. Warga asal kp. Cijangkar RT 31, RW 07, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi itu, juga mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak sekolah dan UPTD Dukcapil Surade karena telah mengakomodir harapannya memiliki KTP elektronik.

"Saya senang dan bangga karena akan punya e-KTP. Saya berterima kasih kepada pihak sekolah dan UPTD Dukcapil Surade," tutur Perdi.


Pewarta : Azis R/YK
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaktur sukabumiNews.net

Laga Kedua Grup C Liga 3 Kasta 1 Jabar, Pertandingan Bintang Timur FC VS Benpica FC Berlangsung Sengit

Bintan Timur FC
sukabumiNews, CISAAT - Bintang Timur FC yang menjadi kebanggan Kabupaten Sukabumi berhasil menguasai lapangan di menit-menit babak pertama pada laga kedua grup C Liga 3 Kasta 1 Jabar, dan membuat sang lawan Benpica FC Karawang sempat kewalahan.

Pertandingan laga kedua di kasta liga tiga yang digelar di stadion sepakbola Korpri di Cisaat, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (22/08/2019) sore hari tadi berlangsung sangat sengit.

Pada menit awal pertandingan kick-of tim kesebelasan besutan Endang S Fredy ini berhasil menguasai lapangan hijau. Namun, karena pertahanan dari Benpica FC cukup kuat, beberapa peluang emas BT FC berhasil digagalkan oleh pemain belakang Benpica FC Karawang. Tendang-tendangan yang mengarah ke arah gawang Benfica FC berhasil ditepis penjaga gawang Ahmad Saebani. Hingga pluit akhir babak pertama ditiup, kedudukan masih bertahan imbang.

Keadaan terlihat masih berlangsung imbang sampai babak kedua hampir berakhir. Kedua tim berjuang keras untuk merebut tiga poin dari pertandingan tersebut. Saat menit ke 72 tiba, pertahanan BT FC mulai longgar dan nyaris hilang keseimbangan karena pemain belakang BT FC Muhammad Haekal berbuat kesalahan hingga dikeluarkan wasit dari lapangan.

Kenyataan pahit itu dimanfaatkan baik oleh pemain belakang Benpica FC, Barsah Alamsah yang memiliki nomor punggung 4. Alamsah akhirnya berhasil menjebol jaring penjaga gawang Ahmad Faiz pada menit ke-82 melalui tendangan bebas.

Tidak lama setelah gol pertama Benpica PC Karawang, pada menit ke-89, Benpica kembali berhasil menyarangkan bola pada gawang BT FC melalui tendangan kapten Dian Taufik Hidayat hingga kedudukan berakhir menjadi 0-2. Sampai peluit panjang babak kedua ditiupkan wasit, kedudukan berakhir 0-2 dan kemenangan untuk Benpica FC Karawang.
Menyikapi keadaan yang di luar dugaan, Pelatih Bintang Timur FC Endang S Fredi menyatakam, hasil pertandingan kali ini di luar prediksinya. Sebelumnya, kata Dia, Timnya sangat optimistis bisa mencuri tiga point' dari Benpica FC Karawang. Namun ternyata, dewi portuna lebih berpihak kepada Benpica FC. Meski demikian, Dia tidak lantas berkecil hati lantaran masih tersisa empat pertandingan untuk putaran pertama.

"Peluang meraup poin untuk Bintang Timur FC masih besar. Meskipun kita baru mengantongi satu poin, kita akan buktikan kemenangan pada pertandingan laga tandang berikutnya melawan BM Cibinong di lapang Persikabo pada tanggal 27 Agustus mendatang," pungkasnya optimis.

BACA Juga:

Pewarta: Azis R
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Thursday, August 22, 2019

Redaksi3

Kembali, Polres Sukabumi Kota Berhasil Ungkap Sindikat Peredaran Narkoba Jenis Sabu dan Ganja

polres Sukabumi Kota
sukabumiNews, CIKOLE - Dalam tiga bulan terakhir ini, Sat Narkoba Polresta Sukabumi bekerja sama dengan Satgas Kejahatan Jalanan Wilayah Rayon Tengah, berhasil mengungkap kasus peredaran narkoba di Kota Sukabumi. Dalam pengungkapan kasus tersebut polisi berhasil mengamankan 12 orang, berikut barang bukti berupa 49,48 gram narkotika jenis sabu dan 43,23 gram jenis daun ganja.

Satgas Kejahatan Jalanan Wilayah Rayon Tengah meliputi yuridiksi Polsek Cikole, Gunungpuyuh, Citamiang dan Sukabumi.

"Sebanyak 12 pelaku sudah kita amankan. Status kejahatan mereka berbeda-beda, mulai dari yang menjadi kurir, pengguna dan pengedar," kata Kasat Narkoba Polres Sukabumi Kota, AKP Maolana kepada sukabumiNews dalam jumpa pers hari ini, Kamis (22/8/2019).

Modus operandi peredaran barang haram tersebut, terang Maolana, dilakukan dengan cara sistem tempel atau disimpan di satu tempat dan juga dijual secara langsung berhadap-hadapan. "Kebanyakan dari mereka merupakan pemain lama dan sisanya pemain baru," terangnya.

Lebih lanjut Maolana menjelaskan, para sindikat narkoba itu diketahui memiliki barang dari luar Kota Sukabumi dan dalam proses pengambilannya sudah direncanakan secara matang melalui pemetaan handal agar barang haram itu mudah sampai kepada pembeli. Salahsatu pelaku, kata Dia, ada seorang perempuan sebagai pemain baru. "Satu tersangka merupakan perempuan. Dia sudah menjalankan bisnis haramnya sekitar tiga bulan lalu," jelas Kasat Narkoba, Maolana.

Informasi yang dihimpun langsung oleh sukabumiNews, selain berhasil mengungkap jaringan narkoba, dalam beberapa hari ini, Satgas Kejahatan Jalanan Wilayah Rayon Tengah juga berhasil mengungkap kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang memimpa seorang anak di bawah umur. Kejadian itu bertempat di sebuah rumah kontrakan di kawasan Jalan Pemuda, Gang Jayadi RT 01, RW 07, Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi.

"Jumlah pelaku yang sudah teridentifikasi ada empat orang. Mereka berinisial SR, CH, AD dan UQ. Ketiga pelaku sudah kita amankan sementara satu lagi yakni UQ masih kita cari,"ungkap Kapolsek Citamiang, AKP Anun, selaku Satgas Kejahatan Jalanan Wilayah Rayon Tengah Polsek Citamiang.

Pemicu kejadian itu, lanjut Kapolsek, awalnya dari masalah asmara dan rasa Cemburu. Sedangkan modusnya dilakukan secara bersama-sama dan menggunakan senjata tajam jenis golok.

"Keadaan korban masih dirawat di Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," ujar Kapolsek Citamiang.


Pewarta: Azis R.
Editor: Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

Terlalu…!, Minta Supaya Harga Rokok 700%, PKS Sebut Orang Miskin Nggak Boleh Merokok

Sekretaris Fraksi PKS DPR, Sukamta
Sekretaris Fraksi PKS DPR, Sukamta. (FOTO: Istimewa)  
sukabumiNews, JAKARTA – Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR menegaskan pemerintah harus menaikkan harga rokok beratus-ratus kali lipat dari harga saat ini.

Mereka menilai, saat ini harga rokok yang beredar terlalu murah. Sehingga bisa dijangkau masyarakat miskin yang biaya kesehatannya ditanggung negara melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Seharusnya harga rokok di Indonesia dinaikkan sampai 700 persen. Jadi orang miskin dilarang merokok karena sakitnya ditanggung negara,” ujar Sekretaris Fraksi PKS DPR, Sukamta, Kamis (22/8/2019).

Ia berpendapat, orang-orang yang sudah kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal dipersilakan tetap merokok. Asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok.

Yang penting, dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara karena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan negara.

“Selama ini negara menoleransi rokok karena berharap pemasukan dari cukai tembakau. Di era JKN saat ini, negara semakin mudah menghitung biaya pengobatan penyakit akibat rokok dan memang tidak sebanding dengan cukai yang diterima,” jelas dia.

Belum lagi bila bicara aspek peluang produktivitas yang hilang karena seseorang sakit akibat rokok di usia produktif. Sukamta mengatakan nilai peluang kehilangan produktivitas lebih besar daripada biaya pengobatan yang harus ditanggung.

Menurut Sukamta, permasalahan rokok bukan lagi persoalan kesehatan masyarakat. Isu tembakau telah bergeser menjadi persoalan bisnis dan politik.

“Ada politisi di Indonesia yang mendapat dukungan dari industri tembakau. Itu menjadi salah satu persoalan pengendalian tembakau di Indonesia,” katanya, dilansir Abadikini.

Pewarta: AK
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

Kronologi Asal-Usul Kericuhan di Sorong, Manokwari, Fakfak, Papua

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari

aksi dengan pengawalan prajurut TNI di Bundaran Timika Indah, Mimika, Papua
Warga melakukan aksi dengan pengawalan prajurut TNI di Bundaran Timika Indah, Mimika, Papua, Rabu (21/8/2019). ANTARA FOTO/Jeremias Rahadat/wpa/nz.  
Kronologi asal usul kericuhan yang terjadi di Sorong, Manokwari, Fakfak, Timika, dipicu oleh aksi rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya.

sukabumiNews - AKSI Massa di beberapa wilayah Papua masih terus terjadi hingga Rabu (21/8/2019).

Aksi ini menjadi respons masyarakat Papua terhadap tindakan rasisme yang menimpa mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pada Kamis (15/8/2019) terjadi bentrokan antara sekelompok warga Malang dengan mahasiswa asal Papua, di kawasan Rajabali, Kota Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan laporan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Malang, para mahasiswa asal Papua tersebut dalam perjalanan dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang untuk menyampaikan aspirasinya.

Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu akan melakukan aksi damai di Balai Kota Malang, mengecam penandatanganan New York Agreement antar pemerintah Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962.

Sekitar pukul 08.55 WIB, mereka tiba di simpang empat Rajabali dan bertemu sekelompok warga Malang. Kemudian terjadi perselisihan atau adu mulut, yang berujung terjadinya bentrokan. Bentrokan antara kedua kelompok itu semakin memanas. Puncaknya, kurang lebih pada pukul 09.20 WIB, kedua kelompok saling melempar batu.

Aksi Rasisme di Surabaya

Pada Jumat (16/8/2019) secara tiba-tiba sekitar 15 anggota yang berasal dari TNI mendatangi asrama mereka di Surabaya.

Dorlince Iyowau saat dihubungi Tirto, Sabtu malam, pukul 21.30 WIB mengatakan tanpa permisi mereka menggedor gerbang asrama. Hal itu membuat kaget 15 mahasiswa, termasuk Dorli, yang berada di dalamnya.

Menurut Dorli sekitar pukul 15.20 WIB TNI mendobrak pintu disertai ujaran rasis dan kebencian.

Sikap arogan TNI tersebut, menurut Dorli, ditenggarai oleh bendera merah putih milik pemerintah kota Surabaya yang terpasang di depan asrama mereka, tiba-tiba sudah berada di dalam saluran air. Sementara Dorli mengaku, ia dan kawan-kawannya tak tahu soal hal itu.

"Karena kami tidak tahu soal itu [bendera merah putih] di dalam got. Kami minta bernegosiasi. Tapi TNI menolak," ujarnya.

"Dalam dua hari pemasangan [bendera itu] masih baik-baik saja. Munculnya permasalahan itu pada 16 Agustus kemarin tiba-tiba ada di got."

Setelah TNI tiba dan menggedor gerbang asrama mahasiswa Papua, menurut Dorli, datang lagi secara bertahap pihak Satpol PP dan organisasi masyarakat.

Dalam kondisi terkepung, Dorli mengaku harus menahan lapar, begitu juga dengan belasan kawan-kawan lainnya.

Hingga akhirnya datanglah 27 mahasiswa Papua lainnya, yang hendak membawakan makanan untuk mereka pada Sabtu siang tadi, sekitar pukul 12.00 WIB.

Dorli dan 41 mahasiswa Papua lainnya bertahan hingga pukul 15.00 WIB, sebelum akhirnya mendapat serangan gas air mata dan mendekam di Mapolrestabes Surabaya.

Kericuhan Mulai Terjadi di Papua

Perlakuan rasisme yang dialami oleh mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya tidak segera mendapat respons dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Jawa Timur.

Akhirnya pada Senin (19/8/2019) pagi situasi mencekam menyelimuti Manokwari. Sejumlah jalan protokol diblokir mahasiswa dan masyarakat. Mereka protes karena tak terima dengan rasisme dan persekusi terhadap sejumlah mahasiswa asal Papua yang sedang belajar di Jawa Timur.

Wakil Gubernur Papua Barat Muhammad Lakotani menyebut, massa sempat membakar Gedung DPRD. Mereka juga merusak sejumlah fasilitas dan membuat lalu lintas di Manokwari jadi semerawut.

“Massa cenderung beringas, sehingga kami tak bisa mendekat, Gedung DPRD provinsi sudah dibakar,” kata Lakotani dalam program Breaking News KompasTV, Senin pagi.

Selain di Manokwari, protes juga dilakukan ratusan orang--mungkin ribuan orang--turun ke jalan di Jayapura, Papua.

Efek domino aksi massa yang terjadi di Manokwari, Papua Barat juga menjalar ke Kota Sorong. Bandara Domine Eduard Osok menjadi sasaran massa, mereka melempari fasilitas yang ada di bandara tersebut, Senin (19/8/2019).

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan ada beberapa kantor yang turut jadi sasaran aksi massa.

"Ada beberapa kantor, masih belum di-update. Kalau sudah kondusif, aparat bersama pemda setempat akan menginventarisasikan kerusakan properti di area publik," ujar dia di Mabes Polri, Senin (19/8/2019).

Beda Pendapat Antara TNI dan Polri

Saat kerusuhan masih berlangsung, Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo memberikan keterangan pers kepada wartawan.

Dalam pernyataannya, Dedi menyebut kerusuhan di Papua Barat dipicu provokasi penyebaran konten di sosial media.

“Mereka cukup terprovokasi dengan yang disebar akun di sosmed,” kata Dedi di Mabes Polri, Senin siang.

Ia tak menyebut kerusuhan tersebut dipicu ulah rasis aparat dan masyarakat di Surabaya.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut kerusuhan yang terjadi di Papua memang dipicu represi aparat terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Namun, Tito mencoba “menghaluskan masalah” dengan menyebut kerusuhan dipicu kesalahpahaman.

“Kemarin ada kesalahpahaman, kemudian mungkin ada yang membuat kata-kata kurang nyaman, sehingga mungkin saudara kita terusik di Papua,” ucap Tito di Surabaya, Senin siang.

Menko Polhukam Wiranto menampik alasan yang dikemukakan Tito Karnavian dan anak-anak buahnya. Meski tak menyebut kerusuhan dipicu rasisme aparat, Wiranto mengaku kerusuhan itu dipicu pernyataan negatif sejumlah pihak--termasuk aparat dan masyarakat.

“Pemerintah menyesalkan adanya insiden yang saat ini sedang berkembang tentang pelecehan Bendera Merah Putih di Jawa Timur yang disusul dengan berbagai pernyataan negatif oleh oknum-oknum yang memicu aksi di beberapa daerah terutama di Papua dan Papua Barat yang nyata-nyata mengganggu kebersamaan dan persatuan kita sebagai bangsa,” kata Wiranto dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam.

Sama seperti Wiranto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga tampak membantah keterangan Tito.

Khofifah yang malah meminta maaf atas ulah sejumlah pihak termasuk masyarakat Jawa Timur yang berbuat rasis terhadap mahasiswa Papua.

Menurut Khofifah, rasisme tersebut merupakan tindakan personal dan tidak mencerminkan sikap warga Jawa Timur.

“Atas nama komitmen berindonesia, mari kita tempatkan satu sama lain dengan saling menghormati dan menghargai. Saya tadi bertelepon dengan Gubernur Papua, meminta maaf karena sama sekali, kalau [ular rasis] itu bukan mewakili suara Jatim,” kata Khofifah, Senin siang.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga meminta maaf atas tindakan sejumlah orang yang berbuat rasis terhadap mahasiswa di Asrama Papua.

Namun, ia menampik jika ada pengusiran terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. “Kalau ada kesalahan kami mohon maaf, tapi tak benar kami mengusir,” kata Risma, Senin siang.

Hingga Rabu (21/8/2019) siang kondisi di Papua masih belum kondusif. Dilansir dari Antara, Aksi massa yang terjadi di Fakfak, Papua Barat berujung pada pembakaran dan perusakan fasilitas umum, Rabu (21/8/2019). Seperti dilansir Antara, massa membakar kios yang ada di Pasar Fakfak dan jalan menuju ke pasar.

Aksi massa juga terjadi di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Rabu (21/8/2019), yang awalnya berlangsung kondusif, kini massa mulai melempari Gedung DPRD Mimika dengan batu.

Wartawan Antara melaporkan dari lokasi kejadian bahwa lemparan batu ke arah gedung DPRD Mimika yang terletak di Jalan Cenderawasih Kota Timika, mencuat sekitar pukul 13.00 WIT.

Aksi ini menjadi respons masyarakat Papua terhadap tindakan rasisme yang menimpa mahasiswa asal Papua.

Artikel ini telah tayang di tirto.co.id dengan judul "Kronologi Asal-Usul Kericuhan di Sorong, Manokwari, Fakfak, Papua"
Redaksi3

Warga Cireunghas Mengeluh, Pelayanan RS Hermina Sukabumi Tidak Profesional

kecewa
F (12) bersama ayah (kanan) dan ibu kandungnya (berdiri) merasa kecewa dengan pelayanan RS. Hermina Sukabumi.  
sukabumiNews, SUKARAJA - Warga asal Kp. Pojok RT 01, RW 01, Desa Cireunghas, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Linawati (34) mengeluhkan pelayanan RS. Hermina Sukabumi yang dinilai tidak profesional dalam menangani penyakit anaknya berinisial F (12).

"Saya membayar cash biaya operasi lalu Rp.9 juta. Bukannya sembuh, penyakit anak saya malah semakin parah,” ungkap Linawati (34) kepada sukabumiNews ditemui di RS. Hermina Sukabumi di Jl. Cibeureum Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, Rabu (21/08/2019) petang.

Sebelumnya, F, oleh dokter RS. Hermina Sukabumi didiagnosis menderita usus buntu dan harus segera dilakukan operasi.

“Hari ini, anak Saya dinyatakan harus dioperasi kembali karena ada cairan nanah yang harus dibuang, biayanya Rp.7 juta. Padahal waktu itu, diagnosisnya jelas dan hanya cukup dioperasi satu kali," jelas Linawati.

Kepada sukabumiNews Linawati menceritakan kronologi kejadian hingga mengakibatkan F harus dioperasi kembali dengan biaya yang tidak murah.

Menurut Lina, pada Kamis minggu lalu, anaknya diperiksa oleh dokter bernama Azmi dan langsung dinyatakan menderita usus buntu sehingga harus dioperasi.

Waktu itu, tutur Lina, sebagai Ibu pasien, dirinya disuruh membayar biaya operasi sebesar Rp.9 juta, namun setelah syarat administrasi itu dipenuhi, anaknya tak kunjung mendapat penanganan hingga berjam-jam.

Melihat kejadian itu, keluarga besar Lina tidak terima dengan pelayanan pihak rumah sakit dan lansung marah-marah sehingga membuat pihak manajemen RS. Hermina menegur para staf yang menangani F di ruang operasi. Tak lama kemudian, tim dokter langsung menangani proses operasi F.

"Pelayanannya tidak baik padahal kita sudah bayar. Sepulang dari sana (RS. Hermina), anak saya terus menerus merasakan sakit dan sulit tidur. Kata dokter yang pertama cukup operasi, tapi kenapa anak saya harus dioperasi kembali karena ada infeksi yang belum sembuh?," keluh Lina seraya merasa dipermainkan oleh dokter pada pelayanan RS. Hermina Sukabumi.

biaya rumah sakit
Sementara, total biaya operasi dan obat yang telah dikeluarkan oleh Lina sudah mencapai Rp.17 jutaan. “Rinciannya, Rp.15 juta untuk biaya operasi dan sisanya pembelian obat,” terang Lina.

Dihubungi terpisah melalui sellulernya, staf informasi RS. Hermina, BM mengatakan, pihaknya tidak berkapasitas menjawab konfirmasi sukabumiNews, namun akan menyambungkan terlebih dahulu kepada pihak manajemen. Hingga berita ini ditayangkan, pihak RS. Hermina masih belum memberikan klarifikasi.

Dan hingga berita ini ditayangkan, pihak RS. Hermina juga dikabarkan masih belum menangani F secara serius lantaran keluarga F belum bisa memenuhi biaya sebesar Rp.7 juta untuk membuang cairan nanah yang terdapat pada F.


BACA Juga:
Ini Respon RS Hermina terhadap Keluhan Keluarga Pasien Asal Cireunghas


Pewarta : Azis R
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Wednesday, August 21, 2019

Redaksi3

Wabub Adjo Sambut Kepulangan Jemaah Haji 2019 Penuh Syukur


Wabup Adjo Sardjono
sukabumiNews, CIKEMBAR – Wakil Bupati Sukabumi, H. Adjo Sardjono menyambut penuh syukur atas kepulangan ratusan jamaah haji kloter 15 yang tiba di Sukabumi hari ini, Rabu 21 Agustus 2019. Penyambutan kepulangan jemaah haji 2019 sesi pertama itu, dilaksanakan di Asrama Pusbangdai Cikembang, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (21/08/2019).

"Alhamdulillah, kepulangan jemaah haji kloter 15 berjalan lancar dan mereka kembali dalam keadaan sehat wal afiat. Kami sangat bersyukur melihatnya. Semoga perjalanan ibadah mereka menjadi mabrur," ungkap H. Adjo kepada Wartawan saat menyambut kepulangan ratusan jemaah haji kloter 15 di Pusbangdai Cikembang.

H. Adjo juga menuturkan, dalam perjalanan ibadah di mekkah, ada beberapa jamah haji yang meninggal dunia di sana. Namun, kata Dia, pihak keluarga masing-masing sudah mengikhlaskan.

"Ada yang meninggal waktu menunaikan ibadah di sana. Kita do'akan dan ikhlaskan kepergiaan mereka agar mendapatkan keridhoan Allah SWT untuk mendapatkan Surga-Nya,"tutur H. Adjo Sardjono.

H. Adjo juga mengatakan pembinaan bagi para jamaah haji baru kembali ke daerahnya. Mereka kata Dia, nantinya akan menjadi warga binaan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Karena menurut H. Adjo, pembinaan para haji harus dilakukan guna menjaga kemabrurannya.

"Mereka nantinya akan dibina oleh IPHI dan akan dijaga kesehatannya. Jadi, nanti kalau ada yang sakit bisa langsung mendatangani Puskesmas di wilayah masing-masing," papar Wabub Adjo.

Sementara Kepala Kemenag Kabupaten Sukabumi, Drs. H. Abas Resmana, M. Si. mengungkapkan, kepulangan kloter haji ke-15 berjumlah 404 jemaah. Mereka kata Dia, dalam keadaan baik dan dipastikan langsung kembali ke rumahnya masing-masing.

"Kami bersyukur kepada Allah SWT atas dilancarkannya kepulangan para jemaah haji hari ini. Semoga mereka menjadi haji yang mabrur dan penuh berkah berkah," ungkapnya.

BACA Juga:
Kepala Kemenag Kabupaten Sukabumi Sebut Pelepasan Jemah Calhaj Kloter 59 Paling Produktif


Pewarta : Azis R
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

Koramil 19/Meureudu bersama Muspika Ajak Masyarakat Cegah Karhutla

Koramil 19/Meureudu
sukabumiNews, PIDIE JAYA  (ACEH) – Koramil 19/Meureudu bersama Muspika Kecamatan Meureudu mengajak masyarakat untuk mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan ( Karhutla). Ajakan tersebut disosialisasikannya dengan pemasangan spanduk bertuliskan " STOP Membakar Hutan dan Lahan" di Desa Meuling dan Desa Cot Trieng Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya  (Aceh).

“Kegiatan pemasangan Banner ini dalam rangka mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dan hutan dengan cara di bakar,” ungkap Kapten Inf Bahagia Bati tuud, Serka Ali Umar mewakili Danramil 19/Meureudu, kepada sukabumiNews saat kegiatan berlangsung, Selasa (20/6/2019).

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Meureudu Jailani SE MM, Bati Tuud Koramil 19/Meureudu Serka Ali Umar, Waka polsek Meureudu Ipda Mustapa, Babinsa Desa  Muling Serda Umar, serta Keucik dan Perangkat desa Mueling Kecamatan Meureudu.

Pada kesempatan itu Serka Umar juga mengingatkan bahwa saat musim kemarau seperti sekarang ini biasanya rentan akan terjadinya bencana kebakaran.

Oleh karena itu, tutur Serka Umar, selain melalui pemasangan Spanduk, jajaran Satuan Kodim 0102/ Pidie juga memerintahkan untuk melaksanakan patroli dalam rangka mencegah terjadinya kebakaran hutan tersebut.

Sementara itu Komandan Kodim (Dandim) 0102/ Pidie Letkol Arm Wagino SE menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang dilaksanakan Koramil 19/ Meureudu.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa mencegah terjadinya Karhutla saat ini menjadi konsen pemerintah dalam menjaga kelestarian alam, mengingat hutan merupakan sumber dari penghidupan,” ucapnya.

Di akhir kegiatannya Dandim mengajak kepada semua elemen dan masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan hutan, sebab kata Dia, apabila hutan telah gundul maka siap-siaplah untuk menerima akibatnya, seperti terjadi bencana banjir dan tanah longsor.


Pewarta: Zoni Jamil
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Tuesday, August 20, 2019

Redaktur sukabumiNews.net

Kepergok Mencuri, Bocah MTs Malah Aniaya Seorang Ibu Muda

bocah mencuri
sukabumiNews, CIKOLE – Seorang bocah yang masih duduk di bangku MTs berinisial M (14) berani melakukan pencurian. Tidak hanya itu, dengan golok yang dibawanya saat beraksi, M juga tega menganiaya seorang ibu muda berusia 27 tahun, Nursilawati dengan membacoknya.

Informasi yang dihimpun sukabumiNews, peristiwa yang terjadi di Kampung Situ Rawapanjang, Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada Senin 19 Agustus 2019, sekitar pukul 21.30 WIB ini berawal ketika Nursusilawati (korban) tengah tertidur di kamarnya.

Saat itu pelaku alias M masuk ke rumah korban melalui jendela kamar yang dicongkelnya terlebih dahulu dengan golok yang dibabawanya.

Saat pelaku hendak menggasak harta korban berupa handphone dan barang-barang berharga lainnya, Nursusilawati terbangun dan memergoki pelaku.

Tanpa pikir panjang, pelaku langsung menganiaya korban hingga mengalami luka parah di tubuhnya. 

"Nur mengalami luka tusukan pada bagian tubuhnya sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Hermina, Sukaraja guna mendapat pertolongan," kata KBO Reskrim Polres Sukabumi Kota, IPTU Ujang Taan kepada sukabumiNews, ditemui di kantornya, Selasa (20/08/2019).

Informasi tersebut, tutur Ujang Taan, didapat dari warga yang melapor ke pihak Polsek Cireunghas. Polsek Cirenghas tambah Dia, langsung meneruskan laporannya ke pihak Polres Sukabumi Kota dan Polres Sukabumi Kota segera menindaklanjutinya menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Di tempat TKP, kata Ujang Taan, polisi kemudian melakukan penyisiran dan mendapatkan petunjuk berupa bercak darah yang tertinggal di dedaunan. Di lokasi TKP juga ditemukan sebelah sandal yang diduga milik pelaku hingga akhirnya polisi mendapatkan petunjuk yang mengarah ke tempat dimana pelaku tinggal.

"Tanda-tandanya mengarah ke rumah pelaku. Setelah melakukan penggeledahan, disana (di rumah pelaku) polisi menemukan sebilah golok, kaos dan sarung yang masih ada darahnya. Lalu pelaku diinterogasi dan mengakui semua tindakan brutal yang dilakukannya," jelas Ujang Taan.

"Saat ini, kami masih melakukan pendalaman atas tindakan yang dilakukan oleh pelaku yang masih di bawah umur ini," pungkas KBO Reskrim Polres Sukabumi Kota itu.


Pewarta : Azis R
Editor : Agus Setiawan
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
close
close
close