Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, September 21, 2017

sukabumiNewsnet

Sebelum Pecahnya Pemberontakan 1965, Sukabumi Sudah Menjadi Incaran PKI

Peristiwa tahun 1965 di Sukabumi
Oleh: Irman "Sufi" Firmansyah

SEBELUM pecahnya pemberontakan PKI tahun 1965, Sukabumi sudah menjadi incaran PKI. Selain banyaknya organisasi buruh terutama perkebunan dan juga basis kuat buruh kereta api, sukabumi juga punya sekolah polisi yang menjadi pion penting dalam menguasai kota.

Tidak heran Aidit beberapa kali mengunjungi Sukabumi sejak 1960-1963 dan mengisi kuliah/pidato di sekolah polisi di Sukabumi. Bahkan konon konsep setan desa dan setan kota dirumuskan aidit di Sukabumi, tepatnya disebuah perkebunan diutara Cibadak.

Disukabumi sendiri ada tokoh kiri yang diasingkan di kawasan wilayah Selabintana yaitu H. Achmad Khaerun karena peristiwa Laskar Rakyat (bambu runcing) yang berhubungan dengan gerakan bambu runcing di daerah Jampang. Konon beliau sempat pula berdiskusi degan pimpinan PKI. Sementara kelompok non komunis saat itu tidak kompak. HAMKA seorang ulama yang dipenjara di Sekolah Polisi Sukabumi tak ada yang membela, bahkan partai besar NU membiarkannya saja tanpa pembelaan.

Justru rivalitas terhadap PKI muncul dalam bentuk huru hara yang terjadi mei 1963 di Sukabumi, seperti temuan project pilot survey dimana huru-hara dilatarbelakangi keterlibatan etnis Tionghoa dalam partai-partai sosialis dan komunis pro Tiongkok. Selain Aidit tokoh penting PKI yang mengunjungi Sukabumi adalah waperdam Subandrio, dia melakukan orasi di cabang PKI Kota Sukabumi.

Dalam catatan Kerry B Collison, Sukabumi merupakan tempat pelatihan Gerwani yang cukup besar, disana para wanita berlatih dengan senjata tempur seperti pistol dan juga golok untuk berkelahi. Mereka dilatih menebas kepala dengan cepat. Keberadaan Perkebunan menjadi faktor potensial untuk dikuasai, terbukti dari gerakan sepihak yang pernah dilakukan di perkebunan pasir nangka berupa pembakaan pabrik.

Sementara peran spionase PKI di Sukabumi juga terbukti dalam Mahmilub dengan ditemukannya surat-surat Sudisman (Anggota CC PKI) beserta denah (Plattegrond) sekolah polisi Sukabumi dalam arsip SBKP (serikat buruh kementrian pertahanan) yang berisi beberapa petunjuk untuk menguasai Sekolah polisi. Sukabumi juga menjadi bagian dari skenario pemberontakan yang diatur Sjam Kamaroezaman (Djawa adalah Kuntji), yaitu bilamana pemberontakan gagal maka ada 3 basis pengunduran yaitu Sukabumi Selatan, Merapi Merbabu Complex dan Blitar Selatan.

“Akhirnya Petjahlah pemberontakan yang disebut Anwar Sanusi Ibu Pertiwi sedang hamil tua dengan diculik dan dibunuhnya beberapa jenderal oleh para "bidan" yang sudah siap.”

Situasi Sukabumi saat itu tidak ada gejolak apapun, tanggal 30 September malam, kota hanya sempat ada pemadaman. Sementara di sekolah kepolisian sedang melakukan hiburan sesudah pelantikan siswi polwan disiangharinya. Seorang petinggi polri pusat yang berada disukabumi yaitu Jendral Sucipto Judodiharjo. Keesokan harinya, kehebohan terjadi sesudah ada berita dari radio tentang pemberontakan PKI. Jendral sucipto kemudian dipanggil Bung Karno dan terbang dengan helikopter dari Sukabumi ke Jakarta.

Seminggu kemudian pentolan serikat buruh ditangkapi. Akhirnya tanggal 15 Oktober 1965 pimpinan PKI Kota Sukabumi dan Kabupaten serta beberapa organisasi underbouw PKI di Sukabumi seperti SOBSI, SBPP, dll, menyatakan tidak campur tangan dalam pemberontakan di Jakarta dan merasa ditipu oleh petinggi PKI dan menyatakan membubarkan organisasinya.

Sayangnya hal tersebut tidak membendung terjadinya pengadilan massa karena tanggal 31 Oktober 20 orang pentolan PKI yang dilatih di lubang buaya tertangkap di Sukabumi beserta beberapa dokumen yang menyebutkan rencana pemberontakan serta para tokohnya. Tak ayal kemudian banyak pentolan PKI disukabumi dihabisi diantaranya ketua BTI Cisarua Baros dibunuh massa.

Situasi  Sukabumi saat itu tidak kondusif dimana banyak terjadi pembunuhan balas dendam maupun pencidukan oleh aparat terhadap orang yang ditengarai terlibat PKI. Mereka dikumpulkan di gedung juang dan di kantor-kantor desa, sebagian diadili, ada yang dilepaskan ada juga yang dieksekusi. Pangleseran termasuk tempat yang terbanyak penangkapan kader PKI. Bahkan konon sungai di Wangunreja sempat memerah karena dilakukan beberapa eksekusi disitu. Tempat lainnya sekitar perkebunan di Cikidang dan di Kalapanunggal. Meskipun tidak kondusif tapi Sukabumi juga menjadi tempat persembunyian para tokoh PKI.

Mahrus Irsyan menyatakan bahwa Aidit sebelum lari ke Jawa, sempat bersembunyi di Sukabumi. Selain itu pentolan PKI yang tertangkap di Sukabumi adalah Sumiyarsih Caropeboka seorang dokter yang disebut Dokter Lubang Buaya, yang bersembunyi diwilayah Utara Sukabumi dirumah seorang mantri. Suaminya juga Sjarif Caropeboka ditangkap di Ciaul bersama rekannya dalam sebuah kendaraan. Pada akhirnya pemberontakan berhasil dipadamkan, gerakan PKI yang masih terus melakukan perlawanan diantaranya di Merapi Merbabu Complex dan terakhir berlangsung sampai tahun 1968 adalah di Blitar Selatan. Di Sukabumi sendiri tidak ada gerakan apapun karena masyarakat bersama-sama membantu aparat yang tergabung dalam AKRI memburu para kader komunis.

Selamatlah negeri ini dari pemberontakan, namun peristiwa ini juga menimbulkan luka karena banyak warga yang tidak terlibat kena getahnya. Ada istilah tulis toggong, dimana masyarakat dengan mudah menunjuk siapa saja yang terlibat dan langsung diciduk. Luka ini juga menjadi persoalan sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun karena sebagian besar tidak bisa bekerja normal dengan tanda di KTP sebagai eks tapol.


*Dari berbagai sumber

Editor: A Malik AS
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu