Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, December 9, 2014

Malik Sukabumi

Naif-nya Orang-Orang Yang Bersimpati kepada ISIS

Tiba-tiba saja kita dikejutkan dengan kehadiran pemain baru di tengah carut-marutnya percaturan politik dunia Arab, yang tampaknya kini kian dalam menembus titik antiklimaksnya: Islamic State of Iraq and Sham (ISIS). ISIS, yang tampil dengan corak yang teramat mengerikan, sontak membuat dunia bersuara dalam koor senada, bahwa pada tubuh ISIS terdapat gen teroris yang amat berbahaya dan kudu segera dihabisi. DK PBB memuntahkan kecaman yang paling keras, karena ISIS dianggap telah mencederai martabat kemanusiaan dengan cara yang teramat buruk.

Dalam sebuah jumpa pers (5/8/2014), 15 anggota DK PBB sepakat, bahwa ISIS berbahaya tidak hanya di Suriah dan Irak, tapi juga bagi perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan. Sebelumnya (4/7/2014), Persatuan Ulama Muslim se-Dunia (International Union of Muslim Scholars, IUMS), yang dipimpin oleh Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, mengeluarkan pernyataan bahwa deklarasi khilafah ISIS untuk wilayah Irak dan Suriah tidak sah secara syariah. Selanjutnya, Organization of Islamic Cooperation (OIC, atau yang di sini lebih dikenal dengan OKI), juga mengeluarkan kecaman yang tak kalah kerasnya. Tampaknya, Vatikan juga turut buka mulut berkait perkara ini.

Alhasil, negara-negara dunia, berbagai lembaga dan organisasi internasional tampak serentak mengecam ISIS. Tak ketinggalan, di Indonesia, kecaman terhadap ISIS juga mengalir deras dari berbagai kalangan, baik dari lembaga pemerintahan maupun non-pemerintah, mengingat didapati sebagian relawan ISIS yang berasal dari dalam negeri. Ini menandakan betapa ISIS tidak sekadar menjadi tranding topic di dunia maya, akan tetapi telah menghantui masyarakat di siang bolong.

Dengan kecaman serentak semacam itu, barangkali sebagian dari kita jadi bertanya, kenapa kok bisa seheboh itu? Apa dan bagaimana sebetulnya profil, visi-misi, dan jejak langkah ISIS itu sendiri?

Politis dan Brutal

ISIS, atau ad-Daulah al-Islâmiyyah fil-ʻIrâq wasy-Syâm (Da‘isy), sebetulnya terlahir dari gerakan jihadis Irak pimpinan Abu Mus’ab az-Zarqawi, at-Tauhîd wal-Jihâd, yang pada 2004 menyatakan bergabung dengan al-Qaeda Pusat (al-Qaeda Central, AQC) pimpinan Aiman azh-Zhawahiri. Selanjutnya, at-Tauhîd wal-Jihâd menjadi agen al-Qaedah cabang Irak (al-Qaeda in Iraq, AQI). Setelah kematian az-Zarqawi, AQI berubah menjadi ISI (Islamic State of Iraq) pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi.

Sejak saat itu, AQC tak lagi akur dengan ISI karena ia dipandang telah membangkang terhadap garis-garis besar haluan AQC. Friksi antara AQC dengan ISI memuncak ketika al-Baghdadi malah ikut campur urusan dalam negeri Suriah, dan selanjutnya ISI pun berkembang menjadi ISIS. Usaha al-Baghdadi yang juga berminat mengakuisisi al-Qaeda cabang Suriah (Jabhah an-Nushrah, JN), membuat AQC hilang kesabaran dan resmi mendepak ISIS.

Dalam perjalanannya, ISIS menerapkan prinsip teror terhadap umat Islam sendiri dan bersikap intoleran tidak saja terhadap non-Muslim, akan tetapi juga kepada umat Islam. Sebagai ekstremis takfiri khas Khawarij, objek yang disasar ISIS bukan hanya Syiah Irak, tapi juga Sunni dan Kurdi yang menghalangi jalan gerakan mereka. ISIS, dengan faham ekstremisnya, tak segan melakukan bom bunuh diri, melakukan pembantaian, menjarah bank, membombardir masjid-masjid, makam, dan sebagainya.

Hingga kini, pemberontak di Irak dan Suriah itu telah menewaskan ribuan orang. PBB mengklaim lebih dari 2.400 warga Irak yang mayoritas warga sipil tewas sepanjang Juni 2014. Jumlah korban tewas ini merupakan yang terburuk dari aksi kekerasan di Irak dalam beberapa tahun terakhir. Aksi ISIS ini juga telah menyebabkan tak kurang dari 30.000 warga kota kecil di timur Suriah harus mengungsi.
Semua ini menunjukkan dengan jelas bahwa sesungguhnya ISIS hadir hanya untuk motif politik kekuasaan belaka. Mereka bertopeng di balik klaim-klaim syariah dan khilafah untuk menjustifikasi aksi-aksi teror mereka. Padahal bagaimanapun, syariah dan khilafah jauh dari cara-cara ISIS yang justru telah mencederai Islam. Ide ISIS tampak telah mundur jauh menuju potret buram peralihan dinasti-dinasti masa lalu, yang hampir mesti didirikan di atas genangan darah umat Islam sendiri.

Antitesis Islam

Dengan profil sesuram itu, tentu saja amat naif jika sebagian di antara kita masih ada yang bersimpati pada ISIS, atau malah mendaku gerakan terorisme itu sebagai perwujudan dari Islam yang paling murni. Maka, adalah penting bagi kita untuk segera memaklumkan kepada khalayak – terutama kelas awam – bahwa ISIS justru merupakan antitesis dari Islam dan berpotensi merugikan Islam dan umat Islam sendiri.

Hal demikian setidaknya karena, pertama, pada hakikatnya Islam itu rahmatan lil-‘âlamîn. Dalam perang sekalipun, Islam memiliki aturan ketat lagi bermartabat, berkebalikan 180 derajat dengan aksi-aksi teror khas ISIS. Jihad ala ISIS adalah gerakan subversif dan teror yang justru dilarang dalam Islam. Dalam setiap fikih Sunni ditegaskan, bahwa usaha mengangkat imam (khalifah, presiden, kepala pemerintahan) di kawasan yang sudah ada pemimpinnya sama sekali tidak dibenarkan.

Kedua, ideologi khas ISIS – terlebih jika sampai mendapat banyak simpati – akan semakin mempertajam aroma Islamofobia, terlebih di kawasan yang masih alergi terhadap Islam. Ini jelas akan menjadi berita buruk bagi Islam. Yang perlu kita lakukan dewasa ini adalah menampilkan Islam moderat dalam bentuknya yang seramah mungkin, untuk mengikis habis premis-premis prematur yang biasa berhembus dari Barat, bahwa Islam disebarkan dengan pedang.

Ketiga, jika virus sentimen sektarianisme ISIS sampai meracuni umat Islam Indonesia, pastinya ia berpotensi memantik konflik seagama (dalam hal ini Sunni-Syi’i) dan mengancam kerukunan umat antar-agama. Sentimen sektarianisme ISIS rentan meminyaki percikan konflik horizontal di Indonesia yang kadang meletup-letup. Padahal, sentimen semacam itu selama ini masih bisa dikendalikan dengan cukup baik di sini. Bagaimanapun, segenap elemen umat harus berusaha menyelamatkan Indonesia dari ancaman disintegrasi seperti yang telah terjadi di Irak dan Suriah saat ini.(mmn)
Berlangganan update artikel/berita terbaru via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu