Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, September 2, 2016

sukabumiNewsnet

Tetangga Heran Gatot Brajamusti Kaya Tanpa Kerja?

sukabumiNews - Deretan rumah-rumah mewah begitu nyata terlihat di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di antara rumah-rumah mewah tersebut adalah yang ditempati Gatot Brajamusti dan keluarganya.

Saat ini, rumah tersebut terlihat sepi setelah penangkapan Gatot Brajamusti karena narkoba. Hanya ada sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumah, sementara pintu gerbang rumah terkunci rapat.

"Yang nempatin saat ini pembantunya ama yang jaga rumah," kata Anwar, seorang tetangga sekaligus pemilik warung di seberang rumah Gatot Brajamusti, kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, seperti dikutif BINTANG.COM, Rabu (31/8) belum lama ini.

Menjadi kebiasaan Gatot Brajamusti adalah melakukan aksi amal kepada ratusan orang setiap hari Jumat. Biasanya, orang-orang ini datang ke rumahnya semenjak pagi dan berjejer rapi untuk mendapatkan uang ataupun bahan makanan.
“Tiap Jumat banyak orang yang datang kesini. Sampai dua ratusan orang, kalau ga ngasih duit ya beras gitu. Itu yang datang gak tahu dari mana aja, dari mulut ke mulut, orang pengangguran, minta-minta," lanjut Anwar.

Anwar sendiri sangat heran ketika Gatot Brajamusti bisa menghelat acara amal dengan kuantitas sangat besar. "Datang aja mereka. Pada baris ya. Bisa dibayangin kalau misalkan ngasih 50 ribu aja dikalikan ratusan orang," tuturnya.

Selama ini Anwar mengatakan jika Gatot tak seperti orang yang bekerja dan berpenghasilan tinggi pada umumnya. Jarang sekali ia melihat Gatot berangkat bekerja seperti tetangganya yang lain.

"Saya aja bingung, uangnya darimana. Kerja kaga pernah, padepokan kaga jalan. Batubara katanya, tapi sekarang bisnis batubara udah pada hancur kan. Tapi dia kalau nuker duit dolar-dolar semua. Ga tahu kalau daun bisa diubah jadi duit kali ya," kelakar Anwar.[bintang]

Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu

Loading...