Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Monday, April 23, 2018

Redaksi sukabumiNews

Ini Alasan Abu Yus Tokoh PPP Aceh Memilih Hijrah Ke Partai Bulan Bintang

sukabumiNews.net, JAKARTA – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengatakan pindahnya sejumlah kader PPP yang bergabung dalam PPP Khittah selain karena konflik internal juga karena tak setuju dengan keputusan mendukung Presiden Jokowi pada Pilpres 2019.

Mantan Menteri Sekretaris Negara itu mengklaim sudah banyak kader PPP di daerah yang bergabung ke partainya. Yusril menyebut salah satu contohnya adalah mantan Ketua PPP Aceh, Abu Yus yang bergabung ke partainya. Provinsi Aceh, kata Yusril, menjadi daerah dengan perpindahan kader cukup banyak.

Menanggapi hal itu, Tokoh Aceh Muhammad Yus atau yang lebih dikenal Abu Yus mengatakan kepindahannya dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan bergabung ke Partai Bulan Bintang (PBB) diputuskan setelah ia melihat konflik dualisme di tubuh partai berlambang Ka’bah itu tak akan menemui titik temu.

“Semua masyarakat tahu saya bela PPP. Tapi perkembangan PPP sudah seperti itu. Saya keluar dan orang paham kenapa saya keluar,” kata Abu Yus seperti dikutip dari cnnindonesia, Senin (23/4/2018)

Dikeahui, Abu Yus memulai karier politiknya bersama PPP sejak 1990 sebagai Ketua Biro Kaderisasi DPW PPP di Aceh hingga menjadi Ketua DPP PPP sejak 2003. Abu Yus juga pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Abu Yus mengaku berat hati meninggalkan PPP. Ia sadar namanya turut dibesarkan PPP lebih dari 28 tahun.

“Bagaimanapun PPP kan partai saya dulu. Saya tetap ingat PPP, berat juga hati tapi karena sudah seperti itu. Apalah cerita saya? Ya tinggal,” tuturnya.

Abu Yus menjelaskan soal pilihannya yang jatuh kepada PBB, bukan ke partai Islam lainnya seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menurutnya, PBB merupakan partai yang dibentuk para pengikut Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Partai Masyumi) setelah masa kepimimpinan Presiden Soeharto berakhir pada 1998.

Menurut dia, empat partai atau golongan Islam yang ada di dalam Masyumi adalah Parmusi, NU, PSII, dan PERTI.

“Parmusi itu dari Masyumi, lalu PBB tetesan dari Masyumi. Apabila saya keluar PPP dan masuk PBB saya kembali kepada dasar Masyumi,” kata dia.

Masyumi merupakan partai politik Islam terbesar di Indonesia selama era demokrasi liberal Indonesia yang resmi berdiri sejak November 1945. Pada awalnya, menurut Abu Yus, umat Islam harusnya satu partai.

“Tapi pecah belah kemudian disatukan Pak Soeharto menjadi PPP. Kalau PPP setop makanya kembali ke dasar (Masyumi dan PBB),” ucap mantan anggota DPR RI fraksi PPP ini.

Lebih lanjut, Abu Yus membantah kepindahannya ke PBB karena tawaran atau lobi khusus Yusril.

Ia mengaku kenal Yusril semasa pembahasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi DI Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Kedekatan mereka tetap terjalin dalam pembahasan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh.

“Jadi beliau kalau jumpa saya tidak pernah bahas partai. Cuma orang ini bilang merasa senang saya masuk PBB. Saya tidak tahu,” tutup Abu Yus. (Red*)
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu