Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Wednesday, April 5, 2017

Redaktur

Merendahkan Indonesia lewat Jakarta: Memilih Calon Pemimpin yang Berkawan dengan Karakter Setan

sukabumiNews.net, JAKARTA - DKI Jakarta selama dipimpin oleh terdakwa penoda agama nampak tidak lagi memiliki wajah bermartabat atau memiliki kesantunan. Selain mulut yang dinilai kotor karena diduga pernah melontarkan kata-kata tidak sepantasnya di stasiun televisi, Ahok juga dianggap tidak memiliki cermin budaya Timur.

“Anies memiliki etika dalam berkata dan bersikap. Jakarta sebagai wajah Republik seharusnya dipimpin oleh seseorang yang santun, memiliki etika dalam mengekspresikan diri, terutama kepada rakyatnya. Bangsa Indonesia itu jati diri dan karakternya memang santun, sopan, lembut, dan ramah. Ketika pemimpin ibukota berkarakter sebaliknya maka itu adalah sikap merendahkan karakter keindonesiaan itu sendiri,”demikian katanya, melalui rilis, Selasa (4/04/2017) dilansir voa-islam.com.

Tentu, tambahnya, perlu ditegaskan bahwa karakter sopan, santun beretika tidak selamanya difahami sebagai sikap lemah dan tidak tegas terhadap kejahatan, termasuk korupsi. Sebagaimana karakter baik, saleh, dan rendah hati tidak berarti harus lemah kepada syetan.

“Sebaliknya justeru karakter dan sikap demikian adalah senjata melawan syetan. Karena karakter kasar, angkuh, serta tidak beretika itu sendiri merupakan prilaku syetan. “

Anies juga menurutnya tidak dibayang-bayangi oleh kekuatan luar, baik secara ekonomi maupun politik. Hal ini sangat penting karena Indonesia sejarahnya banyak dikontrol oleh kekuatan bayang-bayang (invisible power) dari luar.

“Mungkin tidak perlu disampaikan secara terbuka, tapi diakui atau tidak, disadari atau tidak, Indonesia selama ini selalu berada di bawah bayang-bayang kekuatan luar. Didukung oleh nafsu kekuasaan dalam negeri, seringkali kekuatan luar (foreign power) ini memeras kekayaan negara.”


Maka ia melihat masyarakat Indonesia selama negara ini merdeka selalu dijadikan pelayan (servant), bahkan budak (slave) di negara sendiri. Pernyataan ini didapat dari tulisan Shamsi Ali dengan judul ‘Anies Baswedan yang Saya Kenal. Ia mengaku telah lama kenal lama Anies, tepatnya saat ia menjadi mahasiswa di Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pakistan dengan membaca tulisan-tulisan Anies, mahasiswa UGM. (Red*/)
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu