Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Wednesday, September 26, 2018

Redaksi sukabumiNews

Terdampak Kekeringan, Masyarakat Cirebon Manfaatkan Air Sungai meski Kotor

[Gambar: Ilustrasi]
CIREBON, SUKABUMINEWS.net – Dampak kemarau cukup panjang yang dirasakan masyarakat di wilayah III Cirebon seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan, selama hampir enam bualan lebih akhir-akhir ini mengakibatkan sumber air bersih (sumur atau PDAM) di sejumlah wilayah tersebut mengalami kekeringan.

Mengalami kejadian tersebut tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan air solokan atau sungai untuk keperluan mandi, mencuci pakaian. Bahkan tak jarang ada juga yang menggunakannya untuk dikonsumsi sebagai air minum.

Air sungai yang nampak kotor itu terpaksa digunakan warga sebagai kebutuhan. Bagi warga setempat, persoalan kelangkaan air bersih sudah terbiasa setiap datangnya musim kemarau.

Seperti desa Ujung Semi Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, warga secara gotong royong menggali sumur dipinggiran sungai untuk mendapatkan rembesan air bersih. Hal ini dilakukan karena air dari Perusahaan Dagang Air Minum (PDAM) tidak dapat mencukupi kebutuhan warga.

Maisyaroh (49) warga desa Ujung Semi gang Stasiun Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, Selasa 25 September 2018 kepada sukabumiNews mengatakan, dirinya terpaksa memanfaatkan air sungai meskipun kotor. “Dari pada tidak mandi,” ucapnya.

“Nanti, sampai dirumah saya bilas lagi dengan air galon isi ulang satu gayung,” tambahnya sambil tersenyum.

Sementara menurut Maisyaroh harga air galon isi ulang yang semula Rp.6.000/galon, karena sulitnya air bersih berdampak kepada mahalnya harga air tersebut. “Kini harganya mencapai Rp. 6.000/galon,” keluhnya.

Pantauan sukabumiNews di beberapa daerah di wilayah III Cirebon, kekeringan yang melanda berimbas pula pada hasil perekonomian masyarakat. Gagalnya panen padi dan palawija cukup dirasakan oleh para petani di daerah itu. Masyarakat berharap, pemerintah dapat membantu mengurangi beban kesulitan yang mereka rasakan saat ini.

Di lain pihak Ahmad Faizyin dari Badan Meteorologi Klimatoligi dan Geofisika (BMKG) stasiun Jatiwangi Kabupaten Majalengka, ketika dihubungi sukabumiNews di ruang kerjanya menjelaskan bahwa memang pada tahun 2018 di wilayah III Cirebon sedang terjadi kekeringan ekstrim.

“Sekitar 15 Kecamatan di Kabupaten dan Kota Cirebon, 3 Kecamatan di Majalengka dan Indramayu terdampak krisis kekeringan,” ungkapnya. Kendati demikian tambah Ahmad Faizyin, PDAM Indramayu masih mampu melayani kebutuhan air bagi masyarakat.

“Pemda sedang terus berupaya menyediakan air bersih untuk keperluan masyarakat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat di wilayah III Cirebon, terjadi turun hujan,” pungkasnya.

Pewarta: M. Yadi
Editor: Red.
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu