Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, July 24, 2018

Redaksi sukabumiNews

Kasus Kekerasan Seks terhadap Anak di Kota Sukabumi Menurun 40 Persen

sukabumiNews.net, SUKABUMI KOTA - Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Sukabumi sejak 4 tahun terakhir, yakni sejak 2014 hingga 2018 menurun sekitar 40 persen. Padahal sebelumnya, kasus tersebut pernah melonjak hingga memakan korban sebanyak 184 anak. Lonjakan itu diketahui terjadi saat masa adanya kasus fenomenal pedofil yang dilakukan oleh Emon pada tahun 2014 lalu.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat ( Dalduk KB P3A) Lilis Astri Suryanita kepada sukabumiNews, usai memperingati Hari Keluarga Nasional ke XXV dan Hari Anak Nasional di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi, beberapa waktu lalu.

Lilis juga menjelaskan semenjak adanya kasus Emon sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan upaya pemulihan dan  pengobatan terhadap korban dengan cara menghilangkan trauma. “Setelah kasus Emon yang mendunia, frekuensi kasus kekerasan terhadap anak sampai saat ini terus menurun,” ungkapnya.

Adapun tambah Lilis, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Sukabumi ini jumlahnya tidak banyak. “Ada 4 kasus yang dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki dengan alasan beragam,” jelas Kepala Dalduk KB P3A Kota Sukabumi itu.

Namun demikian menurut dia, upaya untuk meminimalisir jumlah kasus-kasus tersebut terus dilakukan. Bahkan pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait saat ini masih sedang mengkompanyekan program Tree Bina dan Tree End, dengan melibatkan kader-kader di lapangan

“Tree Bina, yaitu bina keluarga, bina lansis dan bina remaja. Sedangkan Tree End, adalah mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri trafficking dan akhiri kesenjangan akses-akses ekonomi terhadap perempuan serta menata kembali menejemen keluarga dengan konsep dasar perencanaan keluarga sebaik-baiknya,” papar dia.

Di akhir perbincangannya Lilis mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya 8 fungsi benteng di keluarga, yakni mulai dari agama, pendidikan, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosial dan budaya, ekonomi, dan lingkungan. (*)

Pewarta: Yaman
Editor: Red.
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu