Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, November 17, 2017

Redaksi sukabumiNews

Mengharukan, Janda Tua Nagih Janji Bupati Sukabumi

sukabumiNews, GUNUNGGURUH - Bagi Ibu Tita (62), seorang janda, warga Kampung Cipeundeuy RT 004 RW 003 Desa Cibolang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, janji adalah janji. Siapa pun yang berjanji harus ditepati, apalagi orang yang berjanji adalah Marwan Hamami yang saat ini memegang jabatan Bupati Sukabumi. Karena sangat terharu, Tita berurai air mata ketika menceritakan janji yang pernah diterimanya dari Marwan.
  
"Kami sekeluarga menjadi tim sukses dari pasangan Pak Marwan dan Pak Adjo. Sewaktu masa kampanye, Pak Marwan berjanji akan mengobati menantu saya yang mengidap penyakit kaki gajah sampai sembuh. Namun janji itu belum dipenuhi," kata Tita dengan mata berlinang-linang kepada sukabumiNews, Kamis (16/11/2017).
           
Janji tersebut, lanjut dia, disanggupi Marwan akan dipenuhi setelah dirinya bersama Adjo Sardjono dilantik sebagai Bupati-Wakil Bupati Sukabumi periode 2015-2020. Setelah hampir dua tahun pasca pelantikan, Marwan seperti lupa, janji yang pernah diucapkannya kepada keluarga Tita seperti tenggelam ditelan lautan luas Teluk Palabuhanratu.
 
Dalam janjinya, Marwan menyatakan akan mengurus semua administrasi dan biaya pengobatan mantu Tita itu, termasuk menyelesaikan pembuatan kartu BPJS. Bahkan Marwan menjanjikan pengobatan di Bandung. Karena itu satu minggu sebelum pelantikan Marwan-Adjo, Tita menyerahkan KTP, KK, dan dokumen lainnya kepada salah satu tim sukses untuk pengurusan pengobatan.
           
"Sekarang Pak Marwan tidak mungkin lagi dapat memenuhi janji beliau karena menantu saya telah meninggal dunia. Menantu saya sudah berada di alam baka dan tidak butuh pengobatan," ungkap Tita.           
Ibu Tita, sambil memperliatkan photo almarhum mantunya, Nur Aisah         
Menantunya yang bernama Nur Aisah menderita penyakit kaki gajah selama tiga tahun. Keluarga sudah berupaya untuk mengobati Nur Aisah, termasuk menjalani perawatan dan pengobatan selama enam bulan di RS Bunut. Untuk sampai sembuh, Aisah membutuhkan biaya pengobatan sebesar Rp170 juta. Keluarga Tita tidak sanggup harus menyediakan uang sebesar itu. Penghasilan anaknya, Herman yang tidak lain suami Aisah tidak dapat diandalkan dari pekerjaannya sebagai tukang ojek.
           
"Jadi, betapa bahagia kami mendengar kesanggupan Pak Marwan akan membantu pengobatan menantu saya. Namun, sekarang harapan untuk dapat menyembuhkan menantu saya itu hilang. Saya hanya memohon kepada Pak Bupati untuk mewujudkan janjinya dalam bentuk lain," ungkap dia.
           
Nur Aisah kini telah tiada. Begitu juga suaminya Herman yang tidak lain anaknya Tita telah menghadap Ilahi lebih dahulu. Tita hidup sebagai single parrent karena suaminya pun telah meninggal dunia. Dia harus menghidupi tiga orang cucunya dari pasangan Herman-Aisah yang terdiri dari satu anak usia SMA, satu anak usia SMP, dan satu lagi masih balita.
           
Hebatnya, Tita tetap tegar menjalani kehidupan. Dia tidak pernah menyesali takdir dan kondisi keluarga yang dialaminya. Namun memang secara finansial, keluarganya termasuk tidak mampu.
           
Sebagai janda, Tita merasa terlalu berat harus menanggung beban ekonomi untuk menghidupi ketiga cucunya. Dia harus bekerja keras dan membanting tulang untuk membiayai sekolah kedua cucunya dan membelikan susu krim untuk cucunya yang masih balita. Belum lagi biaya sehari-hari dan bulanan seperti untuk belanja makanan, membayar listrik, dan membeli gas.
           
"Beban saya makin hari semakin berat. Karena saya juga harus membayar utang ke para tetangga," kata Tita. 
           
Utang yang melilit keluarganya bukan karena dia hidup boros atau gemar belanja berfoya-foya. Uang pinjaman dari para tetangga digunakan untuk biaya pengobatan dan ongkos selama enam bulan pengobatan di RS Bunut, pengurusan jenazah Aisah, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.      
           
"Janji Pak Bupati kalau dipenuhi tidak lagi untuk pengobatan menantu saya, tapi untuk membayar utang-utang dan biaya hidup keluarga kami sehari-hari," tutur dia.
           
Pernah memang, kata dia, ketika menantunya masih hidup, dia mendapatkan bantuan dari sesama rekan tim sukses dan Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono yang saat ini menjabat. Namun uang yang diterimanya sekedar cukup untuk biaya makan keluarga dan menantunya yang sedang sakit parah. Tita tidak akan pernah melupakan bantuan dari Adjo. 
           
Demi meringankan beban hatinya, dia bermaksud akan melayangkan surat langsung kepada Bupati Sukabumi Marwan Hamami untuk mengingatkan janjinya.  “Sekarang saya mau nagih janji dengan mengantarkan surat ini kepada Bupati Sukabumi secara langsung," pungkasnya. 
           
Bupati Marwan juga harus mencatat dalam buku agendanya, kondisi rumah Tita hampir rubuh, belum ada bantuan untuk rehabilitasi dari pemerintah. “Jangankan dari bupati maupun kecamatan, oleh desapun tidak diperhatikan,” tutur Tita, dengan mata berlinang-linang. RED.
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu