Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, July 3, 2014

budi acakatam

Pagar Makan Tanaman 2

Ada yang sulit diterima logika, ketika seseorang membiarkan pasangannya untuk melakukan kontak sosial. Bahkan, mereka saling support  saat pasangannya ingin melakukan petualangan seks. Tak hanya itu, mereka bahkan bias melakukan petualangan seks bersama-sama.

Aneh ?. Sebetulnya tak aneh aneh amat. Kata mereka, rasanya seru saat melihat pasangan memperoleh kenikmatan seksual dengan orang lain. Bahkan,  katanya mereka justeru merasakan kenikmatan yang sama saat mendorong pasangan berkontak seksual dengan orang lain.

Meski tak aneh aneh amat, swinger atau bertukar pasangan seksual tentu tak dapat dikatagorikan sebagai seks sehat. Seks adalah kegiatan yang amat pribadi  hingga tak masuk akal kalau harus dilakukan bersama-sam dalam satu tempat dan waktu yang sama.

Adakah makna kesetiaan dalam pasangan pecinta swinger ?. Logika umum sih mengatakan tidak. Tetapi,  tak perlu kaget bila ternyata ada juga batas kesetiaan  diantara pasangan penganut swinger. Ternyata, pasangan dianggap tidak setia  bila melakukan petualangan seksual  sendiri.

Tentu, ini agak mengherankan. Bagi kebanyakan orang, swinger  adalah hal nyeleneh  yang dianggap sakit. Betapa tidak, dalam sudut pandang sosio cultural, seseorang yang telah berkomtmen berkeluarga petualangan seks adalah tindakan yang tidak terhormat.

Maka, ketika suami atau isteri mengajak pasangannya untuk swinger seharusnya dianggap sebagai tindakan yang tak mampu menjaga kehormatan keluarga.  Dalam peribahasa atau idiom, ini bias diibaratkan sebagai pagar makan tanaman.

Bisa jadi, pagar itu terlalu lapar hingga tanaman yang harusnya dijaga malah dimakan. Orang yang lapar kan tak peduli dengan nilai-nilai kehormatan. Atau, . nilai kehormatan itu memang sudah tak diperlukan ?. Atau, kita semua memang sudah edan ??



Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu