Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sunday, July 1, 2018

Redaksi sukabumiNews

Rupiah Melemah Dinilai Akibat Kesesatan Berfikir Pemerintah

[Pelemahan Rupiah terhadap USD
Rupiah. (Foto: Ilustrasi/NusantaraNews)]
sukabumiNews.net, JAKARTA – Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan Anggaran (Alaska) menuturkan banyak orang mengatakan jika rupiah melemah dan dollar naik artinya Indonesia tamat. Bisa jadi benar, bisa juga salah.

“Salah satu faktor penguat dollar di valuta asing adalah imbas dari devaluasi mata uang Cina, Yuan. Akibat dari devaluasi ini, nilai Yuan jadi menurun di pasaran global,” kata lembaga ini melalui keterangan tertulis, seperti diberitakan Nusantaranews.co, Sabtu (30/6/2018).

“Turunnya Yuan tersebut mau tidak mau membuat Cina harus bekerja ekstra untuk mengimbangi peningkatan ekspansi pasar globalnya ke seluruh dunia, salah satunya adalah Indonesia,” tambahnya.

Sebagai negara yang memiliki populasi tinggi, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi Cina sehingga ekspansi pasar Cina ini akan menutup pasar lokal Indonesia karena Cina akan mengisi Indonesia oleh produk mereka yang murah dan melimpah ruah.

“Oleh karena itu, sebagai tuan rumah di saat ekonomi melemah karena lemahnya rupiah terhadap dollar, pemerintah Indonesia harus meningkatkan ekspor perekonomian industri lokal dan ekonomi kreatif,” katanya.

Alaska yang terdiri dari Lembaga Kaki Publik (Lembaga Kebijakan Anggaran dan Informasi Publik) bersama Lembaga CBA (Lembaga Center for Budget Analysist) menilai, dengan meningkatkan ekspor produk industri lokal dan pengembangan industri kreatif di saat dollar menguat, ekonomi Indonesia akan menguat dan masyarakat akan merasakan keuntungan tersebut secara langsung. Peningkatan produksi industri lokal dan industri kreatif Indonesia akan memperkenalkan produk-produk yang siap untuk dipasarkan di pasar global sebagai penyeimbang gencarnya produk-produk Cina yang masuk ke Indonesia.

Selain itu, melemahnya rupiah di Indonesia akan lebih mengkhawatirkan pasar lokal Indonesia yang membutuhkan bahan dasar produksi industri dari hasil impor. Dengan gencarnya ekspansi pasar Cina, dan di tengah ketidakpastian dolar atas Yuan, melemahnya rupiah di dalam negeri Indonesia mengakibatkan tingginya harga di sektor pasar import seperti pasar pangan, ponsel, gadget, dan lain-lain sehingga harga pasar bergejolak tidak terkontrol. Selain itu, industri-industri di Indonesia yang membutuhkan bahan baku impor menjadi lemah, karena biaya produksi meningkat.

“Akan beda cerita apabila Indonesia memperkuat nilai ekonomi melalui sektor ekspor barang jadi industri lokal dan ekonomi kreatif. dengan eksport produk industri lokal dan industri kreatif, jelas Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang besar. Apabila kenaikan dolar beranjak di angka Rp 100,- dalam satu bulan misalnya, tapi dalam waktu sebulan tersebut angka produksi bisa ditingkatkan, maka keuntungan sektor industri lokal dan industri kreatif pun menjadi keuntungan yang besar,” jelasnya.

Tapi kenyataanya, Alaska menilai Indonesia masih dalam angka yang rendah dalam kegiatan ekspor produk industri lokal dan industri kreatif. Sehingga, melemahnya rupiah tidak bisa meningkatkan ekonomi di Indonesia, tetapi lebih cenderung mengkhawatirkan, karena melemahnya rupiah akan di ikuti dengan melemahnya produksi industri yang membutuhkan bahan baku impor, sehingga industri-industri tersebut terancam gulung tikar.

“Di sisi lain, anggapan bahwa lemahnya rupiah menguntungkan bagi ekonomi dalam negeri dan industri lokal berjaya di negeri sendiri ini harusnya sudah mulai dirubah. Karena anggapan itu kami nilai sebagai penyesatan berfikir,” paparnya.

Kata Alaska, kesesatan berfikir ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu meningkatkan pasar industri lokal dan industri kreatif di Indonesia, sehingga pemerintah seperti membiarkan dollar naik. Kemudian pasar di Indonesia dipenuhi oleh produk-produk impor dan menenggelamkan pasar lokal Indonesia di kancah dunia. Sehingga hasil industri lokal tidak diberikan kesempatan untuk muncul dan siap bersaing di kancah internasional.

Anggapan melemahnya rupiah sebagai kejayaan industri lokal di negeri sendiri ini cenderung menjadikan industri-industri lokal menjadi terlena serta meningkatkan tingkah laku konsumtif masyarakat terhadap produk-produk impor. Sehingga industri lokal tidak mampu mengekspor hasil produksinya ke negara-negara lain, karena dipaksa untuk bangga dengan hasil penjualan di dalam negeri yang sebetulnya tidak begitu menguntungkan bila disandingkan dengan maraknya ekspansi produk Cina di pasar lokal Indonesia.

“Oleh karena itu, pemerintah harus menekan angka ekspor melalui industri lokal dan industri kreatif dengan meningkatkan hasil produksi yang siap bersaing, sehingga produksi ekspor barang Indonesia tidak lagi tertumpu pada ekspor bahan mentah yang nilainya lebih murah dibandingkan barang jadi dan siap pakai,” katanya. (Red*)

Sumber: Nusantaranews
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu