Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Monday, July 6, 2015

Kang Malik As

Ini Kata Menag Lukman Soal Penetapan 1 Syawal

sukabumiNews, JAKARTA-- Setelah menemukan kata sepakat didalam penetapan awal Ramadhan beberapa waktu yang lalu, maka selanjutnya yang  juga ditunggu-tunggu umat Islam di Indoesia adalah penetapan 1 Syawal 1436 Hijirah atau  Hari Raya Idul Fitri.

Terkait hal tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan ada kemungkinan dalam menetapkan  ada perbedaan dengan Muhammadiyah yang sudah menetapkan Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini jatuh pada Jumat, 17 Juli 2015.

Politikus PPP itu meminta semua pihak menunggu sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama.
“Bagaimanapun juga kita harus menunggu sidang isbat. Dan kita berupaya mudah-mudahan ada kesamaan pandang untuk bagaimana kemudian kita bisa sama-sama memasuki bulan Syawal ini,” terang Lukman di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari dakwatuna.com, Senin (6/7/15).

Menurutnya, jika memang terjadi perbedaan 1 Syawal, ia meminta semua pihak untuk menyikapi dengan arif. Terlebih, dalam perbedaan penetapan 1 Syawal, masing-masing pihak memiliki landasan dan penjelasan.
Kementerian Agama, kata Lukman, akan terus menjalin komunikasi dengan semua pimpinan organisasi Islam dan ulama untuk menyamakan cara pandang menentukan 1 Syawal.

Muhammadiyah menentukan Idul Fitri dengan metode hisab. Sementara Nahdlatul Ulama (NU) dan Kementerian Agama akan menentukan Idul Fitri dengan metode rukyat, yakni melihat langsung penampakan bulan.

“Ya jadi untuk menentukan kapan 1 Syawal saat ini seperti lazimnya, Kementerian Agama akan mengadakan sidang isbat dengan mengundang tokoh-tokoh para ulama, pimpinan ormas Islam, dan pakar astronomi. Sidang isbat itu diadakan pada 29 Ramadan,” pungkasnya.

PBNU sendiri telah memprediksi bahwa penetapan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 2015 berpotensi berbeda antara organisasi kemasyarakatan Islam yang satu dengan yang lain maupun dengan pemerintah. Hal itu disebabkan perbedaan di dalam menetapkan tanggal 1 Syawal 1436 H yang merupakan hari Idul Fitri setelah berakhirnya bulan Ramadhan.

Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU H Nahari Muslih di Jakarta, Rabu (1/7) malam, mengatakan posisi hilal atau bulan sabit pada tanggal 29 Ramadhan saat diadakan rukyatul hilal (pengamatan terhadap bulan sabit muda) tahun ini sangat tipis sehingga kemunginan tidak berhasil dilihat. (sbb/dakwatuna)
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu