Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sunday, October 9, 2016

sukabumiNewsnet

"AGAMA" DALAM GENGGAMAN PARA PEMUJA JIN

Oleh Yan Hasanudin Malik

Mencermati kisah tragis Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng seharusnya menyadarkan kita, betapa banyaknya mereka yang mengaku muslim, berpakaian seperti ulama, tetapi sesungguhnya mereka beribadah kepada Jin, meminta bantuannya, perlindungannya, bahkan tidak sedikit yang ingin menyingkirkan orang-orang yang dianggap pesaingnya baik dalam bisnis, politik, atau hal-hal lain dengan bantuan jin.

Contoh nyata dari pengaruh jin ini bisa terlihat pada Marwah Daud Ibrahim, seorang yang dikenal kaum intelektual hebat, tetapi menunjukkan sikap "oon".

Selama jin dalam tubuhnya tidak dibuang, pikirannya akan tetap ngaco. Bisa dipastikan Dimas Kanjeng menyajikan ragam sesajen untuk para jin itu, melakukan ritual-ritual tertentu, salah satunya ditujukan agar dia bisa menguasai banyak orang dan dianggap punya wibawa dan kesaktian.
Betapa halusnya syirik mengendap dalam batin manusia. Dan betapa banyaknya manusia yang tertipu oleh penampilan lahiriyah seseorang. Begitu dia berpakaian bak orang alim, membaca wirid-wirid tertentu, menggunakan wafak atau wifik dalam bentuk tulisan arab, memanggil-memanggil para ulama yang telah meninggal dunia, seperti syekh Abdul Qadir Jaelani, Syekh Junaedi al Bagdadi atau yang lainnya, karuhun atau leluhurnya, maka jin pun datang memenuhi panggilan mereka lalu berusaha melaksanakan perintah yang mereka terima dari manusia.

Banyak orang tertipu oleh dukun, paranormal, ahli hikmah, orang pintar atau apapun sebutannya. Mereka inilah para penyebar syirik. Hanya manusia muslim yang memiliki akidah lurus dan bersih yang akan selamat dari tipu daya ini. Sayang sekali, banyak kajian keislaman lebih fokus pada akhlak atau fikih, sementara kajian akidah jarang dilakukan. ***
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu