Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Wednesday, August 13, 2014

sukabumiNewsnet

Pemboman AS di Iraq untuk Kepentingan Perusahaan Minyaknya

Aksi militer Amerika sekarang, setelah membiarkan ISIS --yang seluruhnya didanai, diarahkan, dibuat, dan dipersenjatai oleh Barat, terutama Amerika-- adalah untuk ‘menguasai’ lebih luas lagi wilayah di Irak.
HANYA sehari setelah pengumuman Obama bahwa ia mengesahkan melakukan “serangan terarah” di Iraq untuk memerangi aktivitas Negara Islam (IS/ISIS), Amerika Serikat akhirnya betul-betul menindaklanjuti ancaman mereka.
Setidaknya dua gelombang (sampai saat ini telah lebih empat gelombang, Red) serangan udara dilakukan terhadap berbagai sasaran di Iraq.  Salah satu serangan udara telah menghantam posisi mortir dan konvoi IS dekat Erbil.
Pejuang IS sedang berada dalam jarak setengah jam dari Erbil, ibukota wilayah Kurdi, Iraq. Menurut juru bicara Pentagon, dua FA-18 yang lepas landas dari satu kapal induk di Teluk terlibat dalam serangan udara tersebut.
Obama menyatakan bahwa serangan itu diperlukan untuk mencegah genosida, dan melindungi orang Kristen dan agama minoritas lainnya yang berada dalam bahaya, dan untuk menghentikan langkah maju IS. Serangan udara ini merupakan yang pertama dilakukan di Iraq oleh Amerika Serikat sejak tahun 2011.
Ada yang perlu dicatat terkait pengeboman dan yang mendorong aksi militer Amerika sekarang, setelah membiarkan ISIS –yang seluruhnya didanai, diarahkan, dibuat, dan dipersenjatai oleh Barat, terutama Amerika– adalah untuk ‘menguasai’ lebih luas lagi wilayah di Iraq.
Mengapa bom sekarang dilakukan di Iraq? Dan mengapa bom dilakukan di sekitar Erbil?
Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada fakta sederhana bahwa daerah sekitar Erbil –wilayah Kurdi, Iraq– merupakan “poros perusahaan-perusahaan minyak AS”.
Sesungguhnya Erbil, kota dengan 1,5 juta orang penduduk, merupakan pusat administrasi industri minyak di daerah Kurdi. Seperempat produksi minyak Iraq secara nasional berasal dari wilayah ini.
Cadangan minyak di wilayah ini begitu besar. Kurdi sering mengklaim, jika mereka memutuskan memisahkan dari Iraq dan membangun negara sendiri, negara baru ini akan menjadi produsen minyak terbesar kesembilan di dunia.
John B. Judis menulis untuk New Republic:
Jika Negara Islam yang mengambil alih Erbil, mereka akan membahayakan produksi minyak Iraq, dan selanjutnya membahayakan akses global terhadap minyak. Harga akan segera melonjak,  pada saat Eropa yang membeli minyak dari Iraq masih belum lolos dari resesi global. Harga minyak pun telah meningkat saat menghadapi Negara Islam ke Erbil, dan pada hari Kamis (7/8/2014) perusahaan minyak Amerika Chevron dan Exxon Mobile mulai mengevakuasi personil mereka dari Kurdistan.
Para pedagang minyak yakin intervensi yang dilakukan Amerika bisa menghentikan langkah IS. “Sebenarnya serangan udara yang dilakukan AS lebih memburukan daripada menimbulkan kebaikan untuk minyak, dalam hal menghentikan IS dan memperkuat stabilitas di Iraq selatan dan di Kurdistan,” kata Oliver Jakob, analis minyak Swiss, kepada Reuters.
Ancaman terhadap fasilitas produksi minyak yang ditimbulkan oleh IS juga dilaporkan sejumlah media lain selain New Republic dan Wall Street Journal.
Bukan hanya perusahaan-perusahaan Amerika, kekhawatiran tentang kemampuan melanjutkan produksi juga dialami negara Barat lain. Perusahaan minyak Inggris mulai mengevakuasi personil juga.
Nigel Wilson menulis di International Business Times:
Perusahaan minyak yang terdaftar di London telah menarik pekerja dari Kurdistan, Iraq, saat pasukan keamanan bertempur dengan pejuang dari Negara Islam di wilayah semi-otonom.
Genel Energy mengatakan, pihaknya menarik staf dari ladang yang belum mulai berproduksi, namun menegaskan ladangnya di Taq Taq dan Tawke masih aman.
“Kami tetap yakin akan kemampuan pemerintah daerah Kurdistan mempertahankan integritas wilayah KRI dan infrastruktur minyak,” katanya dalam satu pernyataan.
“Sejalan dengan gerakan oleh operator lain, kita mengambil langkah bijaksana dan mencegah penarikan personil non-esensial dari aset non-produksi kami di wilayah ini,” tambahnya.
Sementara itu, Afren mengatakan, telah menghentikan operasi di ladang Barda Rash.
“Bekerja dengan penasihat keamanan lokal kami, Afren sedang melaksanakan penarikan bertahap personil bidang non-esensial dari ladang Barda Rash,” katanya dalam pernyataan. “Diharapkan kami kembali ke ladang operasi segera setelah keamanan tercapai.”
Dengan informasi ini dalam pikiran kita, menjadi lebih jelas mengapa Amerika Serikat mendanai IS membangun kekuasaan dan kemudian melakukan kampanye pemboman terhadap mereka segera sesudahnya.
Faktanya bahwa al-Qaidah, IS, dan organisasi lainnya, terkait dengan ‘pasukan’ CIA di Arab. Mereka digunakan untuk melemahkan dan menggulingkan pemerintah serta bertindak sebagai ‘momok’ untuk menakuti-nakuti penduduk dan mengorbankan kebebasan sipil dan hak-hak Konstitusi, untuk membangun persepsi keamanan yang rusak.
Tetapi ketika ‘pasukan bentukan” ini mulai membahayakan produksi minyak atau proyek lain dari oligarki dunia, mereka pun dieliminasi dan ancaman mereka dinetralkan.
Jika orang-orang Amerika memahami fakta ini, terkait ‘alat utama’ yang digunakan oleh oligarki dunia untuk meneror penduduk setempat dan sebagian wilayah dunia, sebaiknya menarik tangan mereka dalam urusan ini.*/Tulisan ini dimuat di Global Research.

[Hidayatullah.com]
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu