Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, September 9, 2017

sukabumiNewsnet

Ribuan Rumah di Kota Sukabumi Tak Layak Huni

sukabumiNews.net, SUKABUMI – Sebanyak 4.600 rumah di Kota Sukabumi, Jawa Barat, termasuk rumah tidak layak huni (RTLH). Rumah-rumah itu tersebar di wilayah Kota Mochi ini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan, Asep Irawan membenarkan data tersebut. Menurutnya, ribuan rumah ini tersebar di tujuh kecamatan dan 33 kelurahan yang ada di Kota Sukabumi.

“RTLH itu tersebar, terutama di kelurahan di perkotaan seperti di Kecamatan Cikole dan Citamiang,” ungkapnya.

Menurut Asep, pemerintah sudah berupaya memperbaiki RTLH tersebut. Sumber perbaikan dari APBD Kota Sukabumi, Pemprov Jawa Barat, dan pemerintah pusat.

“Tahun ini, total RTLH diperbaiki dari tiga sumber anggaraan itu mencapai sekitar 450 unit. Besaran bantuan untuk masing-masing warga mencapai sebesar Rp 15 juta. Dana ini diberikan atau dikelola langsung oleh Badan Keswadyaan Masyarakat (BKM) yang dikerjasamakan dengan lingkungan RW dan pemilik rumah,” tandasnya.

Mencuatnya data ribuan RTLH ini setelah diketahui adanya sekeluarga di Kampung Situawi RT 02/02, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, sudah sekitar puluhan tahun tinggal di gubuk reyot.

Penghuni gubuk reyot berukuran sekitar 4 x 3 meterpersegi ini terdiri dari tiga orang yakni pasangan suami istri, Santosa, 62, dan Cacih, 52, dengan anaknya Raharja, 32.

Lebih memprihatinkan, hampir setahun terakhir rumahnya yang terbuat dari bilik bambu itu miring 45 derajat, nyaris ambruk. Kondisi itu akibat tiang penyangganya sudah lapuk termakan usia.

Menyedihkannya lagi, ternyata tanah yang berdiri bangunan jauh dari layak huni itu bukan milik sendiri. Selama ini, keluarga Santosa hanya menyewa dari tetangganya.

Jangan berpikir nyaman tinggal di sana, apabila hujan mereka harus menyiapkan ember atau wadah lainnya untuk menampung air. Jika hujannya deras dan lama, mereka terpaksa nebeng di tetangganya. Soalnya, bagian atapnya sudah banyak yang rusak. Lantainya pun masih beralaskan tanah.

Mereka bukannya tidak mau memperbaiki “rumahnya” itu. Keterpurukan ekonomi yang mempersulitnya. Santosa yang hanya tukang kondektur angkutan umum tembak, penghasilannya tidak menentu. Begitupun anaknya, Raharja hanya mengandalkan pendapatan sebagai tukang bangunan.

Akhirnya, saat ini rumah Mak Cacih tengah dalam perbaikan. Sementara Mak Cacih dan keluarga sementara waktu tinggal di sebuah Rusunawa.


Editor: Red*
Sumber: Pos Kota
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu

Loading...