Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Monday, October 27, 2014

sukabumiNewsnet

Pro Kontra Dress Code Pengumuman Kabinet di Media Sosial

JAKARTA - Pegiat media sosial ramai membahas kemeja putih yang dikenakan menteri saat pengumuman kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK di Istana Merdeka, Minggu (26/10). 

Di jejaring sosial Twitter, account @JerNapitupulu menilai, pemilihan kemeja putih sebagai pakaian sera­gam yang digunakan calon menteri pemerintahan Joko Widodo (Joko­wi) dan Jusuf Kalla (JK), cocok. “Keren nih dress code presiden dan kabinetnya, celana item, kemeja putih digulung. Santai, tapi rapih,” kicaunya.

Account @hasanahfdwa bilang, kemeja warna putih melambangkan ke­sucian, dan bersih. “Semoga anggota kabinet nanti putih bersih, nggak korupsi,” katanya.

Account @sukroanonim menilai, pakaian kemeja putih lebih simpel dan nasionalis, ketimbang menge­na­kan jas atau blazer. Selain itu, lebih mudah dicari di toko pakaian. “Kemeja putih murah dan banyak di Tanah Abang, hehe,” guyonnya.

Account @dodidw mengaku kagum melihat presiden-wakil presiden bersama para pembantunya kompak mengenakan kostum seragam. Kata dia, baru presiden Jokowi yang bisa menyeragamkan kostum para menteri. “Di era Jokowi-JK menteri kompak pakai satu jenis seragam, sebelumnya beda-beda, nggak kompak,” katanya.

Account @indomoto berguyon, calon menteri yang tampil mengenai kemeja putih terlihat seperti karyawan magang. “Menteri-menteri itu dianggap anak magang kali, sama Pak Jokowi,” kicaunya.
Account @mardi_senator berkelakar, para menteri terlihat elegan mengenakan kemeja warna putih. “Kalau pakai kemeja hitam kayak anak buah dukun/orang stres,” kelakarnya.

Account @firmannurzaman berkalakar, kualitas dan merk kemeja menteri tidak sama satu dan lainnya. “Menteri yang kaya beli kemejanya di luar negeri, kalau yang uangnya pas-pasan beli di pasar rumput, haha,” guraunya.

Account @vhia168 lebih setuju anggota kabinet kerja mengenakan kemeja kotak-kotak seperti yang per­nah dipergunakan Presiden Jokowi saat kampanye pilgub dan pilpres. 
“Kenapa nggak kotak-kotak? Lebih khas,” kicaunya.

Account @akmalmarhali mengusulkan, setiap rapat kabinet dan para menteri menggunakan kemeja putih atau batik. 

“Negara lain pasti muji kalau menteri pakaiannya seragam,” kicaunya.

Berbeda, Tweeps @EviDouren tidak setuju dengan pemilihan kemeja putih saat pengumuman kabinet. Menurutnya, pakaian seperti itu tidak menunjukkan keistimewaan acara negara.

“Pak @jokowi_do2, aku sepakat menteri harus gesit kerja. Tapi pengumuman resmi menteri dengan kemeja putih lengan digulung, itu kurang elok pak,” kritiknya.

Di facebook, account Dhanty Potter mengaku suka melihat anggota kabinet kompak menggunakan kemeja putih. “Lucu ini dresscode pengumuman menteri, kemeja putih. Kesannya smart casual. *halakh* *anaknya fashion banget*,” ujarnya.

Facebooker Jati Andrianto berkelakar, menyarankan politisi yang gagal masuk kabinet kerja, memakai kemeja putih di sekitar Istana. “Yang gagal kalau mau tetap di­kira masuk kabinet, pakai saja kemeja putih dan muter-muter di sekitar istana, haha,” ledeknya.

Facebooker Rangga Ardiansyah berpendapat, sebaiknya ketika rapat dan kunjungan ke luar negeri para menteri mengenakan batik, bukan kemeja putih. “Kalau blusukan nggak apa-apa pakai kemeja putih. Kalau rapat atau acara kenegaraan, menteri ya rapih pakai batik,” sarannya.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK mengumumkan kabinet dan nama-nama calon menteri yang akan membantunya menjalankan tugas negara, di Istana. Kabinet tersebut dinamakan Kabinet Kerja.
Para calon menteri yang dipanggil semuanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Cara memakai kemeja itu, sama dengan Jokowi, kemeja putih dibiarkan menjuntai ke bawah.

Tidak hanya presiden, wapres, dan menteri yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Para staf protokoler istana dan biro pers juga mengenakan pakaian yang sama dengan mereka. (red*/jpnn/sminews)

Sourch: JPNN
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu