Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Monday, January 5, 2015

sukabumiNewsnet

10 Tahun, 50 Kepala Keluarga Gunakan Air Limbah Selokan

Laporan: Herry Febriyanto >>



SUKABUMI--Sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Tanjakan Asem RT 3 dan 4 di RW 1, Kelurahan Sudajayahilir, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, selama puluhan tahun harus mandi, cuci dan kakus (MCK) menggunakan air limbah rumah tangga.



Pantauan wartawan sepertiini.com untuk sukabumiNews, air yang digunakan warga untuk aktivitas MCK bersumber dari saluran pembuangan (got) yang dihubungkan melalui dua buah pipa plastik. Satu pipa mengalirkan air dari got ke kolam berukuran 2×10 meter, sedangkan pipa lainnya mengalirkan air ke bak penampungan ukuran 1,5×2,5 meter ke bangunan MCK yang dibangun program PNPM.



Bahkan yang lebih memperihatinkan, air yang ditampung di dua kolam tersebut berwarna hitam dan berbau dengan banyaknya jentik-jentik nyamuk. “Sejak saya lahir sampai sekarang usia 45 tahun pakai air ini,” ujar salah seorang warga, Ninih (45), kepada wartawan, Senin (5/1/2015).



Tak hanya itu, Ninih mengaku, dirinya bersama dengan warga lain terpaksa menggunakan air dari saluran pembuangan tersebut meski kotor dan berbau. Karena selama ini tidak ada fasilitas air bersih berupa sumur atau aliran dari air PDAM. “Mau gimana lagi, soalnya gak ada saluran air yang lain,” tandasnya.



Menurut Ketua RT 4, Diah Purwanti, pihaknya sudah sering melaporkan kondisi tersebut ke pihak kelurahan dan kecamatan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan atau reaksi. “Banyak warga yang terkena penyakit chikungunya, DBD, Diare dan gatal-gatal akibat pakai air itu,” jelasnya.



Sementara itu anggota DPRD Kota Sukabumi, Anwar Situmorang yang tinggal dekat daerah tersebut mengaku miris melihat kondisi warga yang menggunakan air kotor itu. “Saya sudah masukkan dalam hasil reses dan Januari ini kita bikin sumur bor,” ujarnya.


Politisi PDI Perjuangan tersebut juga mengimbau kepada dinas terkait, yakni Dinas Kesehatan untuk tidak berkutat di tengah kota saja, tapi lihat juga permukiman warga di pinggiran kota. “Lihat dong daerah pinggiran kota, karena yang tinggal disini juga manusia,” pungkasnya. Red*** (sepertiiniCom/sukabumiNews)
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu