Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, January 3, 2015

sukabumiNewsnet

Seks Ayam versi 1

Oleh : Budi Kicil.

‘’Ayam’’!. Apa yang ada dalam pikiran kita saat membaca atau  mendengar kata ‘’ayam’’  ? . Tentu, digaris bawahi kata ayam disini berada dalam tanda kutip.  Bukan kata ayam biasa  yang secara harfiah  anak kecilpun akan sangat paham.

Masih juga belum terimajinasikan kata ayam dalam tanda kutip ?. Kalau belum rasanya kelewatan. Sebab,  seorang lelaki  dewasa petualang seks akan mempersepsikan ‘’ayam’’ sebagai sarana rekreasi seks.  Ada ‘’ayam’’ kampung, ‘’ayam’’ kampus, atau ‘’ayam’’ sekolahan. Jenis-jenis ‘’ayam’’ yang bukanlah soal nyaris semua lelaki dewasa akan berpikiran ‘’ngeres’’.itu bisa lahir.

Tetapi, kali ini pokok bahasannya  bukanlah persoalan ‘’ngeres’’. Pokok bahasannya adalah bagaimana  secara biologis ‘’ayam-ayam’’ . Atau, pertanyaan yang  lebih spesifiknya adalah, siapa sih ayah biologis yang menelorkan ‘’ayam-ayam’’ itu ?
.
Ternyata, banyak ‘’induk ayam’’ yang tak dapat memastikan  anaknya berasal dari benih siapa. Terlalu banyak yang menabur benih adalah  hal yang biasa  bagi mereka. Bahkan, tak ada aturan, norma atau batasan  tentang siapa yang boleh menabur benih. Maka, ayam betina boleh menerima benih  dari siapapun, bahkan dari golongan sedarah atau keluarga.

Nah, ada cerita mengusik  tentang siapa ayah biologis dari para ‘’ayam’’. Seorang anak ‘’ayam’’ yang mencoba mencari tahu dari induknya justeru sering mendapat jawaban yang tambah membingungkan.  Betapa tidak, jawaban induk ‘’ayam’’ tadi adalah, “Bapak kamu itu adalah kakek kamu !’’. Atau, jawabannya adalah, ‘’Bapak kamu itu  ya kakak kamu !!’’.

Jawaban tadi berarti ayah menghamili anak atau anak menghamili ibu. Bolehkah ?. Jawaban pembaca pasti  secara tegas menyatakan tidak boleh. Tapi, menurut penulis sih boleh- boleh saja. Kenapa ?. Karena mereka kana ayam... !.

Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu