Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, June 14, 2016

sukabumiNewsnet

Kivlan Zen: Metro TV dan Tempo Corongnya Komunis, UIN Sarangnya Komunis

“Ini dimulai tiga tahun lalu majalah Tempo mengungkap semuanya, Wah ini bahaya nih. Metro melawan lupa, ujungnya kan komunisme dibangkitkan, ini Metro TV, nih corongnya Komunis, termasuk majalah Tempo” ungkap Kivlan Zen saat mengisi kajian di Joglo Ar Rohmah, Bratan, Pajang, Laweyan, Solo, Senin (23/5/2016), beberapa waktu lalu.

Hal ini terkait kasus Pulau Buru, menurut Kivlan Zen kasus Pulau Buru yang tadinya Suharto mengamankan agar tidak terjadi kerusuhan, justru sekarang dibalik faktanya oleh majalah Tempo maupun Metro dengan memberitakan bahwa Suharto sebagai dalangnya. Kivlan Zen menilai bahwa pemberitaan kedua media tersebutlah yang membuat massa pendukung komunis mulai bergerak.
“Inilah mulai bergeraknya massa, berani mereka sekarang, pakai lambang Palu Arit itu di Sampang  photo-photo PKI masuk trus ditangkap tapi dilepaskan. Di Jember pasang Palu Arit semuanya didepan kampus UIN. Sekarang UIN itu isinya apa? UIN di Indonesia itu sekarang banyak orang komunis,” tegasnya.

Seperti diberitakan Panjimas, Kivlan Zen bahkan menyayangkan adanya paham komunis sekarang telah masuk ke kampus yang justru seharusnya mengajarkan ilmu agama islam. Paham komunis semakin hidup dengan pemikiran liberal dan demokrasi sehingga menjadikan UIN di seluruh Indonesia sudah terpengaruh.

“Masak di UIN  Jakarta tertulis “Kampus Bebas Tuhan”, kampus yang seharusnya mengajarkan agama Islam dengan laa ilaa ha illallah, kok jadinya kampus bebas Tuhan, semua UIN, UIN Semarang LGBT boleh kata doktornya wah kacau ini, UIN Jogja sama,” tandasnya.

Tidak hanya di kampus lebih parah lagi, menurut Kivlan Zen paham komunis juga telah menyusup di pesantren-pesantren. [Red***/]


Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu