Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sunday, March 26, 2017

Redaktur

Kesal Melihat Kondisi Jalan Rusak, Warga Desa Mekarjaya Menanaminya dengan Pohon Pisang

sukabumiNews.net, CARINGIN - Ruas Jalan Mekarjaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, sudah tampak rusak parah. Kondisi jalan berlubang dan di kiri dan kanan jalan, jelas tampak rumput liar tumbuh subur tak terurus.  Namun di sisi lain, pemerintah setempat,  sama sekali tidak menaruh perhatian atas kondisi tersebut.

Dengan menggunakan pisang perecet, sejenis pisang kelas bawah jauh di bawah pisang ambon sebagai simbol perlawanan, Pemuda Desa Mekarjaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi memprotes pemerintah desa setempat. Mereka menanam pohon pisang jenis paling melarat itu di ruas jalan desa yang kondisinya sudah rusak parah.
           
“Gerakan ini adalah aksi spontanitas dan bukan luapan emosi sesaat. Biar Pak Kades tahu kalau warga sudah menggalang kekuatan, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,” kata salah seorang tokoh pemuda Desa Mekarjaya ditemui di tengah aksi tanam pisang percet di tengah jalan, Minggu (26/3/2017).
           
Kelompok warga yang menabur bibit pohon pisang di sepanjang jalan desa tersebut tidak sekedar protes. Mereka juga melontarkan dialog nonverbal sarkasme dengan para penyelenggara pemerintahan di desa  menyangkut kondisi infrastruktur jalan yang amburadul. Sasaran utama aksi sangat jelas yakni Kades Mekarjaya Uday Supriadi. Menanam pisang hanyalah aksi fisiknya, di balik pemanfaatan simbol pohon pisang itu ada gerakan orang-orang muda yang unjuk keberanian terhadap pemegang kekuasaan.
           
Mengapa harus pohon pisang perecet? Sebuah sumber di kalangan pemuda Mekarjaya menyebutkan, semula memang akan menanam pohon pisang ambon, bahkan kalau bibitnya ada akan menanam pohon pisang sunpride yang harga matangnya perbuah bisa mencapai Rp10 ribu. Namun,  pisang perecet juga melambangkan kekhawatiran warga, suatu hari kelak pisang-pisang yang sudah berbuah akan dipetik oleh kaki tangan penguasa.
           
"Pemikirannya sederhana. Kalau kami menanam pisang ambon, nanti  ketika sudah berbuah kami khawatir malah dipetik oleh orang-orang suruhan atau Pak Kades sendiri. Kami yang menanam, dia yang menikmati. Makanya kami menanam pisang perecet, kalaupun mau diambil Pak Kades, silakan saja kalau suka makan pisang jelek seperti itu," kata sumber tersebut.
           
Seorang warga Kampung Cijayen, Desa Mekarjaya, Deden  menuturkan, kepala desa harus merespon cepat tuntutan warga. Kalau tidak, bukan tidak mungkin, aksi serupa akan meluas ke tempat lain. “Pak kades itu, pimpinan kami semua, bukan hanya kepala desa warga Pasir Angin, Pangkalan, dan Nangkod saja, tapi kepala desa warga Desa Mekarjaya secara keseluruhan,” ujarnya.
           
Deden mengingatkan, sebagian besar warga yang terlibat aksi penenaman pohon pisang perecet di jalan itu adalah kawula muda. Para pemuda ingin mengingatkan pemerintah desa agar  membuka mata lebar-lebar untuk melihat kondisi infrastruktur jalan.  Apalagi fungsi jalan yang ditanami pisang itu sangat vital yakni sebagai  penghubung dengan beberapa desa tetangga antara lain Desa Caringin Kulon dan Desa Cijengkol.
           
Kenyataannya, ruas jalan tersebut  sudah  rusak parah, kondisinya seperti di Allepo, Suriah yang saban detik dihujani mortir dan bom. Kondisi jalan berlubang-lubang dan di kiri dan kanan jalan  tampak rumput liar tumbuh subur tak terurus. Melihat rumput liar tumbuh, beberapa pemuda berencana untuk beternak marmut di sana. Lagi-lagi bukan sapi atau kambing karena khawatir hasil ternaknya diambil kaki tangan kepala desa. Kalau marmut, bila pun diambil orang-orang kades, mereka akan merelakannya.
           
Seolah tak mau kalah dengan para pemuda, seorang warga, Ade Jubaedah (57) mengatakan, aksi yang dilakukan warga merupakan bentuk reaksi dari ketidakpedulian pemerintah di bawah kepemimpinan Kades Mekarjaya Uday Supriadi. “Aksi yang dilakukan warga, saya nilai sangat wajar. Karena selama dua  tahun berjalan Pak Uday menjabat sekalipun dia tidak pernah terjun ke lapangan untuk menyelesaikan kesemerawutan jalan di Mekarjaya,” katanya kepada sukabumiNews. (Usep)
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu