Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, November 11, 2017

Redaksi sukabumiNews

Membangun Pantai Guha Gede Wujudkan Harapan dan Mimpi Besar Warga Cilograng

Ibarat mutiara yang terpendam di dasar samudera, kawasan Pantai Guha Gede di Desa Cilograng, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menyimpan harta karun yang belum tergali. Pantai ini menyimpan sejuta potensi dan misteri di balik hamparan pasirnya yang putih dan ombaknya yang tiada henti menabrak batu karang dan menghasilkan bunyi bergemuruh tanpa putus.           
Keadaan alam Pantai Guha Gede masih tampak asri dan natural dengan ombaknya yang bergulung-gulung tiada henti membasahi pasir pantai sepanjang siang dan malam.
Sayangnya, kawasan yang terletak di ujung selatan Desa Cilograng ini belum memiliki infrastruktur jalan dari ujung kampung ke pantai tersebut. Perjalanan dari permukiman warga ke Pantai Guha Gede harus ditempuh dengan menyusuri jalan setapak berbatu-batu, berlapiskan tanah merah, dan berbelok-belok. Pada musim hujan, keadaan jalan ini licin dan rawan terjadinya kecelakaan, baik tergelincir atau terjatuh. Secara teknis, jalur jalan ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
           
Jarak dari ujung permukiman di Kampung Angsana, Desa Cilograng ke Pantai Guha Gede sekitar 5 kilometer. Rojat, warga Kampung Cilograng menyatakan, sejak dulu, belum pernah ada pembangunan jalan yang jalurnya mengarah ke pantai. Padahal jalur ini sangat penting dan strategis sebagai pendorong kemajuan ekonomi warga. Jalan ini menghubungkan beberapa titik sentra produksi pertanian yang menghasilkan berbagai komoditas seperti pisang, karet, kayu, padi, dan kelapa. 
           
Kebon pisang di sekitar jalan menunju pantai terkenal menghasilkan pisang galek dan pisang ambon berkualitas tinggi. Para petani membikin sale dari kedua jenis pisang tersebut yang setelah digoreng rasanya mirip-mirip kurma. Sale dari Cilograng dapat diandalkan untuk dijadikan kuliner khas Kabupaten Lebak yang cita rasanya khas dan mandiri.
           
"Sebanyak 99 persen warga di sini petani. Selama ini penjualan hasil pertanian ke luar desa tidak lancar karena tidak ada sarana jalan yang dapat dilalui mobil. Kalau ada jalan yang terhubung ke Pantai Guha Gede, pasti kondisi ekonomi penduduk di sini akan meningkat dengan pesat," ujar Rojat.
           
Kehadiran jalan yang terhubung ke arah pantai juga dapat membangkitkan potensi pariwisata. Pantai Guha Gede memiliki keindahan khas pesisir selatan yang dipenuhi batu karang dan pasir putih. Diyakini warga sekitar, jika jalan menuju pantai diperbaiki oleh Pemkab Lebak atau Pemprov Banten, wisatawan domestik dan macanegara akan berbondong-bondong datang ke Pantai Guha Gede.           
Jalan menuju Pantai Guha Gede tidak dapat dilalui kendaraan roda empat, pada musim hujan sepeda motor pun kadang-kadang tidak dapat melewati jalur tersebut karena medannya berkelok-kelok.
"Kondisi jalan di sini, jangankan untuk dijadikan sarana pengangkut barang, untuk mengangkut badan saja sulitnya setengah mati. Seandainya diperbaiki dengan kondisi minimal bisa dilalui sepeda motor pada waktu hujan, jalan ini akan membuat sejahtera petani di Cilograng," kata Rojat.           

Pantai Guha Gede menyimpan kisah masa lalu yang masih diliputi banyak misteri. Di pantai ini terdapat beberapa situs unggulan seperti pasir putih, goa besar, sumur misterius, Pasir Pilar, bungker, dan jojongor yakni bagian daratan yang menjorok ke laut seperti tanjung. Semuanya berada dalam satu hamparan dengan Pantai Guha Gede. Sampai sekarang, situs-situs tersebut masih diliputi misteri tentang sejarah pembangunannya. Banyak bukti yang menunjukkan, bungker dan sumur misterius berkaitan dengan pemberontakan PKI pada tahun 1965.
        
Beberapa tahun lalu, salah seorang tokoh setempat yang sudah meninggal dunia, Aki Madhari menyampaikan, jojongor yang juga disebut ancol merupakan kembang dan kunci dari kesuksesan atau kegagalan dari pengembangan kawasan Pantai Guha Gede. Menurut Aki Madhari, suatu hari pada waktu yang mustari, lokasi Pantai Guha Gede akan mendunia kalau bagian jojongor dibangun oleh manusia yang jujur dan bertabiat baik. Sebaliknya, kalau jojongor dan Pantai Guha Gede dikembangkan oleh manusia tidak jujur, lokasi tersebut tidak akan mencapai kemajuan dan kejayaan.
           
"Jojongor ini sangat menarik dan memiliki ciri yang khas serta menyimpan 1.001 misteri. Dulu jojongor ini terletak di di tengah laut, lalu seiring dengan perjalanan waktu berubah menjadi daratan. Pesawahan dan kebun milik warga dulunya juga laut," jelas Bah Arup, warga Kampung Pasirsalam, Cilograng.
           
Perubahan dari laut menjadi daratan terjadi setelah letusan besar Gunung Krakatau pada tahun 1883. Bah Arup menambahkan, terlalu banyak kisah dan misteri di balik jojongor yang tidak diketahui warga setempat. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Abah Iday, warga Kempung Lebak Koneng, Desa Cireundeu, Kecamatan Cilograng.           
Keterangn Photo: Jojongor yang menyerupai tanjung menjorok dari tengah laut ke daratan dapat melahirkan fantasi liar bagi pengunjung yang berdiri di atasnya karena letaknya persis di antara batas air dan tanah.
Keterangan dari almarhumah Ma Sukiyah, warga Desa Cisarua, Cilograng menyebutkan, bersamaan dengan pembangunan bungker terjadi pengiriman kerbau yang sudah dipotong lewat laut dengan perahu.  Konon tubuh kerbau itu diisi dengan senjata dan uang. Pembangunan bungker itu dipimpin oleh tokoh misterius Ki Supyan. Pada saat bersamaan tanggal 1 Oktober yang jatuh pada hari Jumat, di atas kawasan pantai mondar-mandir helikopter militer yang melakukan patroli di sepanjang pantai selatan.
           
Pada tahun 1970, suami Ma Sukiyah bernama Madukar, salah seorang pemilik tanah di jojongor mendengar berita radio yang mengimbau para pemilik kebun dan sawah di jalur pantai selatan agar tidak pergi ke tanah garapannya karena bakal ada guntur besar. Menurut Madukar, saat itu warga meyakininya akan terjadi kiamat. Namun, Madukar tetap berangkat ke kebunnya di jojongor Pantai Guha Gede.
           
Rupanya yang dimaksud guntur besar adalah suara bergemuruh dari tengah laut yang berasal dari helikopter bermotif belang-belang.  Madukar melihat helikopter itu terus bergerak dari tengah samudera ke arah jojongor sekitar pukul 11.00 WIB. Tampaknya helikopter akan turun di bagian yang terbuka dari jojongor. Dia ambil tihul atau sejenis limbah kayu seukuran pentungan lalu diacung-acungkan ke arah helikopter. Tiba-tiba helikopter itu berbalik arah dan mabur ke arah laut.
           
Madukar menyampaikan kepada beberapa warga tentang kecurigaan terhadap kedatangan helikopter tersebut. Dia menduga helikopter itu sedang mencari sesuatu di sekitar jojongor dan Pantai Guha Gede. Mungkinkah ada kekayaan misterius yang tersembunyi di dalam perut bumi pantai itu? Dia pun bertanya-tanya.  Sebagaimana  istrinya, Madukar juga telah meninggal dunia.
           
Keterangan lain dari Ma Sukiyah menyebutkan, pada masa Orde Baru dirinya sering kedatangan orang yang mengaku utusan Mbak Tutut. Orang tersebut setengah memaksa ingin membeli tanah di jojongor, Ma Sukiah didesak untuk menyebutkan sebuah harga untuk dilaporkan ke Jakarta.  Namun, dia tidak mau menyebutkan harga yang diminta orang Jakarta.           
Kepala Desa Cilograng, Sudarya (ketiga dari kiri) ketika memimpin rapat pendataan aset desa berupa tanah, bangunan, peralatan, dan mesin. Masyarakat mengharapkan dilakukannya pendataan aset milik warga di Pantai Guha Gede.
Jojongor terus-menerus diincar orang. Begitu pentingkah jojongor di Pantai Guha Gede? Ada apa di dalamnya? Sampai sekarang pertanyaan tersebut belum terjawab. Kepala Desa Cilograng, Sudarya juga tidak bisa menjelaskan misteri yang terkandung di alam jojongor. Dia hanya menginginkan pembangunan jalan yang terakses ke Pantai Guha Gede seperti ditunggu-tunggu oleh warga Cilograng. Karena itu, Sudarya akan berupaya dengan sekuat tenaga untuk mengusulkan pembangunan jalan tersebut kepada pemerintah.
           
"Keberadaan jalan yang terhubung ke garis pantai dapat mengangkat derajat kehidupan sosial masyarakat Cilograng, khususnya mereka yang tinggal di sekitar pantai," ujar Darya.
           
Beberapa warga Cilograng mendesak pemerintah desa untuk melakukan pendataan yang tuntas terkait status kepemilikan tanah di sekitar Pantai Guha Gede. Sebagian besar tanah yang ada di sana belum dibebaskan oleh pemiliknya kepada perusahaan. Kejelasan status tanah dapat mencegah munculnya mafia tanah yang berkeliaran di daerah Cilograng.
           
Saat ini, warga sangat merindukan terwujudnya harapan dan mimpi besar mereka yakni dibangunnya kawasan Pantai Guha Gede. JAHRUDIN
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu