Breaking
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Thursday, June 19, 2014

sukabumiNewsnet

Jokowi dan Prabowo sama-sama dinilai tak paham ekonomi nasional

JAKARTA - Kalangan pengusaha ikut mengomentari debat calon presiden yang mengusung tema pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat akhir pekan lalu. Salah satunya Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi.

Dari debat tersebut, Sofjan pesimis kondisi ekonomi Indonesia akan membaik jika dipimpin Prabowo Subianto ataupun Joko Widodo. Sebab, keduanya dinilai tidak menguasai ekonomi Indonesia secara utuh.

Sofjan menyebut kedua capres hanya sibuk membuat visi dan misi serta target kerja. Di balik itu semua, keduanya melupakan masalah anggaran negara. Sofjan mengingatkan, membangun negara membutuhkan uang yang tidak sedikit.

"Kita tahu dua-duanya itu kan secara nasional tidak menguasai. Mereka enggak tahu budget seperti apa, enggak tahu ini dan itu. Itu cuma rencana-rencana mereka, karena kalau sudah di pemerintahan mereka harus ubah karena kalau uangnya enggak ada ya mau bikin apa," ucap Sofjan ketika ditemui di Hotel Le-Meridien, Jakarta, Kamis (19/5).

Sofjan melihat rencana kedua capres cuma membuat pengusaha bingung. Baik Prabowo maupun Jokowi sangat menggebu membangun beragam infrastruktur.

"Menjalankan apa yang sudah ada tapi kalau you enggak tahu apa-apa kan percuma. Jadi you ngomong macam-macam yang aneh-aneh kan kita juga bingung kan," tegasnya.

Saat ini, kondisi ekonomi nasional tengah mengalami perlambatan. Nilai tukar Rupiah tertekan hingga sempat menyentuh level Rp 12.000 per USD. Investor masih wait and see melihat arah ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan presiden baru.

"Nanti setelah tanggal 9 Juli (Pilpres) itu orang akan ada optimisme baru atau sama sekali tidak optimis. Tergantung siapa yang menang dan kerjanya nanti," tutupnya. [MERDEKA.com]
Subscribe Situs Ini via Email :

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu