Breaking
loading...
Showing posts with label news. Show all posts
Showing posts with label news. Show all posts

Tuesday, June 11, 2019

Redaksi sukabumiNews

Eks Anggota Diduga Dalang Aksi Kerusuhan 22 Mei, Apa Itu Tim Mawar?

Kerusuhan 21-22 Mei (Gambar Istimewa).  
Tim Mawar terlibat dalam kasus penculikan aktivis 1998

sukabumiNews, JAKARTA - Mantan anggota Tim Mawar yang terlibat dalam penculikan aktivis 1998, Fauka Noor Farid, diduga terlibat di balik aksi demonstrasi yang berakhir ricuh pada 22 Mei 2019 lalu.

Dalam laporan Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019 bertajuk 'Tim Mawar dan Rusuh Sarinah' menjelaskan bahwa Fauka merupakan mantan anak buah Calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto, di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Lalu, apa sebenarnya Tim Mawar itu?

1. Dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi

Dilansir dari berbagai sumber, Tim Mawar adalah sebuah tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup IV, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Tim ini adalah dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi.

Kasus penculikan ini menyeret 11 anggota Tim Mawar ke pengadilan Mahmilti II pada bulan April 1999. Saat itu, Mahmilti II Jakarta yang diketuai Kolonel CHK Susanto, memutus perkara nomor PUT.25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999 yang memberi vonis kepada Mayor Inf Bambang Kristiono (Komandan Tim Mawar) dengan 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI.

Pengadilan juga memberi vonis pada Kapten Inf Fausani Syahrial Multhazar (Wakil Komandan Tim Mawar), Kapten Inf Nugroho Sulistiyo Budi, Kapten Inf Yulius Selvanus, dan Kapten Inf Untung Budi Harto, masing-masing 20 bulan penjara dan memecat mereka sebagai anggota TNI.

Sedangkan, 6 prajurit lainnya dihukum penjara tetapi tidak dikenai sanksi pemecatan sebagai anggota TNI. Mereka itu adalah Kapten Inf Dadang Hendra Yuda, Kapten Inf Djaka Budi Utama, Kapten Inf Fauka Noor Farid, di mana masing-masing dipenjara 1 tahun 4 bulan. Sementara Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan Sertu Sukadi hanya dikenai hukuman penjara 1 tahun.

Menurut pengakuan komandan Tim Mawar, Mayor Bambang Kristiono, di sidang Mahkamah Militer, seluruh kegiatan penculikan aktivis itu dilaporkan kepada komandan grupnya, yakni Kolonel Chairawan K. Nusyirwan, tetapi sang komandan tidak pernah diajukan ke pengadilan sehingga tidak bisa dikonfirmasi.

Sementara itu tanggung jawab komando diberlakukan kepada para perwira pemegang komando pada saat itu. Dewan Kehormatan Perwira telah memberikan rekomendasi kepada Pimpinan ABRI.

Dilansir dari Majalah Tempo edisi 1998, Tim Mawar yang dibentuk pada 1997 lalu ini  menargetkan atau menangkap para aktivis radikal.

Pada persidangan yang digelar di Mahkamah Militer Tinggi II-08 Jakarta tahun 1998, Bambang mengaku menculik atas dasar hati nurani. Ia mengaku tergerak melakukannya demi mengamankan kepentingan nasional. Menurut Bambang, tindakan para aktivis akan mengganggu stabilitas nasional.

2. Penculikan aktivis 1998

Penculikan aktivis 1998 adalah peristiwa penghilangan orang secara paksa atau penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1997 dan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1998.

Peristiwa penculikan ini berlangsung dalam tiga tahap yaitu, menjelang Pemilu Mei 1997, dalam waktu dua bulan menjelang sidang MPR bulan Maret, sembilan di antara mereka yang diculik selama periode kedua dilepas dari kurungan dan muncul kembali. Beberapa di antara mereka berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka. Tapi tak satu pun dari mereka yang diculik pada periode pertama dan ketiga muncul.

Selama periode 1997-1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat-alat negara. Dari angka itu, 1 orang ditemukan meninggal (Leonardus Gilang), 9 orang dilepaskan penculiknya, dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini. Dan penculikan itu terjadi saat masa kepemimpinan Jenderal tertinggi ABRI yang kini menjabat sebagai Menko Polhukam, Wiranto.

Sembilan aktivis yang dilepaskan adalah:

1. Desmond Junaidi Mahesa, diculik di Lembaga Bantuan Hukum Nusantara, Jakarta, 4 Februari 1998.

2. Haryanto Taslam.

3. Pius Lustrilanang, diculik di RSCM, 2 Februari 1998.

4. Faisol Reza, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998.

5. Rahardjo Walujo Djati, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998.

6. Nezar Patria, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

7. Aan Rusdianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

8. Mugianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

9. Andi Arief, diculik di Lampung, 28 Maret 1998.

Ke-13 aktivis yang masih hilang dan belum kembali berasal dari berbagai organisasi, seperti Partai Rakyat Demokratik, PDI Pro-Megawati, dan para mahasiswa. Berikut daftarnya:

1. Petrus Bima Anugrah (Mahasiswa Universitas Airlangga dan STF Driyakara, aktivis SMID, hilang di Jakarta pada 30 Maret 1998)

2. Herman Hendrawan (Mahasiswa Universitas Airlangga, hilang setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998)

3. Suyat (Aktivis SMID, dia hilang di Solo pada 12 Februari 1998)

4. Wiji Thukul (Penyair, aktivis JAKER. Dia hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998)

5 . Yani Afri (Sopir, pendukung PDI dan Megawati, ikut koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997, sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 26 April 1997)

6. Sonny (Sopir, teman Yani Afri, pendukung PDI Megawati. Hilang di Jakarta pada 26 April 1997)

7. Deddy Hamdun (Pengusaha, aktif di PPP dan dalam kampanye 1997 Mega-Bintang. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

8. Noval Al Katiri (Pengusaha, teman Deddy Hamdun, aktivis PPP. Dia hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

9. Ismail (Sopir Deddy Hamdun. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

10. Ucok Mundandar Siahaan (Mahasiswa Perbanas, diculik saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta)

11. Hendra Hambali (Siswa SMA, raib saat kerusuhan di Glodok, Jakarta, 15 Mei 1998)

12. Yadin Muhidin (Alumnus Sekolah Pelayaran, sempat ditahan di Polres Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 14 Mei 1998)

13. Abdun Nasser (Kontraktor, hilang saat kerusuhan 14 Mei 1998, Jakarta)

Mugiyanto, Nezar Patria, Aan Rusdianto (korban yang dilepaskan) tinggal satu rumah di Rusun Klender bersama Bimo Petrus (korban yang masih hilang). Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati (korban yang dilepaskan), dan Herman Hendrawan (korban yang masih hilang) diculik setelah ketiganya menghadiri konferensi pers KNPD di YLBHI pada 12 Maret 1998.

3. Kasus diselidiki Komnas HAM

Kasus ini kemudian diselidiki oleh Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) berdasar UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung pada 2006. Tim penyelidik Komnas HAM untuk kasus penghilangan orang secara paksa ini bekerja sejak 1 Oktober 2005 hingga 30 Oktober 2006.

Ada pun jumlah korban atas penghilangan orang tersebut adalah 1 orang terbunuh, 11 orang disiksa, 12 orang dianiaya, 23 orang dihilangkan secara paksa, dan 19 orang dirampas kemerdekaan fisiknya secara sewenang-wenang.

Abdul Hakim Garuda Nusantara (Ketua Komnas HAM pada 2006) meminta agar hasil penyelidikan yang didapat dapat dilanjutkan oleh Kejaksaan Agung untuk membentuk tim penyidik. Hal ini karena, telah didapat bukti permulaan yang cukup untuk menyimpulkan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sementara itu, asisten tim ad hoc penyidik peristiwa penghilangan orang secara paksa pada 1997-1998, Lamria, menyatakan ada beberapa orang dari 13 aktivis yang masih dinyatakan hilang tersebut diketahui pernah berada di Pos Komando Taktis (Poskotis) Kopassus yang terletak di Cijantung, Jakarta.

Komnas HAM menyimpulkan ada bukti permulaan pelanggaran HAM berat dalam kasus penghilangan orang secara paksa selama 1997-1998. Kesimpulan ini didasarkan penyelidikan dan kesaksian 58 korban dan warga masyarakat, 18 anggota dan purnawirawan Polri, serta seorang purnawirawan TNI.

Pada 22 Desember 2006, Komnas HAM meminta DPR agar mendesak Presiden mengerahkan dan memobilisasi semua aparat penegak hukum untuk menuntaskan persoalan.

Ketua DPR Agung Laksono pada 7 Februari 2007 juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, melakukan penyelidikan dan penyidikan berdasarkan temuan Komnas HAM untuk menuntaskan kasus penculikan 13 aktivis.

4. Fauka disebut berada di Sarinah saat terjadinya kerusuhan pada 22 Mei

Berdasarkan penelusuran Tempo, disebutkan bahwa Fauka berada di kawasan Sarinah tepatnya di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI saat terjadinya peristiwa kerusuhan 22 Mei lalu.

Tak hanya itu, dijelaskan pula terdapat sebuah transkrip percakapan yang mengungkap jika Fauka beberapa kali melakukan komunikasi dengan Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya, Dahlia Zein, tentang kerusuhan yang terjadi di sekitar kawasan Bawaslu.

5. Polri masih mendalami terkait kabar tersebut

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terkait hasil laporan yang diungkapkan oleh Majalah Tempo.

"Pada prinsipnya, penyidik melakukan upaya-upaya penyelidikan dengan memperhatikan berbagai sumber informasi, termasuk dari media tersebut. Yang jelas tentunya semua menggunakan metode khusus untuk penyelidikan ini," jelasnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin(10/6).

Senada, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamaman (Menko Polhukam) Jenderal TNI (Purn) Wiranto pun tidak ingin berkomentar lebih jauh terkait kabar tersebut. Ia hanya menyebut akan menjelaskan lebih lanjut update informasi terkait kerusuhan 22 Mei pada Selasa (11/6) besok.

"Kita ingin supaya adanya satu penjelasan secara detail mengenai tokoh-tokoh yang ditangkap, apa sebabnya, alasannya apa, besok itu akan lengkap disampaikan ke publik. Jadi bukan informasi lagi, tapi berita acara pemeriksaannya ya," jelas Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin(10/6).

"Jadi, jangan khawatir nanti kita jelaskan ke publik. Supaya apa? Supaya tidak ada kesimpangsiuran, begitu," sambungnya.

BACA Juga:
Menhan:Tak Ada Anggota Kopassus Aktif Terlibat Kerusuhan Mei


Pewarta: IDN Times
Editor: Red.
Redaksi sukabumiNews

Harga Saham Rekor Lagi, BCA Tiap Hari Cetak Laba Rp 57,14 M

Gambar Istimewa.  
sukabumiNews, JAKARTA – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali melesat pada perdagangan hari Selasa ini (11/6/2019) dan berpotensi menyentuh level tertinggi lagi sejak masuk Bursa Efek Indonesia.

Investor tampaknya terus mengapresiasi kinerja bank swasta ini karena performa keuangan yang naik tiap tahun dan meyakinkan.

Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan laba bersih perseroan tercatat sebesar 8,56% per tahun. Jika dihitung dalam 5 tahun terakhir, setiap hari BCA bisa membukukan laba sebesar Rp 57,14 miliar.

Jika dihitung dari perolehan laba kuartal I-2019 sebesar Rp Rp 6,06 triliun, maka setiap hari pada 90 hari pertama 2019 BCA membukukan laba Rp 67,35 miliar.

Data perdagangan menunjukkan, hingga pukul 14.58 WIB, saham BBCA tercatat naik 0,17% ke level Rp 29.450/saham. Level harga tertinggi sepanjang sejarah BCA tercatat di papan utama bursa pada 31 Mei 2000.

Saat IPO, harga penawaran BBCA di pasar perdana Rp 1.400/saham. Bank ini, sebelum krisis 1998 dimiliki oleh keluarga Salim dan sekarang dikuasai oleh keluarga Hartono, pemilik grup Djarum.

Nilai kapitalisasi saham BCA saat ini tercatat paling besar dari 633 saham yang tercatat di BEI. Nilai kapitalisasi bank tersebut tercatat menyentuh angka Rp 726,09 triliun.

BCA juga punya rencana aksi korporasi mengakuisisi bank lagi setelah sebelumnya mencaplok PT Bank Royal Indonesia.

"Tentunya kita punya rencana (akuisisi), yang kami dengar tidak hanya satu, tapi ada satu lagi," ujar Direktur BCA Santoso ketika ditemui dalam acara Halal Bihalal BI dan OJK di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Santoso menambahkan aksi korporasi ini belum diumumkan ke publik karena masih dalam proses dan dipersiapkan dengan baik.

"Kami buka wacana untuk [akuisisi] satu lagi. Banknya belum tahu. Ini bagian dari konsolidasi," jelas Santoso. "[Akuisisinya] bisa tahun ini, kalau enggak bisa tahun depan. Tapi itu semua sudah dalam rencana kami." Pungkas Santoso.


Pewarta: CNBC Indonesia
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

Ahmad Dhani Divonis 1 Tahun Penjara

sukabumiNews, SURABAYA – Politisi Partai Gerindra, Ahmad Dhani Prasetyo, divonis pidana 1 tahun penjara. Vonis ini dijatuhkan dalam sidang putusan kasus pencemaran nama baik di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (11/6/2016).

Pria yang dikenal sebagai musisi ini pun nampak menunduk saat Hakim Ketua, R. Anton Widyopriyono membacakan vonis. "Menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun," ujar Anton, Selasa (11/6).

Putusan ini lebih rendah dari pada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pasalnya, JPU menuntut pidana 1 tahun 6 bulan penjara.

Kasus ini bermula dari video vlog yang dibuat oleh Dhani saat akan menghadiri peringatan #2019GantiPresiden, 26 Agustus 2018. Dalam videonya, ia melontarkan kata "Idiot".

Dhani merekam video vlognya di lobby Hotel Majapahit Surabaya. Karena ia sedang didemo oleh massa koalisi Bela NKRI yang menolak adanya deklarasi #2019GantiPresiden.

Mengetahui ada video vlog itu, koalisi elemen Bela NKRI pun memutuskan melaporkan pengarang lagu "Hadapi dengan Senyuman" ini ke Polda Jatim. Atas dasar itulah, ia ditetapkan sebagai tersangka dan terjerat Pasal 27 ayat 3, UU ITE.


Pewarta: IDN Times
Editor: Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
Redaksi sukabumiNews

Dua Pegawai Pondok Modern Assalam Putra dan Putri Dapat Hadiah Umroh

Dua karyawati tersebut, yakni Ibu Jojoh, sebagai tenaga kebersihan Pondok Modern Assalam Putri yang berlokasi di Desa Sukaharja Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi, dan Ibu Hindun yang merupakan karyawati dapur/masak Pondok Modern Assalam Putra yang berlokasi di Desa Cibodas Kecamatan Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi.
sukabumiNews, WARUNGKIARA – Dua pegawai Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Assalam Sukabumi, Jojoh dan Hindun, mendapat apresiasi dari lembaga Pondok Modern Assalam berupa hadiah umroh. Hadian tersebut diberikan langsung kepada kedua karyawannya secara simbolis oleh pimpinan Pondok Modern Assalam II (dua), Ustadz Encep Hadiana, M.Si., dalam acara silaturahmi antara lembaga dengan seluruh karyawan/ti Pondok Modern Assalam, belum lama ini.

"Apresiasi ini merupakan buah dari dedikasi maksimal yang diberikan. Ini adalah untuk kali ke empat,Pondok Modern Assalam memberikan penghargaan berupa umroh bagi karyawannya," ucap pimpinan Pondok Modern Assalam II, Ustadz Encep Hadiana, M.Si., kepada sukabumiNews, Selasa (11/6/2019).

Encep menambahkan, dari sekian banyak pegawainya tahun ini, dua karyawati bertugas di ponpesnya yakni Ibu Jojoh dan Ibu Hindun akan diberangkatkan ke tanah suci Mekah.

Menurut Encep, dua karyawati tersebut, yakni Ibu Jojoh, sebagai tenaga kebersihan Pondok Modern Assalam Putri yang berlokasi di Desa Sukaharja Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi, dan Ibu Hindun yang merupakan karyawati dapur/masak Pondok Modern Assalam Putra yang berlokasi di Desa Cibodas Kecamatan Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi.

"Ini adalah wujud implementasi syukur dari amanat pimpinan Assalam kepada para mujahid yang ada di Assalam," terangnya.

Orang nomor satu di Pondok Modern Assalam II tersebutpun berharap,semoga dengan diberikannya penghargaan tersebut semakin menambah keberkahan dan keridhoan Allah SWT kepada lembaga dan menjadi motivasi kepada karyawan dan yang lainnya yang belum mendapatkan.


Pewarta: Isman S.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Monday, June 10, 2019

Ust Manatahan

Hari Raya Idul Fitri 1440 H, 617 Warga Binaan Lapas Warungkiara Mendapat Remisi, 6 Lainnya Bebas

sukabumiNews, WARUNGKIARA - Hari Raya Idul Fitri 1440 H, Lapas Kelas III Warungkiara Sukabumi Jawa Barat, memberikan remisi khusus kepada sedikitnya 617 warga binaan berupa potongan masa tahanan, remisi khusus lainnya diberikan kepada 6 warga binaan yang dinyatakan bebas pada Rabu (5/6/19), beberapa waktu lalu.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Ka. Lapas) Warungkiara Kabupaten Sukabumi, Christio Nugroho mengatakan, untuk ke enam narapidana yang mendapat remisi bebas masuk dalam kategori RK 2, yang artinya masa hukumannya habis setelah mendapatkan remisi potongan masa hukuman.

"Jadi begitu dipotong otomatis bebas, rata-rata yang mendapat remisi bebas yang menjalani hukuman ringan dibawah 1 sampai dua tahun dengan kasus pidana umum," ujar Christio kepada sukabumiNews saat ditemui diruangan kerjanya, Senin (10/6/19).

Christio menjelaskan, remisi atau pengurangan masa tahanan setiap tahunnya berbeda-beda. Semuanya mengikuti tahapan, dan untuk remisi Idul Fitri pertama yaitu 15 hari, tahun kedua satu bulan dan tahun ketiga sebanyak 1,5 bulan atau 45 hari. 
"Beberapa narapidana ada yang tidak mendapatkan remisi, misalnya PP 99 dan yang beragama Non muslim, biasanya untuk non muslim mendapatkan remisi setiap tanggal 17 Agustus," terangnya.

Lebih jauh Christio mengungkapkan, Lapas kelas III Warung Kiara Kabupaten Sukabumi telah meluncurkan beberapa program binaan baru untuk narapidana. Program tersebut berupa pelatihan keterampilan yang diharapkan bisa menjadi bekal bagi narapidana setelah keluar dari Lapas, sehingga bisa mempunyai keahlian.

"Salah satunya adalah merangkai anyaman kemasan untuk pindang, kita sudah bekerjasama dengan mitra dan sudah di survey kemarin," tuturnya.

Christio menambahkan, dipilihnya pelatihan keterampilan tersebut karena mudah untuk dipelajari, selain itu tidak diperlukan alat  berbahaya, dan pada prakteknya nanti para peserta pelatihan akan diberi bahan baku yang terbuat dari bambu setengah jadi, kemudian mereka hanya tinggal merangkainya.

"Selain itu di Pondok pesantren ada program pembelajaran bahasa Arab dan Bahasa Inggris, hal itu dilakukan berkaitan dengan rencana Pemerintah untuk menjadikan Sukabumi sebagai teman destinasi wisata, sehingga jika mereka bisa menguasai bahasa Inggris nantinya mereka bisa hidup mandiri, minimal bisa menjadi guide seperti masyarakat Bali," jelas Christio.


Pewarta: Karim R.
Editor: AM.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019

Sunday, June 9, 2019

Redaktur sukabumiNews.net

Warga Cikakak Mengeluh, Harga Gas Elpiji 3Kg Melambung Tinggi dan Sulit Ditemui

Iwan Setiawan (36), Warga Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi saat mengecek  Gas Elpiji 3Kg yang baru saja dibelinya di Pasar Pelabuhanratu. 
--
sukabumiNews, CIKAKAK -  Warga yang tinggal di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat banyak yang mengeluh. Pasalnya, harga Gas Elpiji 3 Kilogram (Kg) yang sebelumnya mereka dapatkan dari pengecer seharga Rp22.000, kini harus mereka beli dengan harga Rp30.000/tabung.

Tidak hanya itu, warga dikeluhkan juga dengan keberadaan gas Elpiji yang begitu langka di pasaran, sehingga harga tabung gas 3kg kian melonjak tinggi.

Yanti Sriwidianti (28), warga asal Kampung Cidadap RT 04, RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menuturkan, Gas elpiji 3Kg harganya mulai tak terkendali beberapa hari menjelang hari Raya Iedul Fitri. Hingga kini, harga gas elpiji 3Kg terus melambung tinggi.

Menjelang lebaran harganya mencapai Rp22.000 hingga 4 hari setelah lebaran, meningkat menjadi Rp27.000 per tabung di tingkat pengecer. Sedangkan harga di pasar Pelabuhanratu saat ini berkisar Rp22.000. Itu dikatakannya belum termasuk ongkos ke pasar pelabuhanratu, jika memakai jasa Ojeg harus mengeluarkan biaya lagi sebesar Rp30.000. Belum lagi, kata Dia, saat ini jalanan terkendala situasi macet karena talah memasuki musim libur panjang pasca lebaran.

"Menjelang lebaran semua harga sembako menjadi serba mahal. Apalagi Gas elpiji 3 Kg, di samping harganya melambung tinggi, Saya juga sulit saat ingin membeli di para pengecer," tutur Yanti Sriwidiyanti saat bertemu dengan sukabumiNews.net di Kp. Cidadap RT 04, RW 02, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Minggu (09/06/2019) siang.

Hal senada juga diungkapkan Pasangan suami Istri, Iwan Setiawan (36) dan Lisna Marlina (30) yang sehari-hari berjualan Basreng (bakso goreng) di rumah nya. Namun, Iwan dan Istri lebih beruntung karena memilki motor sendiri untuk membeli gas elpijj 3Kg ke Pasar Pelabuhanratu dengan biaya yang dikeluarkan untuk transfort sedikit lebih ringan.

"Iya, sekarang Gas elpiji 3Kg sulit didapat dan harganya tinggi. Tapi mau bagaimana lagi? Untuk memenuhi kebutuhan itu, kami harus rela pergi ke pasar Pelabuhanratu. Kalau pun di daerah kami ada, harganya bisa mencapai Rp27.000 bahkan ada yang menjual Rp30.000," ungkap Iwan Setiawan yang kala itu ditemani istrinya, berbincang dengan sukabumiNews.net.

"Mudah-mudahan ke depan, semua harga khususnya Sembako bisa kembali normal tanpa kecuali harga gas elpiji 3Kg," tambah Iwan sembari berucap terima kasih tanda menutup percakapan.

Baik Yanti maupun Iwan beserta Istri nya, mempunyai harapan besar kepada Pemkab Sukabumi agar segera menstabilkan harga gas elpiji 3Kg. Karena menurut mereka, harga yang berada di pasaran saat ini tidak relevan dengan kebijakan pemerintah yang telah memberikan standar Harga Eceran Tertinggi (HET). Apalagi, program untuk pasokan gas elpiji di Sukabumi menjelang Ramamdhan dan Lebaran diketahui masuk dalam skala prioritas. Mereka juga berharap, Pemkab Sukabumi menindak kesewenang-wenangan penjual pada masa-masa sulit seperti yang terjadi pasca lebaran seperti sekarang ini. (*)


Pewarta : Debby Meisal
Redaktur : Red.
Copyright © SUKABUMINEWS 2019
close
close
close