Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sunday, January 18, 2015

budi acakatam

Menikmati Kopi Hasil Racikan Barista

Laporan Budi Kicil, SUKABUMInes.

Bagi penikmat kopi, minuman yang memberikan kebugaran itu ternyata memiliki nilai-nilai filosofis. Hal itu terungkap saat wartawan berkunjung ke coffee shop d’`gaud yang beralamat  di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi. A Solihin, barista di kedai kopi itu menyatakan filosofis minum kopi hakekatnya adalah menghargai sebuah proses.

A. Solihin  memberikan contoh bagaimana jenis minuman kopi bernama Vietnam drip diproses dan disajikan. Dimeja pengunjung, tetes demi tetes racikan kopi terlihat mengisi cangkir. ‘’’. Butuh waktu sekitar empat menit sampai cangkir terisi penuh’’, ujar Solihin  seraya meletakkan alat  peracik kopi yang dibawahnya telah tersedia  cangkir kosong.

Barista atau peracik minuman kopi itu benar. Pemesan Vietnam drip dipaksa sabar untuk melihat bagaimana  cangkir kopi kosong terisi tetes demi tetes, sampai siap untuk diminum. Kenikmatan dilidah dan tenggorokan itu harus ditebus dengan kesabaran menunggu. Tetapi menunggu empat menit rasanya tak terlalu lama karena proses menetesnya kopi ternyata memiliki keindahan tersendiri.
Dalam kesempatan itu A. Solihin juga menjamin semua jenis minuman kopi di kedainya sesuai dengan lidah orang Indonesia. Menurut Solihin, perpaduan antara kopi robusta dan kopi arabika  aroma khas dengan rasa yang pas untuk orang Indonesia. Selain itu, Solihin juga menjamin tak aka nada efek samping terhadap kesehatan lambung. ‘’Proses yang matang dari biji kopi
Solihin sendiri mengemukakan ada sekitar 25 jenis minuman berbasis kopi espresso yang tersedia di kedainya. ‘’Biasanya penikmat kopi lelaki memilih kopi espresso atau long black Americano. Pelanggan perempuan lebih cenderung memilih  jenis late atau ice bland’’, uangkapnya.
Solihin memilih nama D`GAUD untuk kedai kopinya. ‘’Gaud itu singkatan dari gado-gado ujang.  Sejak tahun 1953, tempat ini dikenal sebagai rumah makan gado-gado Udjang.  Kini, nama GAUD tetap dilestarikan karena warisan dari leluhur. Sedangkan  menu makannya kini beralih jadi soto ayam dan daging. Jika sore dan malam, pengunjung rata-rata adalah penikmat kopi, saat makan siang yang banyak diserbu pembeli adalah soto’’, terang Solihin.


Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu